Sejarah 30 Januari: Mahatma Gandhi Tewas Dibunuh

Gandhi menjadi sasaran hukum rasisme di Afrika Selatan (Shutterstock)

Bosscha.id – Tanggal 30 Januari, menjadi hari yang selalu dikenang oleh seluruh bangsa India. Sebab pada hari inilah sosok  pemimpin dan pejuang kemerdekaan, sekaligus tokoh spiritual India yaitu Mohandas Karamchand Gandhi atau Mahatma Gandhi tewas dibunuh oleh kelompok radikal Hindu di New Delhi.

Gandhi kala itu dibunuh oleh Nathuram Godse. Sejak tahun 1934, setidaknya telah terjadi lima upaya, untuk membunuh Gandhi, namun semuanya tidak berhasil. Namun pada tanggal 30 Januari 1948, dalam sebuah upaya mengakhiri konflik agama di India. Gandhi kemudian melakukan puasa dan melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang tengah berkonflik.

Pada saat itulah Mahatma Gandhi ditembak dari jarak dekat saat sedang berjalan menuju panggung di tengah-tengah keramaian warga India yang menantinya untuk memimpin doa. Pelakunya adalah Nathuram Godse, simpatisan kelompok ekstrem Hindu Mahasabha. Godse melancarkan pembunuhan tersebut karena tidak setuju dengan sikap moderat Gandhi, seperti memperjuangkan doktrin anti-kekerasan dan mendukung berpisahnya Pakistan dari India, serta toleransinya dengan Islam.

Lahir pada 2 Oktober 1869, Gandhi merupakan putra dari seorang pejabat India dan seorang ibu yang amat religius. Vaishnava, sang ibu, memperkenalkan Gandhi dengan ajaran Jainisme, sebuah agama yang amat menyarankan pemeluknya untuk tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun.

Gandhi muda pun tumbuh sebagai sosok yang cerdas, dan pada tahun 1888 dia mendapat kesempatan untuk belajar ilmu hukum ke Inggris. Tiga tahun kemudian, Gandhi kembali ke India. Lalu pada tahun 1893 ia mendapatkan mendapatkan kontrak pekerjaan di Afrika Selatan.

Setelah menetap di sana, ia menjadi sasaran hukum rasisme di Afrika Selatan yang membatasi hak-hak buruh India. Gandhi pernah terkenang saat suatu insiden dimana ia dipecat dari kompartemen kereta api kelas satu dan kemudian dilempar dari kereta. Atas peristiwa tersebut ia memutuskan untuk melawan ketidakadilan dan membela hak-hak sebagai seorang India dan seorang laki-laki.

Ketika kontrak kerjanya berakhir, ia tetap tinggal di Afrika Selatan dan mempionirkan kampanye melawan undang-undang yang akan mencabut hak orang-orang India untuk memilih di dalam pemilu. Ia kemudian membentuk India Natal Kongres dan menimbulkan perhatian dunia internasional terhadap penderitaan orang India di Afrika Selatan.

Pada tahun 1906, pemerintahan Transvaal berusaha untuk lebih membatasi hak-hak orang India. Gandhi kemudian mengorganisir kampanye pertamanya, “Satygraha” atau pembangkangan sipil. Setelah serangkaian protes yang berlangsung kurang lebih tujuh tahun ini, dia akhirnya mendapat kesempatan untuk bernegoisasi dengan pemerintah Afrika Selatan.

Lalu, pada tahun 1914, Gandhi pun kembali ke tanah airnya, India dan memilih hidup di luar lingkaran politik. Pada Perang Dunia I ia mendukung Inggris, tetapi kemudian pada tahun 1919, ia mempelopori Satyagraha untuk memprotes rancangan wajib militer di India.

Ratusan ribu masyarakat India menjawab panggilan Gandhi dengan ikut melakukan aksi protes pada tahun 1920. Gandhi kemudian membentuk Kongres Nasional India sebagai cara menghimpun kekuatan politik dan melakukan pemboikotan besar-besaran terhadap produk, jasa, dan lembaga-lembaga Inggris di India.

Kemudian pada tahun 1922 ia membatalkan gerakan Satyagraha, kareana munculnya berbagai aksi kekerasan di India. Satu bulan kemudian, ia ditangkap oleh pemerintahan Inggris dengan tuduhan sebagai penghasut dan kemudian diganjar hukuman penjara.

