Benarkah Johny Indo ‘Si Robin Hood’ Menemukan Tuhan Dibalik Jerui Besi?

Usai ia memeluk agama Islam, Johny Indo memiliki nama Islam yaitu Umar Billah (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Kabar duka kembali menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Aktor Jonhy Indo, tutup usia. Johny Indo meninggal dunia pada Minggu 26 Januari 2020, sekira pukul 07:45 WIB. Kabar tersebut pertama kali diketahui dari pesan yang beredar di kalangan wartawan. Pria yang memiliki nama lengkap Johanes Hubertus Eijkenboom ini merupakan aktor yang terkenal pada era 1980-an.

Kabar meninggalnya Jhony dibenarkan oleh Santa yang merupakan cucunya. Dari penuturan Santa, Johny Indo memang sudah sempat sakit dan menjalani operasi hernia. Selain hernia Ia pun dikabarkan jatuh. Itu terjadi sebulan pasca menjalani operasi, setelah itu Johny tidak bisa bangun, dan kondisinya mulai tidak stabil. Hingga akhirnya meninggal apda minggu 26 januari kemarin.

Sebelum terjun ke dunia film sebagai aktor, Johny Indo ini adalah seorang perampok yang disegani dan ditakuti seantero Jakarta. Bersama komplotannya, Pachinko, ia merampok beberapa toko emas yang tersebar di Ibu Kota.

Namun sebelum dikenal sebagai perampok toko emas kelas berat, pria kelahiran Garut, Jawa Barat ini juga pernah menjadi seorang foto model dan bintang iklan. Dengan perawakan yang tinggi serta wajah tampan berkulit putih bersih, ia kerap ditawari sebagai bintang iklan, seperti iklan obat batuk Bronthicum hingga rokok Ardath.

Selain itu ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri geng motor yang bernama Pachinko yang berarti singkatan dari Pasukan China Kota. Nama tersebut diilhami dari fakta bahwa lebih dari separuh anggota gengnya yang berjumlah 13 orang merupakan etnis keturunan tionghoa.

Petualangan kelam hidup Johny bermula ketika ia mulai meniti “karier” sebagai perampok toko emas pada tahun 1977. Tak seperti para perampok kebanyakan yang mendasari perbuatannya hanya dengan keinginan untuk mendapat banyak uang atau berfoya-foya, tindakan Johny justru bermula dari keresahannya pada ketimpangan jurang antara si kaya dan si miskin kala itu.

Kemudian terbersitlah niat untuk merampok harta dari orang-orang kaya untuk kemudian ia bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia pun mulai menyusun rencana untuk merampok sebuah toko emas. Dan memanggil tiga kawan kepercayaannya untuk menjalankan aksi ini. Setelah bersedia, Johny kemudian mulai mencari senjata untuk memuluskan aksinya. Johny sendiri mengakui, ia cukup mudah mendapatkan senjata karena saat itu bapaknya adalah seorang tentara.

Berangkatlah mereka pada tanggal 20 September. Setelah merampas sebuah sedan, mereka pun bertolak ke sebuah toko emas di daerah Tanah Abang, Jakarta, yang menjadi target pertamanya. Bersama dengan ketiga kawannya, ia pun menjalankan aksinya itu.

Tak banyak hadangan bagi Johny, saat pertama kali menjalankan aksi merampoknya. Mungkin karena para pegawai toko begitu ketakutan ditodong senjata api atau mungkin saat itu belum ada sistem keamanan yang canggih. Dari hasil perampokan tersebut, Johny dan kawanannya berhasil mengantongi sekitar 2 kg emas.

Selama aksi perampokannya, ia bersama kawanannya juga berhasil merampok toko emas di Kawasan Roxy (4 kg), toko emas Ibuko dan Sinar Jaya Sawah Besar (5,5 kg), toko emas Garuda (1,5 kg), serta toko emas Sinar Harapan (3 kg) yang semuanya berada di kawasan Jakarta.

Jika dihitung semua, total emas yang diperoleh dari hasil “proyek” kecil mereka, Johny telah mengumpulkan kurang lebih 129 kg emas. Hebatnya, ia membagikan semua hasil perampokannya tersebut kepada warga miskin di berbagai daerah di Jakarta.

Dalam menjalankan setiap aksinya, ia berprinsip untuk tak pernah melukai korbannya, terutama pegawai atau pelayan toko. Cukup menakut-nakuti mereka dengan letusan senjata api. Ia juga tak mau membabat habis semua emas atau harta yang ada. Seumpama di toko tersebut ada total emas seberat 5 kg, ia ambil 2 atau 3 kg, dan membiarkan sisanya. Oleh karena itu pula, tak heran jika selama merampok Johny tak pernah merenggut nyawa orang lain.

Baca Juga:   Sejarah 17 September: Utuy Tatang Sontani, Sastrawan yang Dilupakan Indonesia

‘Si Robin Hood’ Diringkus Polisi

Sepandai-pandainya tupat melompat, pasti suatu saat akan jatuh juga. Johny pun akhirnya berhasil diringkus di Desa Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 26 April 1979. Dia tak berkutik ketika dua orang polisi meringkusnya, tanpa perlawanan.

