Kang Ibing dan Kenangannya Hingga Hari Ini

Kang Ibing lekat dengan karakter kabayannya dan menjadi seniman Sunda besar (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Kang Ibing memang sudah tiada, namun sepak terjang dan berbagai macam peninggalan karyanya telah menjadi warisan berharga bagi kita semua hingga saat ini.

Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata atau lebih populer dengan nama Kang Ibing, adalah seorang budayawan, pelawak, penyiar, aktor, penulis, dosen dan penceramah. Ia lahir di Sumedang pada 20 Juli 1946, dan meninggal di Bandung pada 19 Agustus 2010.

Setelah lulus SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Jurusan Bahasa Rusia, Fakultas Sastra Universitas Padjajaran (Unpad), sampai lulus sarjana muda. Kang Ibing memulai karirnya sebagai penyiar dan pengasuh acara obrolan rinéh (santai) yang kocak namun sarat dengan kritik di stasiun radio Mara 27.

Dengan lentong Sunda yang khas, obrolan Kang Ibing di Radio Mara yang diselingi menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para pendengar dengan gaya ngalér-ngidul seénaknya, amat sangat digemari oelh banyak pendengar pasa saat itu.

Salah satu acaranya di radio ini adalah ‘Kios Cinta Radio Mara’. Di radio inilah ia mulai dikenal dengan nama Kang Ibing. Awalnya, karena di Radio Mara seluruh penyiar diharuskan memakai nama samaran. Seperti Bang Domba, Bang Kalong, Bang Gapleh, dll. Dikala Kang Ibing sedang siaran, Ia sering joget atau ngibing, dari sana lah nama Ibing mulai tercetus.

Lewat siaran radio itu pula, Kang Ibing bertemu jodohnya, Nike Wahyuningsih. Suatu hari saat sedang siaran, Ibing menerima surat dari Nike yang ingin meminjam kaset yang biasa diputar kalau Ibing sedang siaran. Dengan hati penasaran, Kang Ibing menjumpai perempuan itu dengan membawa kaset yang diminta. Setalah itu, keduanya kemudian sering bertemu, hingga akhirnya menikah.

Selain di radio Mara, program ‘Kios Cinta’ pun sempat terbit di harian Pikiran Rakyat (PR). Pada medio tahun 1987, Kang Ibing mengasuh salah satu kolom di PR yakni ‘Kios Cinta Asuhan Kang Ibing’. Sama halnya dengan di radio dalam kolom asuhannya tersebut, Kang Ibing menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca seputar kisah cinta dengan gaya tulisan khasnya yang menggelitik. Mengenang kembali ‘bodoran’ segar khas Kang Ibing, berikut adalah beberapa contoh kolom Kios Cinta Asuhan Kang Ibing, yang terbit di Pikiran Rakyat edisi 24 Mei 1987.

“Kang ibing, apakah betul kasep itu bisa menjadi sebab jatuh cinta?” (Ine, Bogor)
— Duka atuh, da Akang mah can pernah bogoh kanu kasep. Osok na teh bogoh kanu geulis!

“Kang ibing, kenapa yah orang yang patah hati suka ada yang sampai nekad minum endrin (racun)?”,  (Ojoy, Bandung)
— Lamun minum sirop mah lain ge nekad.

“Apa pendapat Kang Ibing tentang garam cinta?”, (Ita, Cirebon)
— Kalau cinta terlalu banyak garamnya, eta cinta jadi pangset!

“Pacar saya berkata, ‘Burung Merpati tak akan lari,’ apa artinya ya?”, (Jej, Bandung)
— Burung merpati itu tak akan lari, tapi hiber.

“Wanita yang berkulit putih itu umumnya cantik-cantik, kenapa ya?”,  (FP, Bandung)
— Laki-laki juga yang kulitnya putih mah, sakti. Buktinya pan Hanoman.

“Membaca surat cinta yang paling asyik itu, sambil gimana ya?”,  (Us, Bandung)
— Membaca surat cinta yang paling asyik mah sambil dikejar-kejar munding edan. Cobian geura

Saat masih menjadi mahasiswa, ia pernah menjadi Ketua Kesenian Damas, penasehat Departemen Kesenian UNPAD dan asisten dosen Fakultas Sastra. Dan di Damas inilah, Kang Ibing mengetahui bakatnya yang besar sebagai pelawak, dan ternyata banyak yang menyukai gaya melawaknya dan kemudiam mendorong dirinya untuk terjun sebagai pelawak.

