Sejarah 16 Januari: Wafatnya Sang Ulama Jenius, Mahmoed Joenoes

Semasa hidupnya, Mahmud Yunus banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik dan mengajar (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 38 tahun yang lalu, atau tepatnya pada 16 Januari 1982. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pasalnya pada hari itu salah satu Ulama Jenius, Mahmun Yunus (ejaan lama: Mahmoed Joenoes) menghembuskan nafas terakhirnya.

Prof. DR. H. Mahmud Yunus adalah sosok ulama besar yang sangat berjasa dalam sejarah pendidikan Islam di tanah air. Ia adalah seorang jenius yang mengusulkan kepada pemerintah pusat agar mata pelajaran agama Islam dimasukkan ke kurikulum pendidikan nasional, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.

Semasa hidupnya, Mahmud Yunus banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik dan mengajar. Beliau dikenal pula melalui karya-karyanya, kurang lebih 75 judul buku Ia tulis, termasuk menyusun Tafsir Qur’an Karim dan kamus Arab-Indonesia. Melalui Jabatannya di Departemen Agama, beliau menginisiasi dan memperjuangkan masuknya mata pelajaran pendidikan agama dalam kurikulum nasional.

Buku-buku beliau masih banyak dipergunakan untuk keperluan pengajaran di berbagai madrasah dan pesantren di Indonesia. Mahmud Yunus menerima gelar doktor kehormatan di bidang tarbiyah dari IAIN Syarif Hidayatulla, Jakarta dan namanya kemduian disematkan untuk jalan menuju kampus IAIN Imam Bonjol Padang.

Sedari kecil, Mahmud Yunus dikenal sebagai anak yang sangat cerdas. Pada malam hari Ia sering diceritakan sebuah hikayat atau cerita yang menjadi salah satu kegemarannya, siangnya beliau sudah bisa menceritakan kembali dengan sempurna kepada orang lain.

Kondisi sosial yang melatar belakangi kehidupannya telah membentuk karaternya menjadi sosok Tokoh yang ikut mengisi perjalanan sejarah. Prof.Dr.H.Mahmud Yunus telah berfikir untuk menjawab problema sosial, bangsa dan agamanya dengan memilih jalur pendidikan sebagai sisi yang Ia anggap paling strategis pada waktu itu.

Kecerdasan dan Kejeniusannya dalam menerima pelajaran diakui oleh para Ustadz yang pernah mengajarnya. Saat usia 16 tahun atau pada tahun 1915, Mahmud sudah mampu mengajar beberapa kitab, antara lain al-Mahally, al-Fiyah ibn Aqil dan Jam’al Jawami. Pengalaman ini menjadi bekal yang sangat berharga baginya ketika melanjutkan pendidikannya, terutama saat Ia belajar di al-Azhar, Kairo. 

Mahmud Yunus muda kemudian mulai menuangkan semua pemikirannya melalui tulisan. Bahkan, pada Februari 1920, ia menerbitkan majalah al-Baysir selain terlibat dalam penerbitan sejumlah media Islam lainnya, seperti al-Munir, al-Manar, dan al-Bayan. Ia pun merintis perkumpulan pelajar Islam Sumatera Thawalib cabang Sungayang.

Sebagian besar buku-buku karyanya banyak dipergunakan bagi para pelajar dari sekolah dasar (Ibtidaiyah) hingga ke perguruan tinggi. Karya beliau yang mempunyai pengaruh banyak diluar madrasah dan pondok pesantren adalah terjemahan Quran Karim yang diterbitkan pada tahun 1938 dan sudah dicetak ulang berkali-kali.

Pada tahun 1932, Mahmud Yunus meninggalkan Sungayang dan disibukkan dengan aktivitas mengajar. Ia memimpin sekolah Normal Islam School (NIS) atau Kulliyyatul Muallimin Al-Islamiyyaah di Padang yang didirikan PGAI pada 1 April 1931. Sekolah ini merupakan sekolah lanjutan tingkat atas yang dimaksudkan untuk mendidik calon guru; murid yang diterima di sekolah ini adalah lulusan madrasah minimal tujuh tahun. Yunus mengajarkan bahasa Arab, masukkan mata pelajaran agama Islam ke dalam kurikulum, dan menambahkan beberapa cabang pengetahuan umum seperti ilmu alam, tata buku, dan kesehatan.

Sebagian buku yang dipakai untuk keperluan pengajaran adalah tulisannya sendiri yang ia susun sewaktu belajar di Mesir. NIS memiliki laboratorium fisika dan kimia satu-satunya di Sumatra Barat. Ia memimpin NIS sampai dengan tahun 1938 dan kelak kembali memimpin pada tahun 1942 sampai 1946. Keberhasilannya menerapkan metode-metode baru dalam pendidikan madrasah mendorongnya untuk membuka Sekolah Tinggi Islam (STI) di Padang.

Lalu pada 1 November 1940, Ia dipercaya memimpin STI di Padang. Didirikan oleh PGAI, STI tercatat sebagai perguruan tinggi Islam paling awal di Indonesia. Pada 9 Desember 1940, STI membuka dua fakultas: Fakultas Syariat dan Fakultas Pendidikan & Bahasa Arab. Namun, STI hanya berjalan kurang dari dua tahun. Setelah Padang diduduki tentara Jepang pada 1 Maret 1942, perguruan tinggi ini dilarang dan ditutup oleh Jepang.

