Sejarah 11 Februari: Hujan Peluru Akhiri Perjuangan Teuku Umar di Tanah Aceh

Dokumentasi yang terselamatkan, tampak Teuku Umar ditengah pasukannya (Dok. Istimewa)

Bosscha.id – 11 Februari 1899, tepat hari ini 121 tahun lalu, Salah satu pahlawan dari Aceh yang gigih melawan Belanda, Teuku Umar wafat karena dihujani peluru oleh tentara Belanda, di tanah kelahirannya, Meulaboh. 

Sejarah mencatat, suami dari Cut Nyak Dhien ini selalu menerapkan taktik perang yang terkadang membingungkan pihak kawan maupun lawan. Teuku Umar sudah terlibat dalam Perang Aceh melawan Belanda sejak usianya baru menginjak 19 tahun. Keberanian dan ketangkasannya membuat pamor Umar muda melejit. Bahkan, pada umur sebelia itu, ia sudah dipercaya menjadi kepala kampung atau keuchik gampong.

Teuku Umar menikahi Cut Nyak Dhien pada 1880. Sebelumnya, Umar sudah punya dua istri, yakni Nyak Sofiah, anak seorang uleebalang yang dinikahinya pada 1874, kemudian menikah lagi dengan Nyak Mahligai, putri salah satu pemimpin rakyat Aceh yang disegani, Panglima Sagi XXV Mukim.

Kendati begitu, Teuku Umar tetap memberanikan diri untuk melamar Cut Nyak Dhien. Pernikahan Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien disambut dengan gembira dan dirayakan dengan upacara yang cukup meriah. Kabar ini pun didengar oleh pemerintah Belanda di Kotaraja, Banda Aceh. Mereka menyadari bahwa pernikahan itu sama halnya dengan penggabungan dua kekuatan besar yang berpotensi membahayakan.

Tak hanya pejuang yang tangkas dalam berperang, Teuku Umar juga merupakan orang yang sangat cerdas, meskipun tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Taktik dan manuvernya kadang tak terduga dan mengejutkan, hingga membuat orang heran sekaligus bingung, termasuk istrinya sendiri, Cut Nyak Dhien.

Tahun 1883, Teuku Umar memutuskan untuk berdamai dengan Belanda. Ia bahkan masuk dinas militer Belanda. Gaya Umar ini bertolak belakang dengan karakter istrinya, Cut Nyak Dhien. Hingga akhir Perang Aceh kelak, Dhien tidak sudi takluk kepada bangsa asing yang telah menginjak-injak tanah kelahirannya. Namun, dengan terpaksa, ia menyetujui langkah Umar kendati terus mengikuti gerak-gerik suaminya itu.

Pada 1884, sebuah kapal milik Inggris terdampar di perairan Aceh. Kapal bernama Nesisero (atau Nisero) beserta kapten dan seluruh awak kapalnya itu disandera oleh penguasa kawasan tersebut, Teuku Imam Muda Raja Teunom. Raja Teunom meminta tebusan dalam jumlah besar jika ingin para tawanan beserta kapalnya dibebaskan.

Gubernur Aceh, Laging Tobias, panik karena persoalan ini telah memperburuk hubungan Belanda dengan Inggris. Maka, Teuku Umar diminta untuk segera mengatasi masalah ini lantaran Belanda enggan membayar tebusan. Umar yang sesama orang Aceh diharapkan bisa melunakkan Teuku Imam Muda Raja Teunom.

Teuku Umar pun berlayar dengan 32 orang anak buahnya dan pasukan Belanda ke Teunom. Saat dalam perjalanan, para prajurit Belanda itu dibunuh, senjata mereka pun dirampas. Belanda juga semakin berpolemik dengan Inggris karena gagal membebaskan para sandera. Inggris terpaksa membayar 100.000 ringgit sebagai tebusan dan Belanda harus mencabut blokade terhadap Pelabuhan Teunom.

Kembalinya Teuku Umar pun disambut gembira sekaligus lega oleh Cut Nyak Dhien dan rakyat Aceh yang dipimpinnya. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 14 Juni 1886, Teuku Umar memimpin pasukannya menyergap kapal Hok Canton yang ternyata juga milik Inggris. Umar menyerbu kapal tersebut karena dicurigai mengangkut senjata yang akan dijual secara ilegal. 

Inggris pun lagi-lagi dibuat marah dan mendesak Belanda untuk menuntaskan masalah ini. Demi  memperbaiki hubungannya dengan Inggris setelah kegagalan sebelumnya, Belanda pun terpaksa bersedia membayar tebusan kepada Teuku Umar sebesar 25 ribu ringgit.

