Sejarah 21 Januari: Terjadi Pengeboman di Candi Borobudur

Sosok Ibrahim, otak dari peristiwa teror hingga saat ini masih misterius (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Candi Borobudur yang diakui sebagai salah satu kejaiban dunia ini, memang memiliki daya tarik tersendiri. Candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah ini selalu didatangi oleh bayak wisatawan mancanegara maupun lokal setiap harinya.

Borobudur merupakan candi peninggalan Dinasti Syailendra yang merupakan penganut agama Buddha, yang terbagi atas enam teras berbentuk bujur sangkar dan pelataran melingkar. Di antara pelataran itu, terdapat beberapa stupa, relief dan arca. Namun, tahukah anda?, jika peninggalan ikonik Indonesia ini pernah mendapatkan ancaman yang serius dari kelompok ekstremis pada tahun 1985.

Tepat hari ini 35 tahun yang lalu, atau pada 21 Januari 1985, Candi Borobudur mendapatkan teror bom. Beberapa bangunan, arca dan stupanya hancur karena ledakan. Banyak dugaan yang mengatakan bahwa peristiwa ini bermotif ekstremisme. Kejadian ini kemudian dicap sebagai peristiwa terorisme nasional. Ledakan bermula pada 01.00 WIB sampai dengan 03.40 WIB. Ketika itu rentetan ledakan merusak dua patung Buddha dan sembilan stupa di sisi timur pada Arupadhatu Candi Borobudur.

Terjadi sembilan kali ledakan bom di pagi itu. Ledakan terakhir terdengar pada pukul 03.40 WIB. Namun, dalam suasana yang gelap gulita itu, masih belum diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Para petugas keamanan lokal pun masih menunggu kedatangan aparat untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Kemudian petugas Garnisun Magelang pun tiba di lokasi sekitar pukul 04.30 WIB dan langsung menyisir kawasan candi yang terkena ledakan. Mereka menyaksikan batu-batu candi berserakan. Terlihat dengan jelas kalau kejadian ini memang disengaja.

“Ledakan ternyata telah merusak 9 stupa berlubang. 3 yang berada di sisi timur batur pertama Arupadhatu, 2 lagi yang terdapat di batur kedua dan 4 lainnya di batur ketiga,” tulis Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta tokoh pemugaran candi tersebut dalam bukunya Borobudur yang diterbitkan tahun 2004.

Namun, kemudian muncul lagi kabar, jika belum semua bom yang dipasang itu meledak. Masih ada bom yang terpasang dan menunggu waktu untuk meledak. Sekitar pukul 05.00 WIB, seorang personel Sat Brimob Polda Jawa Tengah pun diperintahkan Dansat Brimob Kolonel Pranoto (Kasat Brimob saat itu) untuk mendatangi Candi Borobudur dan menjinakkan bom yang belum meledak.

Salah satu anggota Brimob itu yakni Sersan Kepala Sugiyanto. Pria yang berasal dari Boyolali ini, dengan berani menjinakkan bom yang belum meledak itu. Bersama dengan tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) dari Kompi 5155 Brimob Jogja, dia menemukan 2 buah bom yang masih aktif dan siap untuk meledak. Ternyata, pelaku teror ternyata berencana meledakkan 11 bom di Candi Borobudur.

Baca Juga:   Sejarah 30 Juni: SEATO, Sang Penangkal Komunis di Asia Tenggara Dibubarkan

Dan otak peristiwa teror ini diduga adalah Ibrahim alias Mohammad Jawad alias Kresna. Namun sosok Ibrahim hingga saat ini masih misterius, dan belum berhasil diringkus. Namun berdasarkan penyelidikan, aparat mengamankan dua bersaudara Abdulkadir bin Ali Alhabsyi dan Husein bin Ali Alhabsyi yang dituduh sebagai pelaku pengeboman.

Abdulkadir kemudian divonis Pengadilan Negeri Malang dengan hukuman penjara 20 tahun setelah terbukti sebagai pelaku peledakan tersebut. Sedangkan kakaknya, Husein bin Ali Alhabsyi, dihukum penjara seumur hidup di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Lowokwaru, Malang.

Dalam persidangan kasus ini, jaksa menuduh bahwa tindakan pengeboman terhadap Candi Borobudur ini merupakan aksi balas dendam Abdulkadir dan kawan-kawan terhadap peristiwa Tanjung Priok tahun 1984 yang menewaskan puluhan nyawa pemeluk agama Islam.

Abdulkadir pun membenarkan motivasi peledakan itu sebagai ungkapan ketidakpuasannya atas peristiwa berdarah tersebut. Namun keterangan itu kemudian diragukan, karena sosok Mohammad Jawad atau “Ibrahim” yang disebut Husein sebagai dalangnya kemudian tidak pernah ditemukan oleh kepolisian.

Menurut pengakuannya pula, Abdulkadir mengatakan Ia tidak mengetahui rencana pengeboman tersebut. Dia dan ketiga kawan lain pada awalnya hanya sekadar diajak oleh Mohammad Jawad untuk “berkemah” ke Candi Borobudur sebelum kemudian dibujuk oleh Mohammad Jawad untuk mengebom candi nusantara bersejarah tersebut.

Sebagai eksekutor di lapangan, Abdulkadir bukanlah seorang profesional, karena dia mengaku bahwa dia tidak mengetahui seluk-beluk teknikal sebuah bom dan hanya mengiyakan bujukan Ibrahim. Setelah menyetujui bujukan Ibrahim, mereka kemudian diberikan sejumlah bom waktu rakitan, yang telah dirakit secara rapi.

Menurut pengakuannya, Ibrahim adalah orang yang merakit bom-bom tersebut. Bahan bom terbuat dari trinittrotoluena (TNT) tipe batangan PE 808 / tipe produksi Dahana. Tiap bom rakitan terdiri dari dua batang dinamit yang dipilin dengan selotip. Abdulkadir dan pelaku yang lain kemudian hanya tinggal memasangnya di dalam stupa dan memencet tombol untuk mengaktifkan bom waktu tersebut.

Abdulkadir memperoleh remisi Presiden RI setelah menjalani hukuman 10 tahun, dan sang kakak, Husein  mendapat grasi dari Presiden BJ Habibie pada 23 Maret 1999. Sampai saat ini Husein menolak tuduhan atas keterlibatannya dalam peledakan Borobudur dan menuding bahwa Mohammad Jawad lah dalang dari peristiwa tersebut.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password