Baca Juga:   Sejarah 24 September: Hari Tani Nasional, Perjuangan Petani Terlepas dari Sistem Feodal

Setelah dibebaskan dari penjara, pada tahun 1924, ia langsung memimpin protes atas kekerasan yang melibatkan kaum Hindu-Muslim, kemudian kembali ke kancah politik nasional untuk menuntut status dominion untuk India pada tahun 1928 dan pada tahun 1930 ia menggerakan kampanye pemboikotan pembelian garam dari Inggris yang dinilai pajaknya mencekik ekonomi rakyat miskin.

Salah satu aksi Gandhi yang paling terkenal, adalah terjadi pada 1930 ketika dia menentang pajak garam yang diterapkan pemerintah kolonial. Dalam aksinya kali ini, Gandhi dan para pengikutnya berjalan kaki menuju Laut Arab dan di sana mereka membuat garam sendiri. Aksi jalan kaki itu membuat Gandhi dan 60.000 pengikutnya dijebloskan ke penjara tetapi sekali lagi Gandhi mendapatkan perhatian dan dukungan dari dunia internasional.

Hingga pada tahun 1931, Gandhi berkesempatan menghadiri Konferensi Meja Bundar di London sebagai satu-satunya wakil dari Kongres Nasional India. Namun menurutnya, hasil dari konferensi tersebut membuahkan kekecewaan besar baginya.

Dan saat kembali ke India, Gandhi kembali dipenjarakan oleh pemerintahan kolonial Inggris, dan dari dalam penjara ia pun memimpin protes dengan cara mogok makan. Hal ini dilakukan, adalah sebagai bentuk protes terhadap program pengobatan pemerintahan Inggris yang tak tersentuh oleh rakyat miskin atau masyarakat yang menduduki sistem kasta terendah.

Pada tahun 1934, ia meninggalkan Partai Kongres India untuk fokus pada pembangunan ekonomi India. Saat pecahnya Perang Dunia II, Gandhi kembali ke politik nasional dan menyerukan kerja sama dengan Inggris terhadap Perang Dunia II, dengan catatan India akan memperoleh Kemerdekaan.

Inggris kemudian menolak dan berusaha memecah belah india dengan politik adu domba antara kelompok Konservatif Hindu dan Islam. Atas penolakan Inggris tersebut, Gandhi kemudian meluncurkan gerakan “Quit India” pada tahun 1942 yang menyerukan pengusiran total Inggris dari tanah India. Atas gerakan tersebut Gandhi dan para pemimpin nasionalis lainnya pun dipenjarakan hingga tahun 1944.

Pada tahun 1945, pemerintahan baru berkuasa di Inggris, dan negosiasi untuk kemerdekaan India pun dimulai. Gandhi menginginkan India bersatu dalam satu negara, tapi Liga Muslim, yang berhasil menumbuhkan pengaruhnya pada masa perang, tidak setuju terhadap Gandhi.

Setelah melalui negosiasi yang cukup alot, Inggris akhirnya memutuskan untuk membuat dua negara merdeka baru, yaitu India dan Pakistan pada tanggal 15 Agustus 1947. Gandhi merasa amat kecewa dengan terpecahnya India menjadi dua negara. Apalagi setelah pemisahan ini, kekerasan berdarah antara umat Hindu dan Muslim akhirnya pecah.

Melihat fenomena ini, Gnadhi pun tergerak untuk melakukan aksi demi meredam konflik antar umat beragama ini. Dalam upayanya untuk mengakhiri kekerasan antar umat beragama di India, Gandhi pun melakukan serangkaian aksi seperti upacara doa bersama ke tempat-tempat yang sedang terjadi konflik.

Namun oleh karena hal ini pulalah yang menjadi sebab nyawanya melayang, peristiwa tragis itu pun terjadi saat Ia sedang melakukan aksi kunjungan damainya. Gandhi, kemudian dikenal dengan julukan Mahatma atau “Jiwa yang Agung”.

Aksi Gandhi ini kemudian banyak mempengaruhi dunia lewat metode perjuangan tanpa kekerasannya itu. Metode perjuangan Gandhi ini banyak dicontoh para pemimpin gerakan sipil di seluruh dunia termasuk Martin Luther King Jr yang memperjuangkan hak warga kulit hitam Amerika Serikat.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password