Kontroversi! Apa Manfaat dan Keistimewaan Rokok Bagi Negara?

Pendapatan negara dari industri rokok didapat dari sektor pajak dan bea cukai (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Maraknya propaganda tentang bahayanya rokok, berhasil membuat rokok menjadi sebuah produk yang dicap sebagai pembunuh utama manusia selain kanker. Ditambah lagi dengan banyaknya pemberitaan media yang memberitahukan tentang bahaya rokok untuk kesehatan manusia.

Padahal, semua hal itu pasti memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing, tak terkecuali rokok. Tak hanya membawa efek negatif, ternyata rokok pun mempunyai manfaat baik bagi kesehatan, dengan catatan kita harus kenali lebih dulu kondisi tubuh kita sendiri dan tidak melakukannya secara berlebihan.

Namun dalam artikel kali ini, bosscha.id tidak akan membahas tentang manfaat rokok bagi kesehatan tubuh, karena sudah banyak artikel-artikel lain yang telah lebih dulu membahas hal ini. Dalam hal propaganda tentang bahayanya rokok, Pemerintah pun tak jarang ikut andil dalam penggelumbungan isu ini. Namun ini menjadi paradoks, karena tak bisa dipungkuri bahwa industri rokok telah menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar bagi kas negara.

Maka berikut inilah beberapa manfaat dan keistimewaan rokok bagi negara, sudah sejak dahulu kita sama-sama tahu bahwa rokok ini berperan sebagai sektor strategis yang menjadi tulang punggung negara dalam hal pemasukan kas negara. Dan berikut ini beberapa hal yang membuat rokok menjadi istimewa dan bermanfaat bagi negara.

Sektor Rokok Jadi Pemasukan Besar Bagi Negara

Pendapatan negara dari industri rokok didapat dari sektor pajak dan bea cukai. Disana terdapat pungutan negara dari Cukai, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Belum lagi dari hasil ekspor dan bea masuk sektor rokok yang nilainya juga besar.

Dan ketika berbicara pendapatan negara dari sektor rokok, selama bertahun-tahun selalu mengalami kenaikan yang signifikan. Selain karena memang negara menargetkannya naik, juga karena sektor rokok yang paling realistis dan konsisten menyumbang pendapatan negara. Bahkan meskipun regulasinya banyak yang merugikan industri rokok karena alasan kesehatan, namun berbicara angka yang disetor dari sektor rokok tahun ke tahunnya selalu diandalkan negara untuk menyelamatkan kas negara.

Pajak pertambahan nilai berdasarkan golongan Sigaret Kretek Mesin hampir Rp 20 Triliun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif ini sejak tahun 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp145,53 triliun pada 2016. Proporsi penerimaan cukai terhadap total penerimaan negara sebesar 6,31 persen pada 2007. Porsi ini meningkat menjadi 7,10 persen pada 2012 dengan total penerimaan cukai sebesar Rp95,03 triliun. Pada 2015, proporsinya sebesar 9,59 persen dari total penerimaan negara sebesar Rp144,64 triliun.

Mantan Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin pernah mengatakan, industri rokok merupakan salah satu industri penyumbang pendapatan negara terbesar. Bahkan, jika dibandingkan dengan minyak dan gas bumi (migas), devisa negara dari industri rokok ini jauh lebih besar.

Terakhir pada 2016 lalu, pendapatan negara hanya dari cukai rokok saja sebesar Rp 137 Triliun. Dari pajak pertambahan nilai berdasarkan golongan Sigaret Kretek Mesin (SKM) jumlahnya hampir Rp 20 Triliun. Belum lagi jika dihitung dari golongan Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Cerutu, dan Hasil Tembakau lainnya.

Jika pendapatan negara dari tax amnesty  yang dimulai dari Juli 2016 hingga akhir Maret 2017 realisasinya hanya sebesar Rp 127 Triliun, itupun dengan setengah mati pemerintah menggenjot warga negaranya untuk mendaftar tax amnesty. Dibandingkan dengan setoran sektor rokok, pemerintah tak repot-repot untuk mendapatkan setoran yang lebih besar dari hasil tax amnesty. Hanya menargetkan lebih besar, dan ajaibnya sektor rokok dengan konsisten menyelamatkan pendapatan negara. Bahkan cukai rokok telah menyelamatkan defisit keuangan BPJS Kesehatan pada 2017.

Negara Menguasai Sektor Rokok

Industri rokok sebenarnya adalah salah satu sektor yang dikuasai oleh negara. Walaupun bukan dalam artian sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sebenarnya. Tapi jika lebih jeli melihat skema yang berjalan di sektor rokok, maka asumsi bahwa sektor rokok dikuasai oleh negara tidak dapat dipungkiri. Ini bisa terlihat dari komponen pungutan negara terhadap rokok, berdasarkan Kepala Sub Direktorat Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, bahwa dari satu batang rokok saja, 70% nya sudah diberikan kepada negara.

