Asal Mula Tradisi Memberi Angpao Saat Imlek

Angpau tidak hanya diberikan saat perayaan tahun baru Imlek saja, angpau juga bisa diberikan saat pesta pernikahan, ulang tahun, atau pada hal-hal yang bersifat suka cita (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Perayaan Imlek tahun ini jatuh pada hari ini Sabtu, 25 Januari 2020. Perayaan tahun baru Cina ini selalu disambut meriah, baik bagi umat yang merayakan atau juga masyarakat yang lain. Selain banyaknya promo dan diskon di berbagai pusat perbelanjaan pada setiap momen hari besar seperti imlek saat ini.

Selain itu, biasanya sejumlah wihara pun punya tradisi membagikan angpau kepada warga di sekitarnya. Wihara-wihara besar biasanya selalu ramai dikunjungi ratusan warga dari berbagai wilayah. Mereka rela mengantre angpau di depan wihara, bahkan sejak pukul 5 pagi. Warga mengaku bisa mengumpulkan uang hingga Rp60 ribu dari derma para jamaah. Memberikan uang dalam amplop atau yang disebut angpau ini memang telah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia, khususnya ketika acara-acara besar.

Namun angpau tidak hanya diberikan saat perayaan tahun baru Imlek saja, angpau juga bisa diberikan saat pesta pernikahan, ulang tahun, atau pada hal-hal yang bersifat suka cita. Mengapa? Karena angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik.

Yang sudah boleh memberi angpau adalah mereka yang sudah menikah, diberikan kepada keponakan, saudara yang lebih muda. Jumlah uangnya haruslah genap karena kalau ganjil itu berarti angpau untuk kematian. Dan untuk angkanya, jika dijumlahkan, haruslah lebih dari 4 atau kurang dari 4, dan sama sekali tidak boleh pas 4, karena 4 dalam bahasa Cina terdengar seperti kata ‘mati’.

Di Cina sendiri, angpau ditemukan pertama kali pada masa Dinasti Han. Pada masa itu sebagian besar angpau menggunakan uang tembaga yang memiliki lubang bundar dan lubang segi empat di bagian tengah. Biasanya pada bagian depan, terdapat kalimat keberuntungan “fu shan shou hai” yang artinya semoga berbahagia dan panjang usia, ada juga yang bertuliskan “qiang shen jian ti” yang artinya semoga sehat selalu.

Sedangkan di bagian belakang terdapat lambang keberuntungan seperti harimau, kura-kura, dan sebagainya. Warna merah sendiri melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Cina, yang menunjukkan kegembiraan dan harapan nasib baik bagi penerimanya.

Dalam tradisi orang Tionghoa, seseorang wajib memberikan angpau terutama orang yang telah menikah, pernikahan merupakan batas antara masa anak-anak dengan usia dewasa. Harapannya pemberian angpau dari orang yang telah menikah bisa memberikan nasib baik kepada orang yang menerima. Selain di masyarakat Tionghoa, pemberian hadiah seperti angpau juga berlaku di Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Ada juga cerita-cerita legenda zaman dahulu, bahwa ada seekor binatang yang tinggi besar, setiap tahun di malam tahun baru binatang itu keluar mengelus-elus dahi anak-anak yang sedang tidur, anak-anak yang pernah dibelainya akan menjadi gila. Demi keselamatan anak-anak, orang tua menjaga anak-anaknya sepanjang malam.

Berdasarkan legenda di Provinsi Zhejiang, ada sebuah keluarga pasangan suami istri yang baik dan jujur. Mereka baru memperoleh seorang anak diusia senja, sehingga sangat menyayangi anaknya bagaikan benda pusaka. Pada suatu malam tahun baru, agar sang anak tidak diganggu oleh makhluk besar itu, kedua orang tuanya menemani anaknya bermain dengan kertas merah berisi uang, setelah sepanjang malam bermain, karena lelahnya orang tua anak itu tertidur, koin uang yang telah dibungkus dengan kertas merah itu jatuh di samping bantal si anak.

Tidak lama kemudian makhluk itu datang, lalu menjulurkan tangannya menjamah kepala anak itu. Kedua orang tua anak itu terbangun kaget, namun, ingin mencegah juga sudah terlambat, saat itulah tampak bungkusan merah di sisi bantal anak itu memancarkan seberkas cahaya terang dan langsung menyinari makhluk itu dan makhluk itu pun berteriak histeris lalu kabur.

Dalam waktu singkat, orang-orang di seluruh pelosok desa mengetahui peristiwa tersebut dan menganggap bahwa malam hari terakhir ke-30 setiap tahun, dengan kertas merah yang diisi uang dan diletakkan di sisi bantal anak-anak dapat menghalau makhluk itu. Semua orang lalu mengisi uang dengan kertas merah, dan menamakan uang itu sebagai angpao, anak-anak bisa melewati setahun usianya dengan selamat setelah mendapatkan angpao.

Angpao sendiri ada dua macam, pertama adalah merajut gambar naga dengan benang berwarna, dan diletakkan di kaki ranjang. Kedua adalah angpao yang telah dibungkus uang oleh orang tua, dan dibagikan kepada anak-anak setelah bersujud mengucapkan selamat tahun baru kepada orang tua.

Selain diberikan kepada anak-anak, angpau juga wajib diberikan kepada yang dituakan. Bagi yang telah dewasa, tetapi belum menikah, tetap berhak menerima angpao, hal tersebut dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah dapat memberikan nasib baik pada mereka, khususnya agar cepat menemukan pasangan hidupnya. Kalau seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password