Sejarah 29 Januari: Wafatnya Jendral Sudirman, Panglima Besar TNI Pertama Indonesia

Jasad Sudirman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Siapa yang tak kenal dengan sosok pahlawan nasional satu ini. Jendral Sudirman, adalah Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama yang memiliki andil sangat besar terhadap perjuangan revolusi Indonesia.

Sebagai seorang panglima besar TNI, ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia. Sudirman lahir di Purbalingga, dengan latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja. Kemudian, Sudirman diadopsi oleh pamannya yang merupakan seorang priyayi.

Sudirman pun tumbuh menjadi seorang siswa yang rajin, ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam MUhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Sudirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh banyak orang karena ketaatannya pada agama.

Pada tahun 1936, ia mulai mengabdikan dirinya dengan bekerja sebagai seorang guru, hingga kemudian ia menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah lainnya, dan pernah menjabat sebagai pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937.

Saat Jepang berhasil menduduki Hindia Belanda pada 1942, Sudirman pun tetap mengajar. Lalu, pada tahun 1944, ia mulai bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori oleh Jepang. Di Peta ia menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Sudirman bersama rekannya sesama prajurit sempat melakukan pemberontakan, yang kemudian membuatnya diasingkan ke Bogor.

Pasca Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Sudirman pun berhasil melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Sukarno. Ia pun kemudian ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas.

Setelah itu, kemudian seluruh pasukan dibawah komando Sudirman lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Urip Sumohardjo, dan Sudirman bertanggung jawab atas divisi tersebut.

Lalu, pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta, Sudirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Urip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, hanya menjadi kepala staff.

Baca Juga:   Sejarah 19 September: Rapat Raksasa Ikada dan Pidato Bung Karno yang Membakar Semangat

Sembari menunggu pengangkatan, Sudirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Sudirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember 1945.

Pada 19 Desember 1948, Belanda melakukan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Kala itu Jendral Sudirman sedang sakit, keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya hanya berfungsi 50%. Melihat keadaan itu presiden Sukarno memintanya untuk tetap di dalam kota dan melakukan perawatan. Namun anjuran presiden itu tidak digubris olehnya, karena merasa bertanggung jawab sebagai pemimpin pasukan.

Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Sudirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengkomandokan kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto.

Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Sukarno. Pasalnya penyakit TBC yang diidapnya kambuh, lalu ia pensiun dan pindah ke Magelang. Dan akhirnya, Sudirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 29 Januari 1950.

Kemudian Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Wafatnya Sudirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakamannya.

Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password