Kekuatan finansial pasukan Aceh pun semakin bertambah. Namun, pada 1893, Umar dan 15 orang panglimanya tiba-tiba menyerahkan diri kepada Belanda. Tak pelak, Cut Nyak Dhien terkejut sekaligus malu bahkan marah dengan kelakuan suaminya itu. Namun, Umar pastinya sudah punya siasat khusus.

Belanda ternyata masih percaya kepada Umar dan menerimanya kembali. Sosok Umar memang amat berharga dan sangat berpengaruh. Terlebih, Umar dan para pengikutnya mengucapkan sumpah setia kepada Belanda. Teuku Umar pun diperintahkan memimpin ratusan prajurit Belanda bersenjata lengkap untuk menumpas perlawanan rakyat Aceh.

Baca Juga:   25 Orang Terpapar COVID-19, Gedung DPRD Kota Bandung Ditutup

Sekali lagi, Umar menunjukkan kepiawaiannya dalam bersiasat. Di depan mata Belanda, ia tampak benar-benar melawan rakyatnya sendiri, namun yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu. Bahkan, lagi-lagi Belanda dipecundangi. Pasukan Umar membawa lari 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg mesiu, 5000 kg timah, uang tunai, dan peralatan perang lainnya, untuk menambah kekuatan rakyat Aceh.

Setelah kejadian tersebut, Teuku Umar tidak kembali ke kubu Belanda, melainkan pulang ke markas rakyat Aceh yang dipimpin Cut Nyak Dhien. Kepulangan Umar membawa tambahan persenjataan dan barang-barang berharga yang dirampas dari kapal Belanda. Ada kemungkinan, orang-orang Umar juga menghabisi lawan-lawannya di kapal itu.

Dua kali tertipu, Belanda sangat geram terhadap Teuku Umar. Bahkan, perkara ini berujung dengan pemecatan Christoffel Deykerhoff, Gubernur Aceh yang menjabat sejak 1892. Penggantinya, Jacobus Augustinus Vetter, memberikan ultimatum untuk menyerahkan kembali semua yang dilarikan Umar. Namun, peringatan itu tidak digubris.

Pasukan Teuku Umar sendiri semakin kuat setelah bergabung dengan pasukan Panglima Polem pada 1898. Dua pahlawan besar dari tanah rencong ini bersama-sama menghadap penguasa Kesultanan Aceh Darussalam, Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903), untuk menyatakan sumpah setia.

Di kubu lawan, Belanda sedang sibuk menyusun rencana untuk menghentikan sepak-terjang Teuku Umar, sekaligus demi membalas dendam. Gubernur Aceh pengganti Vetter yang bertugas sejak 1898, Joannes Benedictus van Heutsz, memutuskan untuk melancarkan serangan besar-besaran demi menghabisi Umar.

Serbuan membabi-buta yang dilancarkan Belanda membuat pasukan Teuku Umar terdesak dan harus masuk keluar hutan dan naik-turun bukit untuk menghindari serangan. Perjuangan kali ini sangat berat dan melelahkan. Banyak anak buah Umar yang meninggal karena keletihan, kelaparan, hingga sakit. Belum lagi medan yang sulit ditambah gangguan dari binatang-binatang liar nan buas.

Lalu, sampailah Teuku Umar dan pasukannya di suatu daerah permukiman. Umar bersyukur karena pasukannya bisa sejenak beristirahat. Namun, perjalanan harus segera dilanjutkan. Tujuannya adalah Meulaboh, kota kelahiran Umar.

Ternyata, ada yang berkhianat. Ada yang melaporkan kepada Belanda saat pasukan Umar beristirahat. Berkat informasi itu, van Heutsz memerintahkan pasukannya untuk mengejar Umar, sementara ia sendiri menunggu di Meulaboh dengan pasukan lainnya.

Bank Indonesia menerbitkan uang kertas pecahan 5000 bergambar Teuku Umar 1986 (Bosscha.id)

Setibanya di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, betapa terkejutnya Umar, di kampung halamannya sendiri, ia disambut tembakan. Pasukannya tidak berkutik karena dari belakang pun menyusul rombongan lawan. 

Dalam situasi terjepit dan sembari dihujani tembakan, Teuku Umar pun tertembak, gugur di tempat. Pang La’ot, ajudan setianya, bersusah-payah menyelamatkan jenazah sang pahlawan untuk dibawanya pulang menghadap Cut Nyak Dhien.

Kepada Pang La’ot, di depan jasad suaminya, Cut Nyak Dhien bersumpah, tidak akan menyerah kepada Belanda demi menuntaskan dendam Teuku Umar dan membebaskan rakyat Aceh dari belenggu penjajahan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password