Sejarah 8 Februari: Dimulainya Ekspedisi Militer Gayo dan Alas, Puncak Dari Pembantaian Belanda Terhadap Aceh

Rakyat Gayo tetap bersikukuh, tidak sudi menyatakan diri takluk dan memilih terus melawan (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Ekspedisi militer Belanda ke Gayo dan Alas di Aceh. Adalah awal dari terjadinya genosida dan sekaligus menjadi fase terakhir dari rangkaian panjang Perang Aceh pada Belanda. Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh kala itu mendadak riuh. Tiga kapal Belanda berukuran besar merapat membawa ratusan orang yang dibawa dari tanah seberang. Tidak kurang dari 10 orang perwira, 13 bintara, serta para ahli geologi dan tenaga medis berkebangsaan Eropa turut dalam rombongan tersebut.

Itu belum termasuk 473 orang mandor, puluhan kuli paksa, penunjuk jalan, serta 208 anggota korps Marechaussee te Voet, atau bisa disebut Marsose, yaitu satuan militer sebagai tanggapan taktis terhadap perlawanan gerilya di Aceh, yang bernaung di bawah Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) aliasTentara Kerajaan Hindia Belanda, tapi korps ini tidak ada ikatan dengan Koninklijke Marechaussee yang ada di Belanda.

Karena sebagian besar anggota Marsose tersebut justru berasal dari orang lokal sendiri. Mereka adalah para pemuda yang dipaksa ikut dan diambil dari pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya bahkan hingga kepulauan Maluku untuk dimanfaatkan dan dijadikan sebagai prajurit kolonial, termasuk dalam menjalankan misi penting di Tanah Rencong ini.

Perang Aceh adalah perang antara Kesultanan Aceh melawan Belanda yang dimulai pada 1873 hingga 1904. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Dan hari itu, 8 Februari 1904, atau tepat hari ini 116 tahun yang lalu, Belanda memulai operasi militer untuk mengakhiri Perang Aceh yang telah berlangsung selama tiga dekade, yang sekaligus menangkap Cut Nyak Dien yang masih melakukan perlawanan dengan cara bergerilya.

Yohannes Benedictus van Heutsz selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, mempunyai ambisi besar untuk menguasai seluruh wilayah Aceh. Maklum, van Heutsz pernah terlibat langsung dalam Perang Aceh, bahkan sempat menjadi gubernur di wilayah tersebut, tetapi selalu gagal membumihanguskan serambi mekah ini.

Dari Banda Aceh, rombongan yang dipimpin oleh van Daalen bertolak ke Lhokseumawe yang merupakan tujuan akhir pelayaran mereka. Berikutnya, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang trem menuju Bireuen yang ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam. Dari Bireuen, ratusan orang itu harus berjalan kaki. Jalur satu-satunya untuk mencapai Gayo memang hanya jalan darat dengan medan pegunungan yang sulit di pedalaman Aceh itu.

Ekspedisi ke Tanah Gayo dan Alas ini sendiri bermula dari laporan hasil riset Snouck Hurgronje yang bertajuk “Het Gajolan en Zijn Bewoners” atau “Tanah Gayo dan Penduduknya” kepada van Heutsz. Sang Gubernur Jenderal pun segera merespons dengan menunjuk Gotfried Coenraad Ernst van Daalen sebagai pemimpin operasi militer ke Aceh. Dipilihnya van Daalen tentunya bukan tanpa alasan. Keluarga van Daalen sudah sangat berpengalaman di Aceh.

Baca Juga:   Sejarah 17 September: Utuy Tatang Sontani, Sastrawan yang Dilupakan Indonesia

Setelah melalui berbagai rintangan, mulai dari kondisi medan yang sulit, kian menipisnya cadangan logistik, hingga serangan-serangan mendadak yang dilancarkan oleh kaum gerilyawan, rombongan van Daalen akhirnya sampai juga di tanah Gayo. Misi penaklukan total pun dimulai.

Setelah tiba, van Daalen langsung mengirimkan surat kepada raja-raja Gayo agar mereka segera menghadap. Van Daalen menghendaki para pemimpin rakyat itu menandatangani “perjanjian takluk” seperti yang telah dilakukan oleh banyak pemimpin rakyat di wilayah Aceh lainnya.

Namun, respons para pemimpin Gayo ternyata di luar dugaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memenuhi undangan itu. Van Daalen yang murka pun kemudian menggerakkan pasukan untuk menyisir satu demi satu perkampungan di wilayah tersebut. Pasukan Belanda menyisir semua daerah itu agar raja-raja dan pemuka masyarakat dipaksa datang. Jika mereka tetap tetap enggan untuk datang, maka moncong senjata yang akan berbicara.

Namun, rakyat Gayo tetap bersikukuh, tidak sudi menyatakan diri takluk dan memilih terus melawan. Semua penghuni desa tanpa kecuali berkumpul di benteng-benteng dari bambu dan semak berduri untuk menahan gempuran musuh.

Sebagian besar dari mereka memakai pakaian serba putih untuk menandakan bahwa inilah Perang Suci melawan kaum kafir. Meskipun dengan senjata seadanya ditambah munajat kepada Sang Pencipta, rakyat Gayo melawan dengan sangat berani dan gagah perkasa sampai titik darah penghabisan.

Mereka berpikir, kapan lagi mendapat kesempatan terbaik ini, lebih baik mati di jalan Allah dan menjadi syuhada, ketimbang menjadi tawanan. Van Daalen sendiri tidak menerapkan taktik khusus, ia hanya memerintahkan agar seluruh musuh dibasmi tanpa ampun. Dalam suatu penaklukan di salah satu desa di Gayo, ratusan warga dibantai, korban tewas terdiri dari 313 pria, 189 wanita, dan 59 anak-anak. Itu baru korban di satu desa, belum di desa-desa Gayo lainnya.

Tak berhenti di Gayo, aksi genosida ala Belanda ini pun terus berlanjut ke wilayah Suku Alas di Aceh Tenggara. Salah satu insiden paling keji terjadi pada 14 Juni 1904 di Kuto Reh. Menurut Asnawi Ali, mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ada 2.922 orang tewas dalam tragedi itu, yakni 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan, termasuk anak-anak dan orang tua.

Fakta yang lebih mengejutkan sebelumnya justru telah diungkap oleh ajudan van Daalen, J.C.J. Kempees. Dalam laporan berjudul “De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden” (1904), Kempees menyebut bahwa ekspedisi militer Belanda di pedalaman Aceh itu setidaknya memakan korban nyawa hingga 4.000 orang.

Masih dalam laporannya itu, Kempees juga menyertakan foto-foto yang menjadi bukti bahwa telah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang dari Suku Gayo maupun Alas. Setiap kali usai penyerbuan, van Daalen memang memerintahkan ajudannya untuk memotret tumpukan-tumpukan mayat dengan para Marsose yang berpose di sekitarnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password