Baca Juga:   Sejarah 27 Maret: Diculiknya Perdana Menteri Sutan Sjahrir

Dan pada masa pendudukan Jepang, Mahmud Yunus terlibat dalam pendirian Majelis Islam Tinggi (MIT) Minangkabau. Ketika Jepang mendirikan PETA di Jawa untuk membantu tentara Jepang menghadapi serangan balasan tentara Sekutu, Residen Yano Kenzo yang berkedudukan di Padang mengambil inisiatif membentuk satuan tentara Gyugun. Pembentukan Gyugun segera mendapat dukungan dari para ulama Minangkabau.

Mereka mendorong para pemuda untuk mendapat pelahitan militer dari Jepang. Bersama-sama Chatib Sulaiman dan Ahmad Datuk Simarajo, Mahmud Yunus ditunjuk untuk merekrut keanggotaan Gyugun. Para pemuda Gyugun kelak terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menjadi laskar-laskar rakyat bentukan partai-partai dan organisasi di Minangkabau.

Setahun kemudian Mahmud Yunus ditunjuk mewakili Majelis Islam Tinggi Minangkabau sebagai penasihat residen (shuchokan) di Padang. Melalui kedekatannya dengan Jepang, ia berupaya agar pendidikan agama Islam diajarkan di sekolah-sekolah negeri. Ia mengusulkan kepada Kepala Jawatan Pengajaran Jepang untuk memasukkan pendidikan agama Islam ke sekolah-sekolah pemerintah di Minangkabau. Usulan ini diterima oleh pemerintah dan diterapkan sampai berakhirnya pendudukan Jepang atas Indonesia seiring proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Menyusul datanganya Sekutu melalui Pelabuhan Teluk Bayur pada penghujung tahun 1945, Normal Islam School terpaksa ditutup karena sebagian besar guru dan muridnya mengungsi ke luar daerah. Pada September 1946, lalu Mahmud Yunus menginisiasi berdirinya Sekolah Menengah Islam (SMI) di Bukittinggi. Semua alat-alat pembelajaran yang digunakan seperti kursi, meja, peta, dan alat-alat praktikum diangkut dari Padang. SMI kelak dijadikan sekolah negeri di bawah Jawatan Agama Sumatra Barat dan berubah menjadi Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) pada 1951.

Upaya untuk memasukkan mata pelajaran agama Islam ke dalam kurikulum sekolah-sekolah pemerintah kembali diperjuangkan oleh Mahmud Yunus setelah kemerdekaan. Usul ini diterima oleh Jawatan Pengajaran Sumatra Barat, yang pada waktu itu dikepalai oleh Saaduddin Jambek, lalu mulai diterapkan pada 1 April 1946 di seluruh wilayah Sumatra Barat. Kemudian, oleh Jawatan Pengajaran Sumatra Barat, ia dipercaya menyusun kurikulum dan menentukan buku-buku pegangan untuk keperluan pengajaran.

Lalu pada November 1946, ia dipindahtugaskan ke Pematangsiantar dan diangkat sebagai Kepala Bagian Agama Islam Jawatan Agama Provinsi Sumatra. Pada Januari 1947, Yunus kembali mengusulkan hal yang sama kepada Jawatan Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Provinsi Sumatra. Usul ini mendapat persetujuan pada Maret 1947 dan sejak saat itu, pendidikan Islam masuk secara resmi ke dalam kurikulum sekolah-sekolah pemerintah di seluruh Sumatra.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah provinsi mengadakan kursus untuk guru-guru agama di Pematangsiantar selama sebulan penuh. Kursus ini dikuti oleh utusan dari seluruh daerah di Sumatra dan sebagai pimpinan kursus dipercayakan kepada Mahmud Yunus.

Pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Mahmud Yunus membuka sekolah-sekolah darurat. Ia sempat mengemukakan rencana mendirikan Madrasah Tsanawiyah untuk seluruh Sumatra. Rencana ini pun mendapat persetujuan dari Menteri Agama PDRI. Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada pemerintah RI, Madrasah Tsanawiyyah yang pada waktu itu bernama Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) dibuka di Sumatra Barat. Madrasah ini diselenggarakan secara swasta meskipun Mahmud Yunus telah memperjuangkannya untuk dijadikan sebagai sekolah negeri.

Lalu pada tahun 1950, Ia mengusulkan kepada pemerintah untuk mengompromikan kurikulum yang diterapkan di Sumatra dengan kurikulum nasional. Usul ini dibahas bersama dalam panitia yang dipimpin Mr. Hadi dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran dan Mahmud Yunus sendiri dari Departemen Agama. 

Dan hasilnya, pada 20 Juanuari 1951, pendidikan agama mulai diajarkan untuk setiap jenjang pendidikan sekolah-sekolah negeri dan swsata, mulai dari sekolah rendah, sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas, hingga sekolah kejuruan—dengan lama dua jam dalam seminggu. Ini masih diterapkan sampai sekarang di Indonesia.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password