Sejarah 25 Januari: Wafatnya Mayor Daan Mogot Dalam Pertempuran Lengkong

Nama Daan Mogot saat ini identik dengan kawasan perkantoran (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Nama jalan Daan Mogot tentu sudah tak asing lagi di telinga kita, jalan yang membentang mulus dan jadi penghubung antara Jakarta Barat dan Tangerang ini merupakan salah satu jalan terpenting di Jakbar.

Sejumlah perkantoran, show room hingga stasiun TV pun berada di sana. Bahkan puluhan ribu orang hilir mudik melintasi jalan ini setiap harinya. Jalan sepanjang 27,5 km ini melintasi setidaknya 13 kelurahan. Mulai dari Sukarasa, Tanah Tinggi, Batuceper, Kebon Besar, Kalideres, Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Kedaung Kali Angke, Wijaya Kusuma, Kedoya Utara, Duri Kepa, Jelambar, Tanjung Duren Utara.

Namun sayang, sepertinya masih sedikit orang yang tahu siapa dan bagaimanakah sepak terjang Mayor Daan Mogot, sehingga namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan ini. Elias Daniel Mogot, atau Daan Mogot, jelas bukan asli Tangerang atau Jakarta Barat.

Ada dua orang Manado yang terkenal dengan nama Daan Mogot, yakni Daan Mogot yang terlibat dalam Permesta dan satu lagi Daan Mogot yang wafat di Lengkong, tanggerang pada awal Revolusi Indonesia. Daan Mogot kedua inilah yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan.

Daan Mogot lahir di Manado pada tanggal 28 Desember 1928, dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang (Mien) dengan nama Elias Daniel Mogot. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut).

Saat berumur 11 tahun, pada tahun 1939, ia dan keluarganya hijrah dari Manado ke Batavia (Jakarta sekarang) dan menempati rumah di jalan yang sekarang bernama Jalan Cut Meutiah, Jakarta Pusat. Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang.

Pada saat perang kemerdekaan, nama Mayor Daan Mogot sangat populer di Jakarta dan Tangerang. Mungkin Daan Mogot juga layak dicatat sebagai mayor termuda dalam sejarah. Pasalnya saat menjadi mayor, pemuda berparas tampan ini masih berusia 16 tahun.

Bukan tanpa alasan mengapa Daan Mogot yang baru berusia 16 tahun ini diberi pangkat Mayor dan memimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jakarta Barat. Daan Mogot merupakan angkatan pertama Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer buatan Jepang.

Pada saat mendaftar PETA, usianya kala itu baru 14 tahun. Padahal seharusnya batas usia minimal untuk masuk PETA kala itu adalah 18 tahun, tapi entah kenapa Daan Mogot bisa diterima. Dia kemudian menjadi salah satu yang terbaik hingga akhirnya diangkat menjadi pelatih PETA di Bali. Selain itu, pemuda asal Manado ini juga dilatih menjadi pasukan gerilya elit oleh Jepang.

Maka tak aneh, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dia langsung diberi kedudukan itu walau usianya masih sangat muda. Daan Mogot pun masuk kelompok pilihan bersama Zulkifli Lubis (kelak Wakasad dan bapak intelijen Indonesia), dan Kemal Idris (kelak Letjen TNI). Mereka dilatih perang gerilya di bawah Kapten Yanagawa, diajari bertempur secara efektif dan dibekali pengetahuan untuk menggunakan aneka senjata terbaru saat itu.

Tak hanya itu, Daan Mogot pun mempunyai visi yang cerdas soal militer. Saat usianya menginjak 17 tahun, dia dan kawan-kawannya mendirikan sekolah calon perwira Akademi Militer Tangerang. Lalu Daan Mogot diangkat menjadi direktur pertama di Akademi Militer Tangerang itu.

Hingga awal tahun 1946, Resimen Tangerang punya masalah serius karena adanya serdadu-serdadu Jepang yang teteap bersikukuh tak mau menyerahkan senjatanya kepada pihak republik, padahal mereka sudah kalah. Mereka beralasan, bahwa serdadu-serdadu Jepang itu hanya mau menyerah pada militer Inggris.

Daan Mogot pun ditugasi untuk melakukan pendekatan kepada Kapten Abe dari pasukan Jepang yang bertahan di Lengkong, yang tak koperatif itu. Dan usaha diplomasi damai itu pun gagal. Sementara beredar isu bahwa tentara Belanda yang berada di Parung berencana akan menyerang Tangerang. Dengan maksud akan menyerang markas serdadu Jepang dan akan merebut senjatanya.

Mayor Daan Mogot dan Mayor Wibowo pun putar akal. Mereka hendak menipu serdadu-serdadu Jepang itu dengan membawa 8 serdadu militer Inggris asal India yang sudah berpihak kepada militer Republik, dan juga puluhan Taruna Akademi Militer Tangerang. Seolah-olah terlihat sebagai operasi gabungan antara pihak Inggris dengan Indonesia untuk melucuti tentara Jepang.

lalu pada tanggal 25 Januari 1946 atau tepat hari ini 74 tahun yang lalu, Daan Mogot bersama pasukannya berangkat untuk melucuti senjata pasukan Jepang di Lengkong, Tangerang. Kala itu Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Daan Mogot dan rekan-rekannya berpikir lebih baik senjata Jepang jatuh ke tangan tentara Indonesia daripada pasukan Belanda yang akan segera kembali di bawah sekutu.

Mayor Daan Mogot berangkat bersama 70 taruna Akademi Militer Tangerang ke kawasan Lengkong, Serpong, Tangerang. Di sana dia menemui Kapten Abe, komandan tentara Jepang sementara pasukannya berjaga di luar.

Perundingan berlangsung damai. Kapten Abe meminta izin menghubungi atasannya dulu di Jakarta sebelum menyerahkan senjata. Tetapi, tanpa sepengetahuan Daan Mogot ternyata pasukan taruna di luar sudah mulai melucuti senjata tentara Jepang. Beberapa tentara Jepang juga sukarela menyerahkan senjatanya.

Tiba-tiba entah darimana, terdengar suara tembakan. Situasi pun langsung menjadi kacau balau. Tentara Jepang segera berlari mengambil kembali senjatanya. Penjaga di pos senapan mesin pun langsung memberondong para taruna.

Pertempuran tak seimbang pun berlangsung. Mayor Daan Mogot berlari keluar dan berusaha menghentikan tembak menembak. Namun sayang, usahanya tak berhasil, dan akhirnya dia tewas setelah diberondong tentara Jepang.

Daan Mogot, Soebianto, Soetopo beserta 33 taruna jadi korban dalam pertempuran tersebut. Satu dari 33 taruna itu adalah Sujono, adik Letnan Soebianto. Sujono dan Soebianto adalah adik dari Soemitro Djojohadikoesoemo dan anak dari pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), Margono Djojohadikoesoemo.

Setelah ada gencatan senjata para taruna dan perwira Republik yang tewas itu kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Taruna. Daan mogot gugur sebagai ksatria saat masih berusia 17 tahun. Untuk mengenang perjuangannya, kemudian dibangunlah sebuah monumen Lengkong yang terletak di BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password