Sepenggal Kenangan Tentang Darso, Si Raja Pop Sunda Yang Melegenda

sebagai The King Of Pop Sunda, sebuah julukan yang rasanya tidak berlebihan untuk disematkan padanya. Selama kurang lebih 45 tahun berkarya di musik pop sunda (Dok. Istimewa)

Bosscha.id –  Bagi sebagian masyarakat sunda, Darso merupakan seniman yang sangat fenomenal. Gayanya yang nyentrik seakan menyihir siapa saja yang melihatnya. Kacamata Hitam dan baju panggung ala-ala Michael Jackson adalah trade marknya.

Alunan calung yang dikombinasikan dengan instrumen musik modern adalah bagian yang tak terpisahkan dari lagu-lagu pop sunda yang dibawakannya. Baru melihat penampilan kostum panggungnya saja dijamin kita akan langsung tersenyum. Belum lagi bila menyelami lebih dalam lirik-lirik dan aksi panggungnya, sudah pasti kita akan makin terpukau.

Apalagi jika meliaht penampilan Darso secara langsung, pasti lebih seru lagi. Aksinya di atas panggung yang nyeleneh, eksentrik dan kocak membuatnya benar-benar berhasil menjadikannya sebagai sosok seniman sejati, yang banyak dicintai.

Dedikasinya terhadap dunia seni, khusunya musik sunda, telah berhasil menjadikannya sebagai The King Of Pop Sunda, sebuah julukan yang rasanya tidak berlebihan untuk disematkan padanya. Selama kurang lebih 45 tahun berkarya di musik pop sunda, Ia sudah menghasilkan segudang karya, setidaknya sudah 300 album dia hasilkan.

Beberapa diantaranya adalah lagu yang sangat fenomenal dan masih digemari hingga saat ini, walau dirinya telah tiada. Lagu-lagu seperti Dina Amparan sajadah, Kabogoh Jauh, dan Maribaya merupakan lagu pop sunda yang wajib dinyanyikan disetiap penampilannya. Diluar panggung, Darso dikenal sebagai pribadi yang jenaka dan sangat bersahaja, santun dan mudah bergaul dengan kalangan mana saja.

Darso memulai karier sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti terkena imbas peristiwa G 30 S/PKI. Pada tahun 1968 ia memulai lagi kariernya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu “calung” salah satu lagu yang diminati waktu itu “kiamat’.

Lalu atas arahan S. Hidayat, Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah naungan Asmara Record, dan memulai rekaman yang dirilis dalam bentuk pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu “kembang tanjung”, “cangkurileung”, dan “panineungan”.

Pada tahun 90-an nama Darso semakin populer setelah TVRI sering menampilkannya. Darso juga mulai menggunakan jenis instrumen lain seperti terompet dan organ jenis musik yang dirambah selain pop sunda juga dangdut. Lagu-lagu yang terkenal pada masa itu hingga kini yaitu “randa geulis”, “maribaya”, “dina amparan sajadah”, dan “kabogoh jauh”.

Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat kala itu, Danny Setiawan berupa Anugerah Musik Jabar 2005. Lalu pada tahun 2009 ia pun mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Bandung kala itu Dada Rosada, berupa Anugerah Budaya Kota Bandung 2009. Dua berselang dari setekah itu, kabar mengejutkan datang darinya, ia dikabarkan meninggal dunia pada Senin, 12 September 2011. 

Meski kini Ia telah tiada, namun warisan karyanya akan selalu ada di dalam dada setiap penggemarnya. Namun nama besar Darso yang kita kenal saat ini, tak serta merta datang begitu saja. Semua ini adalah buah dari konsistensinya berkarya demi kelestarian budaya. Namun ketekunannya berkarya bukan tanpa halangan.

Baca Juga:   Senyum Sembarangan Dilarang di Negara Ini

Pada awal kemunculannya sebagai penyanyi, di medio tahun 80-an Ia cukup banyak menuai kontroversi di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah karena ia membawakan jenis musik, hasil modifikasi, gabungan antara musik tradisional calung dan instrumen modern (pop), sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh seniman Sunda lainnya.

Faktor lain yang menuai kontroversi adalah perkara syair lagu yang Ia nyanyikan yaitu “Sarboah” dan “Cucu Deui” yang cukup menggelitik, keduanya bercerita tentang sosok wanita yang dicintai namun dikemas dengan jenaka. Gaya bernyanyi dan berjoged di panggungnya yang khas pun, tak lepas dari perbincangan masyarakat kala itu. Dan kontroversi yang paling banyak menuai cercaan adalah penampilan dan cara berpakaian seorang Darso. Ia menggunakan jas, terkadang setelan rapih dengan warna-warna mencolok, yang dipadukan dengan sarung. Sebuah konsep yang unik dan menabrak estetika dari seorang artis penyanyi sunda.

Penggabungan instrumen Calung, Pop dan Dangdut adalah sesuatu yang baru pada waktu itu, konsep yang dianggap menerobos pakem yang ada di dalam seni musik Calung itu sendiri. Begitu juga dengan gaya ia berpakaian, tidak sedikit masyarakat yang mencemooh penampilannya, ia menggabungkan tampilan seseorang yang formal dan resmi, namun dengan pilihan warna serta rancangan yang tidak biasa. Sarung merupakan pertanda lain dari seorang Darso.

Dalam hal berpenampilan ia tidak jarang mengenakan sarung atau hanya menyelendangkannya di dada, bahkan ketika tampil di atas panggung sekalipun. Di satu sisi ia cukup digandrungi dan disukai oleh sebagian besar masyarakat, baik di kota-kota besar maupun di pelosok desa. Namun bagi kalangan seniman dan pemerhati budaya, hal ini terkesan tak etis karena dianggap telah mendobrak pakem.

Namun, itu lah Darso, seniman yang visioner. Oleh karena konsistensinya itu pula lah, kemudian ia menjelma menjadi sosok ikonik hingga saat ini. Dan kini gayanya yang nyentrik itu banyak diadaptasi oleh penyanyi pop sunda lainnya, Darso berhasil jadi trendcenter. Karena baginya penampilan adalah nomor satu, ia harus tampil  beda, unik serta lain daripada yang lain.

Pernah sat Ia menggelar konser tunggalnya di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad, Bandung yang bertajuk ‘Darso the Phenomenon’ yang digelar dalam rangka Pidangan Rumawat Padjajaran pada 28 Desember 2009. Ia menggunakan setelan jas putih yang lengkapi oleh berbagai macam aksesoris seperti kancing dan beberapa gambar di beberapa bagian setelannya. Selain itu kacamata dan topi pun ikut melengkapi penampilannya yang nyentrik. Di awal konsernya itu, artis yang bernama lengkap Hendarso ini tampil dengan menunggang kuda dari luar aula menuju panggung pertunjukan.

Inilah sepenggal kenangan tentang sang maestro, dan masih banyak lagi hal yang berkenaan tentang dirinya yang tak akan cukup rasanya jika harus dituangkan dalam bentuk tulisan. Terimakasih Kang Darso, atas dedikasi dan sumbangsihnya terhadap dunia seni, khususnya musik sunda. Tanpa kehadiranmu, rasanya musik pop sunda kehilangan nyawanya.  

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password