Sebuah sel kecil di Polda Metro Jaya, Jakarta, jadi dunia baru baginya. Di tempat itulah dia ditahan, sembari menunggu vonis pengadilan. Dan di sel itu pula lah ia kerap berduel dengan tahanan lain, yang akhirnya menjadikan ia sebagai pimpinan bagi para penjahat lain di tahanan.

Vonis pengadilan pun dijatuhkan pada tanggal 17 Desember 1979. Atas semua perbuatannya, Johny Indo dihukum 14 tahun penjara. Setelah keluar vonis dari pengadilan, ia pun dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang.

Di cipinang, Johny sering sering dibesuk oleh keluarganya. Anak-anaknya pun kerap ikut membesuk Johny, mereka selalu merasa senang tiap kali bertemu ayahnya. Tak jarang mereka sering meminta duduk dipangkuan ayahnya. Dalam pangkuan seorang bapak, anak Johny pernah membisiki ayahnya agar jangan pernah sungkan untuk mohon ampun kepada Tuhan Yesus.

Suatu hari, dia pernah jatuh sakit, dan tak kunjung sembuh. Hingga pikirannya kembali teringat kembali terhadap bisikan anaknya. Dalam catatan kartu tanda penduduk agama Johny adalah Katolik. Tapi, ia tidak pernah sekali pun masuk gereja, kecuali tiga hari sebelum komplotannya digulung.

Akhirnya hati Johny pun tergerak untuk menyempatkan diri berdoa. Ajaibnya, keesokan harinya dia pun sembuh. Sejak kejadian itulah, ia menyatakan tekadnya untuk lebih serius lagi dalam mempelajari agama, yang selama ini hanya berlaku sebagai status di KTP nya saja.

Lalu, ketika mengetahui kabar bahwa ia akan dipindahan dari LP Cipinang ke LP Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah, Johny pun merasa sedih. Pasalnya jarak antara Jakarta-Cilacap yang jauh akan membuat keluarganya akan jarang membesuknya. Karena tentu saja biaya besuk ke sana mahal. Tapi istrinya selalu menguatkannya dengan mengatakan, “Pasrah saja pada Tuhan.”

Di Nusakambangan, Johny kian rajin membaca alkitab. Lalu, pernah ada seorang napi iseng bertanya tentang kegunaan kitab suci di penjara. Terutama untuk menahan hasrat seksual lelaki.

“Susah memang, Bung! Tapi ya banyak baca kitab suci. Bung sendiri bagaimana?” balas Johny.

“Onani, habis mau apa,” jawab napi itu

“Kok boleh begitu? Sedangkan anda sendiri guru agama?” Tanya Johny.

“Terpaksa, Bung Johny! Lagipula itu dosa kecil! Saya tidak percaya membaca kitab suci dapat meredam kebutuhan biologis kita,” tegas napi itu.

Johny abaikan ejekan napi itu. Berhari-hari Johny tetap membaca alkitab. Namun, lama-lama dia pun tak tahan dengan keadaan penjara. Dia pun kabur dari penjara cukup lama. Tapi polisi lekas menangkapnya lagi. Dia meringkuk lagi di penjara. Dan di situ dia menemukan Tuhannya untuk kali kedua. Dia kembali berdoa, dia kembali bersimpuh.

Hasil proyek Pachinko dibagikan kepada warga miskin kota (Bosscha.id)

Johny Memeluk Islam

Akhirnya, waktu yang dinanti pun tiba. Johny Indo keluar dari penjara pada 27 Februari 1988. Seiring berjalannya waktu di luar penjara, dia kembali menemukan Tuhan. Tapi kali ini dia menyebut Tuhannya Allah SWT. Dia masuk agama Islam pada 1992.

Usai ia memeluk agama Islam, Ia memiliki nama Islam yaitu Umar Billah, ia bercerita bahwa ia pernah ditawari naik haji oleh seorang pangeran Arab keturunan Raja Fahd. Ia menuturkan bahwa saat ia ia sedang membersihkan sampah di selokan kampung yang sudah menumpuk dan berbau busuk. Kemudian lewatlah pangeran tersebut (yang tak disebutkan namanya) karena heran ada seorang pria bertato yang memunguti sampah.

Sempat terjadi perdebatan singkat perihal tato johny saat itu, sebelum akhirnya sang pangeran pergi. Namun, usai pertemuan tersebut, sang pangeran Arab justru kembali dan langsung menjemput Johny dengan jet pribadi dan memberangkat haji dengan layanan super-VVIP.

Kisah Johny Indo ini jadi bukti bahwa setiap orang pasti bisa menemukan jalan kebaikan, meski di masa lalunya ia pernah berbuat hal-hal buruk. ‘Si Robin Hood’ kini sudah berpulang, namun kisahnya akan selalu dikenang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password