Hikayat Indomie, Mie Instan Indonesia Yang Menguasai Dunia

Youtuber dunia banyak sekali mengulas Indomie dalam vlognya (Dok. Youtube)

Bosscha.id – Indomieee…. Selerakuuuu…”, itulah sepenggal lirik jingle iklan televisi yang tentu sudah sangat menempel sekali dalam ingatan masyarakat Indonesia dan mengiringi kesuksesan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk merajai industri Fast Moving Consumer Good di segmen mi instan lewat brand Indomie. Namun tahukan Anda bagaimana sejarah panjang Indomie yang telah sukses menjadi Raja Mie Instan dunia ini?

Sosok dibalik suksesnya Indofood di Indonesia tidak lepas dari kepiawaian Sudono Salim yang merupakan founder dalam melihat potensi pasar mi di Indonesia. Namun sebelum Ia terjun ke industri mie instan, ada “leluhurnya” yang telah lebih terjun ke industri ini.

Meski kini Indofood sudah jadi raksasa penghasil mie instan, namun Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, pemiliknya, bukan lah pelopor yang merintis industri ini dari awal. Merek Indomie bukan dibangun oleh Liem. Begitu juga merek lainnya yang sama-sama terkenal, yaitu Supermie.

Pada bulan April 1968, PT Lima Satu Sankyu didirikan sebagai perusahaan patungan antara Sjarif Adil Sagala dan Eka Widjaya Moeis dengan Sankyu Shokushin Kabushiki Kaisha (Jepang). Inilah perusahaan yang kemudian memproduksi Supermie. Yang dimana bahan utamanya yaitu tepung, juga berbagai bantuan teknis lainnya, didatangkan langsung dari Jepang.

Pada medio tahun 1977, perusahaan itu berganti nama menjadi PT Lima Satu Sankyu Indonesia. Setelah berstatus Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada 1989 dan diambil alih Indofood Group, ia berubah nama lagi menjadi PT Lambang Insan Makmur dengan 100% saham dimiliki PT Indofood International Corp.

Sementara itu, perusahaan yang jadi pelopor memproduksi Indomie mempunyai kisah lain, pada April 1970, Sanmaru Food Manufacturing didirikan oleh Djajadi Djaja, Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma. Dan pabrik mereka ini baru beroperasi pada tahun 1972 dan menghasilkan produk bernama Indomie, yang kelak menjadi penaganan legenda. Indomie merupakan singkatan dari “Indonesia mie.”

Lalu, siapakah Djajadi Djaja Chow Ming Hua itu?, Ia adalah seorang pengusaha keturunan Cina asal Medan. Dia mulai menggeluti dunia bisnis sejak tahun 1959. Pada mulanya, ia bersama kawan-kawannya mendirikan firma yang bergerak di bidang penyaluran barang.

Dalam hal penyebutan merek, baik Indomie atau Supermie bernasib sama seperti Honda dan AQua. Lidah orang Indonesia tak biasa menyebut mie instan. Apapun mereknya, mereka akan sebut “Supermie” atau “Indomie”. Sama halnya dengan sepeda motor dan Air mineral kemasan, apapun mereknya orang Indonesia akan menyebut Honda atau Aqua.

Terjunnya Sudono Salim di Industri Mie Instan

Sudono Salim baru terjun ke industri mie instan ini belakangan. Ketika Lima Satu Sankyu merintis Supermie dan Sunmaru merintis Indomie, Liem masih sibuk menginvestasikan uangnya di pabrik pengolahan tepung gandum—yang merupakan bahan dasar dari mie instan, bernama Bogasari. Sioe Liong Liem, yang mempunyai nama Indonesia Sudono Salim atau akrab dipanggil Om Liem ini, akhirnya mendirikan PT Sarimi Asli Jaya yang memproduksi mie instan pada 1977. Yang produknya kemudian diberi nama Sarimi, yang berarti inti sari mie.

Ketika Sarimi mulai merambah pasar pada akhir 1970-an, industri mie instan lokal baru dirintis dan Indonesia sedang mengalami krisis beras. Ada pemikiran di kalangan penguasa untuk menggantikan beras dengan tepung gandum. Stok beras di dalam negeri dicukupi dengan cara impor. Begitu juga dengan tepung. Lalu Om Liem hendak memproduksi sendiri mie instan dalam jumlah besar dan melemparnya ke pasar. Namun, dengan membaiknya stok beras berkat pestisida dan pupuk membuat produksi mie menjadi terlalu banyak. Itu juga menyebabkan langkah Om Liem kian mustahil. Padahal, Ia sudah kadung menginvestasikan uangnya untuk membangun sarana produksi dari Jepang dan tak mungkin dibatalkan.