Baca Juga:   Sejarah 28 Maret: Pesawat 'Woyla' Milik Garuda Indonesia dibajak Oleh Kelompok Ekstrimis

Jadi ketika perokok membeli sebatang rokok saja, itu terdapat komponen Cukai, PPN, dan PDRD yang menjadi pendapatan negara. Adapun persentase dari setiap komponen tersebut pada tahun 2017 lalu, yakni  57 % untuk cukai rokok berdasarkan Undang-Undang Cukai Nomor 39 Tahun 2007, PPN sebesar 9,1 persen, dan PDRD sebesar 10 persen.

Dari besarnya persentase negara dalam mengambil keuntungan dari sebatang rokok tersebut, kita dapat berasumsi bahwa sektor rokok sejatinya sudah dikuasai oleh negara. Sehingga meski secara kepemilikan, sektor rokok ini dimiliki oleh swasta, tapi pada prakteknya, penguasaan keuntungannya dikuasai lebih besar oleh negara.

Maka, jika kita lebih cermat menghitung harga sebungkus rokok tanpa pungutan negara yang luar biasa besarnya itu, harga jual rokok sangatlah murah. Harga rokok menjadi mahal itu karena ada pungutan negara yang sangat besar di dalamnya. Jika tidak percaya, cobalah anda buktikan dengan membeli rokok illegal. Bandingkan harganya yang sangat murah dengan rokok legal yang setiap tahunnya tentu mengalami kenaikan.

Maka tak heran jika pemerintah selalu menyebut bahwa sektor rokok adalah sektor strategis bagi negara. Karena dibalik dari setoran sektor rokok yang sangat besar kepada negara, ternyata sektor rokok sejatinya juga dikuasai oleh negara. Maka boleh dibilang bahwa selama ini industri rokok sudah setingkat dengan BUMN yang nilai keuntungannya sebagian besar masuk ke kas negara.

Menyerap Banyak Tenaga Kerja

Siapapun pemerintahannya, sudah pasti mengakui bahwa salah satu penyerapan tenaga kerja  terbesar ada pada sektor rokok. Jumlah tenaga kerja untuk industri rokok secara keseluruhan melibatkan sebanyak 6,1 juta orang. Dan angka ini adalah jumlah kasar, jika mau diteliti lebih lanjut dari hulu ke hilirnya kita pasti akan menemukan angka yang lebih besar lagi jumlahnya. Dari hulu misalnya, jumlah petani tembakau dan cengkeh saja, berdasarkan data Direktorat Jendral Perkebunan, Kementerian Pertanian menunjukan jumlahnya sudah hampir 3 juta Rumah Kepala Keluarga (KK).

Belum lagi jika bicara pada sektor pengolahannya, sirkulasi, pedagangnya, hingga pekerja advertising dan medianya. Menteri Ketenagakerjaan pada era Jokowi dan Jussuf Kalla, yaitu Hanif Dhakiri pun menyebutkan bahwa jumlah pekerja di sektor rokok lebih dari enam juta jiwa. Dari pertanian tembakau sampai industri rokok. Distribusi dan segala macamnya. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) juga memperkirakan jumlah pekerja di sektor rokok sekitar 6,1 juta orang pekerja di dalamnya.

Sektor Industri rokok atau disebut juga Industri Hasil Tembakau (IHT) ini telah membentuk rangkaian lapisan pekerja, mulai dari perkebunan dan pengolahan tembakau sampai industri rokok. Sebagian besar pekerja terserap dalam industri kecil yang masih menggunakan tangan atau sigaret kretek tangan (SKT). Lapisan ini masih ditopang dengan pekerja dagang untuk memasarkan tembakau dan rokok baik untuk pasar domestik (domestic demand) maupun pasar ekspor.

Maka tak heran jika pemerintah selalu menegaskan apabila sektor rokok ini mati, maka akan berdampak signifikan kepada ketenagakerjaan di Indonesia. Dan penyerapan tenaga kerja yang besar inilah yang selalu menjadi pertimbangan pemerintah dalam setiap pembahasan terkait sektor rokok.

Jika melihat alasan di atas, maka tak berlebihan rasanya jika sektor industri rokok menjadi sangat strategis dan istimewa bagi negara. Coba kita bayangkan jika sektor rokok ini mati, yang diakibatkan oleh kampanye pengendalian tembakau yang semakin hari makin marak saja, maka sudah pasti tiga keistimewaan rokok bagi negara itu akan hilang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password