Di Damas pula, Kang Ibing mengasah kemampuannya dalam hal nembang lagu cianjuran, hingga ia benar-benar menguasai teknik bernyanyi yang baik dan benar. Semasa hidupnya, Kang Ibing telah banyak merilis banyak album musik, baik wanda Jaipongan bersama Hj. Ijah Hadijah, pop Sunda, dan pop Indonesia. Selain bernyanyi, bersama grup lawaknya ‘De Kabayan’, Kang Ibing pun merilis beberapa kaset lawak yang dapat sambutan baik di pasaran. Seperti album “Kang Maman dan Gadis Jujur”, “Tukang Loak”, “Kang Maman dan Anak Anjing”, dll.

Baca Juga:   Ini Dia Caranya Agar Lebih Produktif Saat Harus Work From Home

Bersama Asep Sunandar Sunarya, ia juga pernah merilis kaset wayang bodoran, dan bersama Utun-Dekok, Kang Ibing menghasilkan album pantun “Nyi Roro Inem”. Ia jugs pernah berkolaborasi dengan Gepeng dari Srimulat dalam sebuah project musik, dan merilis album. Di album ini Kang Ibing bernyanyi lagu dangdut.

Kang Ibing dikarunia Tuhan dengan segudang bakatnya yang menumpuk. Selain bernyanyi, Kang Ibing juga dikenal sebagai pencipta lagu Sunda. Lagu-lagunya sangat khas dengan rumpaka yang kocak. Sebagian besar lagunya, seperti Koboy Kolot, Cinta Kilat, Calon Ratu, Pacar, dll, dinyanyikan oleh grup musik Bimbo.

Tak cukup sampai di situ, Kang Ibing pun mulai merambah ke dunia akting. Saat pertama terjun ke dunia akting, Ia langsung dipilih sebagai pemeran utama dalam film “Si Kabayan”, yang rilis pada tahun 1975. Ia didapuk langsung oleh sang produser film tersebut, yaitu Tuti S dari Tuti Jaya Pictures.

Saat itu, Tuti S sedang mencari pemain yang cocok untuk dijadikan peran utama dalam film Kabayan tersebut. Lalu ada rekomendasi, bahwa di Radio Mara ada salah seorang penyiar bernama Ibing yang mungkin cocok menjadi karakter Si Kabayan. Dan saat pertama bertemu dengan Kang Ibing, Tuti pun langsung merasa cocok, maka jadilah Ibing pemeran utama film tersebut, dan berpasangan dengan Lenny Marlina.

Pasca dirilisnya film tersebut, tawaran bermain film pun mulai berdatangan kepadanya. Beberapa film yang pernah dibintangi Kang Ibing, antara lain adalah; Ateng The Godfather (1976), Apanya Dong (1985), Si Kabayan dan Gadis Kota (1990), Warisan Terlarang (1990), dll.

Dan setelah menjadi pemeran utama film ‘Si Kabayan’, sosok Ibing pun jadi identik dengan sosok Si Kabayan. Nama Kang Ibing semakin besar ketika bersama dengan Aom Kusman, Suryana Fatah, Wawa Sofyan, dan Ujang, membentuk kelompok lawaknya ‘De Kabayan’, pada tahun 1975. Nama de Kabayan sendiri, didapat setelah Ia membintangi film “Si Kabayan” yang disambut baik oleh penonton, terutama di Jawa Barat.

Sederet penghargaan diraih Kang Ibing atas kiprahnya dalam dunia seni Sunda (Bosscha.id)

De Kabayan kemudian sering tampil di TVRI, satu-satunya stasiun televisi pada saat itu, yang mengantarkan gaya lawakannya ke hadapan pemirsa ke setiap penjuru Nusantara. Memakai celana pendek, berkaus belang dan mengenakan kopiah miring, menjadi ciri khas penampilan Kang Ibing bersama de Kabayan saat itu. Ditambah dengan ekspresi wajahnya yang polos dan pengucapan kata yang berputar-putar, membuat lawakan Ibing memiliki ciri khas tersendiri.

Menjelang hari tuanya, Kang Ibing banyak mengisi kegiatannya dengan memberi ceramah agama, dan diundang untuk berdakwah ke berbagai daerah bahkan luar negeri. Pada masa-masa tuanya pula lah Kang Ibing pernah menggarap sebuah drama yang disana Ia menjadi sutradaranya. Drama tersebut berjudul ‘Juragan Hajat’.

Meski kini, Kang Ibing telah tiada. Namun semua peninggalan karyanya adalah harta paling berhaga bagi generasi kini dan mungkin di masa mendatang. Semua hasil karyanya tak pernah mati dimakan jaman, sosoknya selalu jadi inspirasi sepanjang jalan. Semoga akan lahir Kang Ibing-Kang Ibing lainnya dari tanah pasundan, yang sudah rela mewakafkan dirinya demi melestarikan budaya leluhurnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password