Sejarah 31 Januari: Hari Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), Ormas Islam Terbesar di Dunia

Tiap tahun peringatan Harlah NU diperingati dua kali, yaitu 16 Rajab serta 31 Januari (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Menurut keterangan beberapa sumber dan data dari berbagai keduataan di berbagai negara, NU tercatat memiliki cabang di 194 Negara. Dengan perkiraan jumlah anggota mencapai 100 juta orang, baik yang masuk struktural maupun tidak

Sejarah hari lahir NU ini terjadi 94 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 31 Januari 1926. Pendirian NU digagas oleh para kiai ternama dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, yang menggelar pertemuan di kediaman K.H. Wahab Chasbullah di Surabaya.

Selain K.H. Wahab Chasbullah, pertemuan para kiai itu juga merupakan prakarsa dari K.H. Hasyim Asy’ari. Yang dibahas pada waktu itu adalah upaya agar Islam tradisional di Indonesia dapat dipertahankan. Maka, dirasa perlu dibentuk sebuah wadah khusus.

Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah kiai yang kelak melahirkan NU ini, telah lebih dulu mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Waton atau Kebangkitan Tanah Air (1916) serta Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar (1918). Pada tahun 1914, Kiai Wahab Chasbullah sebelumnya juga sudah mendirikan kelompok diskusi yang ia namai Taswirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran. Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari embrio-embrio yang telah berdiri sebelumnya tersebut.

Pada awal 1920, Nusantara masih dikuasai penjajah Belanda. Rakyat masih miskin dan bodoh, karena sumber daya ekonomi dikuasai Belanda dan sekolah hanya diperuntukkan bagi kalangan priyayi saja, yang telah direncanakan dan didesain untuk menjadi ambtenaar Belanda. Di desa-desa, rakyat jelata masih tetap berkubang dalam kemiskinan dan kebodohan.

Berangkat dari kenyataan tersebut dan juga semangat mengamalkan ilmu, para kiai, kalangan muslim-tradisional terdidik yang tinggal di desa, mulai mendirikan pesantren untuk mendidik orang-orang desa dari buta aksara dan tuna pengetahuan.

Sebagian besar yang diajarkan adalah nilai-nilai agama, namun pada kenyataannya mereka yang nyantri belajar lebih dari itu. Dengan adanya pesantren, banyak warga desa yang sebelumnya tidak bisa baca tulis menjadi bisa baca tulis, namun dalam bentuk Arab pegon. Tapi dari situlah transformasi pengetahuan, wawasan dan literasi terjadi.

Baca Juga:   Sejarah 28 September: Lika-Liku Perjalanan Kereta Api Indonesia

Dengan semakin banyaknya pesantren, masyarakat yang memeluk Islam juga makin banyak. Namun berbeda dengan kalangan pembaharu puritan yang mendorong pemurnian Islam dari tradisi-tradisi lokal yang dianggap bid’ah, kiai-kiai pesantren menerima dan mengasimilasikan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam. Sehingga warga pribumi Jawa tidak merasa tercerabut dari akarnya ketika memeluk dan mempraktekkan ajaran Islam.

Pertemuan para kiai merupakan prakarsa dari K.H. Hasyim Asy’ari (Bosscha.id)

Sikap terbuka NU atas keberagaman dan perbedaan tidak mengherankan, selain karena dipengaruhi budaya eklektik Nusantara, NU juga dikenal memiliki prinsip tawasut (moderat), tasamuh (toleran) serta tawazun (proporsional) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik sosial, politik maupun keagamaan. Prinsip ini mendasari dan sekaligus memagari NU sehingga tidak jatuh dalam sikap radikal atau ekstrem (tathorruf).

Di NU, perdebatan dan perbedaan menjadi sesuatu yang biasa dan diterima, tak jarang malah dihadapai dengan canda-tawa. Dalam forum-forum rapat atau bahtsul-masail NU, kiai-kiai bisa berdebat dengan sengit, tapi ketika situasi sudah sangat panas maka ada saja yang melempar joke/guyonan yang membuat jamaah forum tertawa bersama.

Nu memang organisasi yang unik. Bahkan peringatan hari lahir NU juga terbilang unik. Karena tiap tahun peringatan Harlah NU diperingati dua kali, yaitu 16 Rajab serta 31 Januari. Peringatan pertama berdasar kalender hijriyah, peringatan kedua berdasar masehi. Berdasar dua penanggalan berbeda itu, umur NU pun jadinya berbeda. Jika berdasar hijriyah umur NU sudah 98 tahun, sedang jika menurut perhitungan masehi umur NU baru 94 tahun.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password