Waduh! Anjing Hutan di Selatan KBB Membabi Buta Serang Warga dan Puluhan Hewan Ternak

Istimewa

Bosscha.id-Adanya anjing hutan serupa serigala atau lebih dikenal ajag, yang kerap berkeliaran ke pemukiman di Kecamatan Gunung Halu dan Rongga Kabupaten Bandung Barat meresahkan warga. Sebab, Ajag tersebut telah memangsa puluhan ternak warga dan menggigit seorang warga.

Menurut Tokoh Desa Bunijya, Gungun Sujatmika ajag tersebut memiliki postur tubuh yang lebih besar dari pada anjing pada umumnya. Rata-rata, ternak warga yang dimangsa, domba dan kambing yang berada di dalam kandang.

Ia menyebutkan, beberapa desa pernah menjadi sasaran teror kawanan ajag tersebut di antaranya Kampung Warungkupa, Joglo, Legok Bolang, Cicadas di Desa Bunijaya, Kec. Gununghalu. Serangan juga tercatat di Desa Bojong dan Desa Sukananah, Kec. Rongga.

“Namun, sekarang relatif lebih aman karena warga juga aktif ronda. Kalau awal-awal ada serangan ajagan mungkin warga masih syok, jadi ternak yang dimangsanya sampai puluhan. Sekarang berkurang, paling hanya beberapa ekor saja,” kata Gungun saat dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa (4/2/2020).

Gungun mengungkapkan, selama melaksanakan ronda malam, warga juga sekalian melakukan perburuan ajag hingga ke area hutan dan perkebunan yang jaraknya tak jauh dari pemukiman.

“Ada tiga ekor yang berhasil diburu warga. Warnanya hitam dan coklat. Ada satu ekor yang kepalanya dipenggal dan dibawa Dinas Peternakan untuk diteliti,” katanya.

Sementara itu Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat akan melakukan uji laboratorium terhadap anjing hutan yang beberapa bulan terakhir meresahkan warga di dua Kecamatan tersebut.

Baca Juga:   2 Tahun Jejak Pemerintahan Aa Umbara-Hengki

Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dispernakan Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Apriyanti mengatakan, sampel yang diuji bagian kepala ajag agar nantinya akan diketahui penyakit yang diidap.

“Dari sampel bisa diketahui berbahaya atau tidak penyakitnya. Untuk bagian kepala bisa diketahui ada virus rabies atau tidak di otak. Kalau bagian seperti liur dan darah mengidentifikasi segala kemungkinan penyakit lainnya,” terang Wiwin.

Lebih lanjut Wiwin menambahkan, melihat dari karakter anjing hutan tersebut saat memburu ternak, besar kemungkinan bukan anjing hutan biasa, melainkan anjing hutan terlatih yang sering dipakai untuk berburu.

“Kami juga dapat informasi kalau anjing hutan itu sebenarnya anjing berburu yang tertinggal dari pemiliknya. Karena mereka tahu mana hewan yang harus diburu tapi tidak dimakan setelah dimangsa, jadi bukan karena kekurangan makanan,” ujarnya.

Dengan demikian, menurut Wiwin, Dispernakan meminta pada pihak kepolisian untuk bisa membantu mengurangi aktivitas berburu hewan di hutan menggunakan anjing hutan. “Resikonya kalau tertinggal akan seperti ini. Memang aktivitas berburu sudah harus dikurangi,” katanya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password