Sejarah 28 Januari: Hari Lahirnya ‘Si Jendral Cerdas’ T.B Simatupang

19 Desember 1948. T.B Simatupang meninggal dunia tepat di perayaan tahun baru 1990 dalam usia 70 tahun (Dok. Istimewa)

Bosscha.id – Nama T.B Simatupang tentu tidak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya bagi warga Ibu Kota yang tinggal di wilayah pinggiran Jakarta Selatan. Pasalnya nama itu identik dengan nama jalan yang membentang luas dari selatan hingga timur Jakarta.

Jalan yang jadi penghubung antara wilayah Lebak Bulus, Cilandak hingga ke Kramatjati ini juga menjadi salah satu sentra bisnis dan perkantoran. Beberapa perusahaan multi-nasional, rumah sakit, pusat pendidikan, bisnis dan perdagangan berada di jalan tersebut. Tapi, mungkin masih banyak  masyarakat yang belum mengetahui siapa sebenarnya sosok T.B Simatupang ini, sampai-sampai namanya diabadikan sebagai nama jalan.

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih akrab dengan nama T.B. Simatupang, adalah sosok pahlawan nasional yang dikenal sebagai pribadi yang pemberani, cerdas, dan kritis. Jendral cerdas ini lahir pada tanggal 28 Januari 1920, atau tepat 100 tahun silam.

Sejarah mencatat, T.B. Simatupang adalah penerus Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). T.B Simatupang menjadi wakil Jenderal Soedirman selama masa revolusi fisik hingga pengakuan kedaulatan. Ia kemudian menempati posisi tertinggi di TNI namun dipensiunkan dari militer dalam usia yang masih cukup muda.

Saat masih muda sebetulnya ia ingin menjadi seorang dokter. Dia berangan-angan hendak menjadi tenaga medis di rumah sakit gereja. Tapi di tengah jalan, cita-citanya berubah. Pada masa perang, lowongan penerimaan taruna di Koninklijke Militaire Academie (KMA) alias Akademi Militer Kerajaan Belanda dibuka di Bandung. Peluang orang Indonesia untuk diterima terbuka lebar di sana. Lulusannya akan menjadi perwira Koninklijke Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).

Lalu, Simatupang alias Sim pun pergi mendaftar ke sana. Setelah melewati rangkaian seleksi selama sembilan bulan, Sim diterima untuk belajar di akademi militer pertama di Indonesia itu dan lulus sebagai perwira pada 1942. Beberapa orang Indonesia lain juga ada di sana. Seperti Rahmat Kartakusumah, Abdul Haris Nasution, juga Alex Kawilarang. Sebagian besar dari mereka  masuk infanteri.

Pasca Indonesia merdeka pada 1945, Sim pun bergabung dengan Tentara Republik Indonesia dengan pangkat kapten. Dia menjabat Asisten Kepala Bagian Organisasi Markas Tentara. Bapak empat anak ini dikenal sebagai konseptor peletak dasar-dasar militer. Pemikirannya yang cerdas dan brilian membuatnya terus naik pangkat. Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang RI (Rera) yang dilakukan Mohammad Hatta, justru ikut menaikkan kariernya.

Berbeda dengan kawan seangkatannya, seperti Nasution yang menjadi Panglima Divisi di Jawa Barat dan Alex Kawilarang yang juga memimpin pasukan di Sumatera, Simatupang hanya punya beberapa staf di markas besar, bukan pasukan tempur.

Simatupang memang tidak dikenal sebagai panglima atau komandan pasukan. Dia lebih dikenal sebagai perwira yang cerdas di Markas Besar. Simatupang yang hampir tiga tahun bertugas di Markas Besar, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Perang.

Dia mengikuti perkembangan perundingan diplomasi yang merugikan Indonesia selama revolusi. Simatupang mengaku, dirinya ikut memberi masukan di bidang militer dalam perundingan-perundingan. Tahun 1949, Ia masuk pada komisi yang diketuai dr. Johannes Leimena dengan jabatan wakil ketua komisi dalam kapasitasnya sebagai ahli militer.

Baca Juga:   Sejarah 21 September: Liam Gallagher, Rockstar ‘Bermulut Besar’ yang Menolak Pudar

Puncak karier militernya adalah saat Ia menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). Saat itu usianya baru 29 tahun. Sim diangkat menjadi KSAP menggantikan Jenderal Soedirman yang wafat pada Januari 1950. Pada masa awal menjabat KSAP, dia harus berhadapan dengan beberapa gerakan pemberontak dan separatis yang melakukan kekacauan.

Seperti Angkatan Perang Ratu Adil di bawah Kapten Westerling yang menembaki anggota TNI saat memasuki Bandung. Terdapat kurang lebih 79 anggota TNI tewas dalam peristiwa tersebut. Selain itu, beberapa gerakan pemberontak lainnya, seperti gerakan Andi Aziz di Makassar, Republik Maluku Selatan, dan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) juga harus dihadapi oleh T.B Simatupang.

Ketika menjadi KSAP, Simatupang juga menjadi Ketua Gabungan Kepala-kepala Staf (GKS). Mula-mula pangkatnya kolonel, namun belakangan menjadi mayor jenderal. Selama menjadi KSAP, menurutnya, “Permasalahan yang paling mendasar yang dihadapi GKS ialah menempatkan angkatan bersenjata atau TNI yang telah menjadi besar selama perang rakyat sebaik-baiknya di tengah perkembangan negara.”

Permasalahan militer yang ada pada masa Simatupang adalah perkara peleburan bekas KNIL ke dalam TNI, pengurangan anggota militer dari unsur bekas laskar perjuangan, dan munculnya pergolakan daerah. Belum lagi penolakan perwira-perwira TNI dari non-KNIL yang tidak mau diberi ilmu oleh instruktur-instruktur Belanda selepas pengakuan kedaulatan. Pada tahun 1950-an, memang dikenal sebagai tahun penuh masalah bagi TNI.

Posisi KSAP disandangnya hingga tahun 1954, ketika umurnya baru 34—usia yang masih terlalu muda dan cepat untuk pensiun sebagai jenderal. Setelahnya, dia menjadi penasihat Menteri Pertahanan. Lalu, setelah berhenti dari kegiatannya di bidang militer dan pemerintahan, Simatupang dikenal aktif di dunia gereja dan pekabaran injil. Jenderal cerdas ini pernah menjadi Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Selain itu, ia juga dikenal sebagai penulis. Salah satu karyanya adalah Laporan Dari Banaran (1961), sebuah catatan perjalanan gerilya setelah Agresi Militer Belanda II yang terjadi pada 19 Desember 1948. Tahi Bonar Simatupang lalu meninggal dunia tepat di perayaan tahun baru 1990 dalam usia 70 tahun. Dan hingga kini namanya dikenang sebagai seorang tentara intelektual dan jenderal cerda.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password