Sejarah 6 Februari: Lahirnya Pramoedya Ananta Toer Sang Legenda Sastra Indonesia

Kegemaran Pram merokok memperparah kondisi kesehatannya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Pramoedya Ananta Toer, adalah salah satu sastrawan besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Tangan dinginnya, kerap menulis novel yang sarat akan unsur sejarah pergolakan pada masa itu. Pram, sapaan karibnya, telah menciptakan banyak tulisan terbaiknya dari dalam jeruji penjara setelah ia dihukum karena dianggap membangkang.

Pram yang pernah bekerja sebagai juru ketik dan korektor di kantor berita Domei (LKBN ANTARA semasa pendudukan Jepang) memantapkan pilihannya untuk menjadi seorang penulis. Karya-karyanya biasanya berupa puisi, cerpen, dan novel, dan lewat karyanya pulalah kemudian yang melambungkan namanya hingga sejajar dengan para sastrawan kelas dunia.

Pada saat Jepang menduduki Indonesia setelah mengalahkan pasukan gabungan Amerika, Inggris, China, dan Belanda di perairan Asia Tenggara. Seperti kebanyakan orang Indonesia lain, Pramoedya sempat menyambut Jepang sebagai pembebas dari jajahan Belanda.

Itulah alasan kenapa Ia kemudian mau bekerja selama perang untuk kantor berita Jepang Domei. Namun ketika banyak orang Indonesia yang diharuskan Jepang untuk melakukan kerja paksa, pandangannya lalu berubah. Ia memutuskan bergabung bersama kelompok gerilya.

Pramoedya kemudian pindah ke Jakarta dan menyunting jurnal pro-kemerdekaan. Pekerjaannya ini membuat Pram dipenjara selama dua tahun sejak 1947-1949. Karya-karya Pram yang tak jarang penuh dengan kritik, adalah penyebab yang menjadikannya sering keluar masuk penjara.

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa orde lama. , selama masa Orde Baru pun Pram merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan (13 Oktober 1965 – Juli 1969, Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru, November – 21 Desember 1979 di Magelang).

Ia pun sempat dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun masih dapat menyusun serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, 4 seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Bumi Manusia karya Pram, diangkat ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo (Bosscha.id)

Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan tidak bersalah secara hukum dan tidak terlibat Gerakan 30 September, tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Selama masa itu ia merampungkan penulisan Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).

Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute’s Soliloquy: A Memoir

Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award pada 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat ‘protes’ ke yayasan Ramon Magsaysay. Beberapa dari tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Taufiq Ismail, Mochtar Lubis, dan HB Jassin.

Baca Juga:   Pelaku Penusukan di Prancis Terkait Kartun Nabi Ditangkap

Mereka tidak setuju, karena Pram yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” pada masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pram.

Dalam berbagai opini-opini di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Mereka menuntut pertanggungjawaban Pram untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran ‘tidak terpuji’ pada ‘masa paling gelap bagi kreativitas’ pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, adalah yang memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

Tetapi beberapa hari kemudian, Taufiq Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut ‘pencabutan’, tetapi mengingatkan ‘siapa Pramoedya itu’. Katanya, banyak orang tidak mengetahui ‘reputasi gelap’ Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan.

Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya pada tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama. Lubis juga mengatakan, HB Jasin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan hal yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari ‘golongan polemik biasa’ yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam aksi yang ‘kelewat jauh’. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala.

Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Tepatnya pada 27 April 2006 kesehatan Pram memburuk.

Ia didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah dijangkitnya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes. Upaya keluarga untuk merujuknya ke rumah sakit pun tidak membawa banyak hasil, malah kondisinya semakin memburuk dan akhirnya ia meninggal pada 30 April 2006 pada usia 81 tahun di Jakarta.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password