Lalu, Om Liem kemudian mencoba mendekati dan melobi Djajadi. Dengan maksud, Ia berharap agar Indomie mau bekerja sama dan memakai sarana produksi miliknya. Semua tahu, jika Om Liem ini adalah orang dekat Soeharto. Liem juga punya bank yang cukup kuat di Indonesia, yaitu Bank Central Asia. Jadi bukan hal yang sulit baginya untuk mewujudkan keinginannya, termasuk dalam melobi Djajadi.

Baca Juga:   Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 1.000 meter

Awalnya Djajadi enggan menerima tawaran Liem. Namun belakangan, ia merasa tak punya pilihan lagi setelah Liem berani menginvestasikan 10 juta USD untuk memasarkan merek barunya dengan harga dibawah Indomie. Usaha patungan pun diadakan dibawah bendera PT Indofood Interna pada 1984. Sosok yang menjadi CEO masih terhitung orang dekat Djajadi, yaitu Hendy Rusli. Liem kala itu memegang 42,5 persen saham dan sisanya sebesar 57,5 persen dikuasai Djajadi.

Kemudian merek-merek mie instan terkenal akhirnya dikuasai oleh Liem dalam kurun waktu kurang dari dua dekade. Produk-produk mie instan yang dimiliki Liem dalam Salim Group tak hanya menyasar pasar dalam negeri, tapi juga luar negeri. Indofood punya pabrik di benua Afrika dan Eropa.

Dan belakangan, produk-produk mie instan yang dikuasai Salim Group hanya mempunya kompetitor bernama Mie Sedap, produk hasil pabrikan Group Wings—yang muncul di pasaran pada era 2000-an. Tentu saja, legenda lawas yang sudah jadi kata ganti untuk menyebut mie instan ini sulit untuk dilawan. Mie instan milik Salim Group terus mengembangkan rasa dan berusaha tampil menarik lewat produknya.

Mie instan berbagai merek, kerap dijual dalam bentuk makanan cepat saji di warung yang disebut “burjo”. Dulunya, warung-warung itu menjual bubur kacang ijo (burjo). Kini sulit menemukan burjo, lebih mudah menemukan dus-dus Indomie di sana.

Ada Nunu Nuraini Dibalik Enaknya Rasa Indomie

Dan belum lama ini, mie instan legendaris Indomie ini dinobatkan sebagai ramen terenak di dunia versi Los Angeles Times. Di balik prestasi tersebut, ternyata rasa lezat yang terdapat di dalamnya adalah hasil ramuan tangan seorang wanita, bernama Nunu Nuraini. Wanita tersebut memang jarang tersorot media. Namun, kelezatan karyanya sudah berhasil mendunia.

Los Angeles Times merilis daftar 25 mi instan dengan rasa terenak di dunia tepatnya pada bulan November 2019 lalu. Kelezatannya diuji oleh Lucas Kwan Peterson, seorang kolumnis makanan. Dalam penilaian mengenai mie instan tersebut, Lucas mempertimbangkan dua aspek penilaian. Yang pertama adalah cita rasa mie instan tersebut, dan yang kedua adalah tingkat keaslian mie instan dengan gambar mie yang ada pada bungkusnya.

Tak main-main, ada dua varian rasa yang masuk ke dalam daftar mie terenak di dunia ini, yakni Indomie Goreng dan Indomie rasa ayam barbeque (bbc) yang berada di peringkat teratas. “Lima paket rasa berbeda yang datang dengan mie menarik dalam diri mereka. Ada tiga cairan (beberapa minyak bawang, kecap manis, sedikit saus cabai) dan dua sachet kering (bubuk ayam kaya MSG dan beberapa bawang merah goreng),” tulis Lucas di L.A. Times.

Dibalik keberhasilan Indomie yang mendapatkan gelar sebagai mie terenak di dunia, ada sosok Nunu Nuraini yang berjasa di dalamnya. Nunu merupakan wanita lulusan Teknologi Pangan Universitas Padjajaran, Bandung. Kabarnya, Ibu Nunu ini sudah 28 tahun mengabdikan diri sebagai Flavor Development Manager Indofood. 

Hingga saat ini, ia lebih memilih berkarya di belakang layar sebagai peracik rasa khas yang dimiliki Indomie, sehingga kita dan banyak lagi orang Indonesia maupun mancanegara bisa merasakan nikmatnya rasa Indomie.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password