Sejarah 5 Februari: Hari Masuknya Injil di Tanah Papua

arl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler, dua misionaris asal Jerman yang menginjakkan kaki di tanah Papua (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – 5 Februari merupakan tanggal yang istimewa bagi masyarakat papua. Karena, menurut catatan sejarah, tanggal 5 februari 1855 adalah hari pertama masuknya Injil ke tanah Papua. Pasalnya hari itu adalah hari pertama dua orang misionaris asal Jerman Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki di pulau Mansinam setelah melakukan ekspedisi pelayaran dan singgah di Batavia, Makasar, dan Ternate.

Dan mansinam sendiri adalah sebuah pulau kecil di Teluk Doreh, yang terletak di wilayah ibukota Papua Barat. Jika menggunakan denkapal nelayan, tempat ini bisa ditempuh sekitar 20 menit dari Pantai Kwawi, Manokwari.

Bahkan tanggal 5 Februari ini dijadikan sebagai hari libur resmi sejak tahun 2008 silam. Hal ini berdasar pada Surat Keputusan Gubernur Provinsi Papua Nomor 140 Tahun 2008. Sejak itu, narasi soal injil masuk tanah Papua senantiasa digadang-gadang sebagai hari masuknya “terang”, “kemajuan”, “peradaban” dan berbagai produk modernitas ke tanah Papua.

Namun berita injil (yang arti harfiahnya adalah kabar baik) seperti apa yang ada dibenak Carl Wilhem Ottouw dan Johann Geissler saat pertama datang ke Papua pada hari ini 165 tahun silam? Lalu, seberapa besar kah pengaruh mereka sampai hari ini dalam pembentukan konstruksi gagasan Injil di Papua?.

Semua ini berawal, dari seorang pendeta Protestan (yang pernah menjadi imam Katolik) berdarah Jerman yang tinggal di Belanda, bernama Johannes Evangelist Gossner. Ia termasuk salah seorang yang memikirkan secara serius tentang proselitisasi atau upaya mengkonversi orang menjadi penganut agama kristen.

Gossner yang dalam buku hariannya mengaku telah bertobat dari Kristen pencerahan kepada Kristen Pietis, bersama rekannya Otto G. Heldring, membuat berbagai kebaktian kebangunan rohani bertajuk The Reveil (Kebangkitan) di berbagai gereja-gereja liberal di Belanda pada Juli 1837.

Gossner dan Heldring mengatakan akhir zaman dan masa kerajaan surga akan datang jika semua tempat di muka bumi sudah diinjilkan, merujuk secara harfiah Injil Matius 24:14 yang mengatakan bahwa “…Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya”, Propaganda ini pun berjalan dengan sukses.

Buktinya, banyak anak-anak muda yang diyakinkan untuk menjalani kehidupan saleh dan bersedia dijadikan misionaris ke berbagai belahan bumi. Di antara sekian banyak pemuda yang diyakinkan untuk menjadi misionaris kristen itu dua diantaranya adalah Carl Wilhem Ottouw dan Johann Geissler.

Lalu, sejarah pun mencatat, seperti halnya berbagai misi proselitisme lainnya yang pernah terjadi. Misi Ottouw dan Geissler ke Papua juga disertai ide-ide sekitar pemberadaban dan penaklukan. Hal ini seperti yang ada dalam catatan harian Ottouw menyebutkan pekerjaan misi yang dimulai dengan studi budaya dan bahasa orang-orang pulau Numfor segera berlanjut menjadi misi “perdagangan”.

Dan pada tahun kedua dan ketiga, setelah pemerintah Hindia Belanda memberikan dukungan dana misi sebesar 50 gulden per bulan, Ottouw dan Geissler kemudian mengajukan proposal kerja sama bisnis dengan Hindia Belanda. (Sebagai perbandingan, satu keping gulden pada masa itu mengandung kurang lebih 9,45 gram perak, sehingga dalam kurs hari ini kurang lebih 50 gulden setara dengan 2.500 USD).

Baca Juga:   Sejarah 22 September: Dimulainya Pertempuran Iran Vs Irak, Perang Terpanjang Abad 20

Isi proposalnya sederhana, mereka meminta pada pemerintah Hindia Belanda agar di daerah Kebar, Tambrau dibuka perkebunan tembakau dengan mempekerjakan “jiwa-jiwa yang hilang”. Dengan dalih, melalui kerja-kerja itu menurut Ottouw, orang-orang ini dapat mengenal Injil. Ottouw dan Geissler juga meminta agar para serdadu Hindia Belanda dan eks-serdadu pemerintahan dari Ambon dapat dikirmkan ke Tambrau untuk menjadi mandor bagi orang Papua.

Namun, ide itu ditolak mentah-mentah oleh Batavia. Lalu, pemerintahan Hindia Belanda menawarkan skema lain. Mereka menawarkan dana hibah sebesar 10.000 gulden asalkan duo misionaris ini mau masuk ke wilayah-wilayah pedalaman Papua barat. Rupanya Batavia juga menyertakan dua orang petani dari Jawa yang menguasai teknik budidaya varietas tembakau untuk menyertai ekspedisi misi Ottouw dan Geisler ini.

Hingga akhirnya mulai bermuculan pendapat, bahwa perjalanan misi injil dan dagang ini sebagai “perjalanan penginjilan yang dingin karena dibayangi oleh menjadi ekspedisi bisnis yang prospektif”. Seorang Naturalis dari Britania raya yang tersohor, Alfred Russel Wallace mengunjungi Ottouw pada 1858. Wallace terkejut karena Ottouw dan Geisler terlihat kaya raya.

Dan selain upaya merintis perkebunan tembakau, mereka juga memperluas bisnisnya menjadi pengepul hewan-hewan eksotis seperti teripang, burung cenderawasih, cangkang kura-kura, bahkan mutiara. Ottouw dan Geisler pun membuka pintu bagi kedatangan berbagai badan misi lain ke tanah Papua.

Secara masif dan terprogram berturut-turut Utrech Society of Mission (Utrechtse Zendings Vereniging) dari negeri Belanda, misalnya, mengirimkan tenaga misionaris profesional ke Papua pada 1863. Tak bisa ditampik, perjalanan misi Injil dan dagang Ottow dan Geissler ini membuka jalan bagi dibangunnya pos pemerintahan Hindia Belanda pada 1898 di Manokwari dan Fakfak. Dengan berdirinya pemerintahan sipil Hindia Belanda kehidupan beragama Kristen di sana menjadi teregulasi di bawah aturan negara.

Dan kini, sisa peninggalan bangunan gereja yang sekarang hanya tinggal pondasi yang dulu pertama dibangun oleh Ottouw-Geissler pun masih dapat dilihat. Terdapat juga sebuah sumur tua yang dibuat Ottouw-Geissler sebagai sumber air bagi seluruh penduduk pulau yang hingga kini masih tetap digunakan.

Daya tarik lainnya adalah Patung Yesus Kristus setinggi 30 meter, yang pembangunannya digagas pemerintah Indonesia sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah peradaban Papua di Mansinam. Patung yang sekilas mirip patung Yesus di Rio de Janeiro, Brazil ini selesai pada tahun 2014 lalu. Dan biasanya Pulau Mansinam ini akan dipadati pengunjung dari seluruh wilayah dan di luar papua untuk memperingati perkabaran injil pada tanggal 5 Februari setiap tahunnya.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password