Sejarah 14 Januari: Hari Lahirnya Sang Perdana Menteri Dari Tanah Sunda, Ir.Djuanda Kartawidjaja

Djuanda muda, sudah aktif dalam organisasi non politik seperti Paguyuban Pasundan dan anggota Muhammadiyah (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Ir. Raden Haji Djuanda Kartawidjaja adalah Perdana menteri ke-10, sekaligus yang terakhir Indonesia. Salah satu putra terbaik Jawa Barat ini juga pernah duduk di beberapa kursi menteri, seperti menteri keuangan, perhubungan dan lainnya. Ir. Djuanda lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 14 Januari 1911.

 Ir. H. Djunda merupakan anak pertama dari pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Sumbangsih terbesar yang pernah diberikan saat beliau menjabat sebagai perdana menteri adalah ‘Deklarasi Djuanda’ pada 13 Desember 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, diantara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Surabaya, Jawa timur yaitu Bandar Udara Internasional Juanda atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut sehingga dapat terlaksana. Selain itu juga diabadikan untuk nama hutan raya dan nama jalan di Bandung yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, dalam taman ini terdapat Museum dan Monumen Ir. H. Djuanda.

Selain di Bandung, namanya pun juga diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia, dan nama salah satu Stasiun Kereta Api di Indonesia, yaitu Stasiun Juanda. Tak hanya diabadaikan dalam nama-nama tempat atau jalan saja, Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, kemudian mengabadikan gambar wajahnya dalam pecahan uang kertas rupiah baru NKRI, pecahan Rp.50.000.

Ir. H. Djuanda menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di HIS dan kemudian Ia pindah ke Europesche Lagere School (ELS) yaitu sekolah untuk anak orang Eropa dan Ia lulus pada tahun 1924. Setelah itu ia dimasukkan ayahnya ke sekolah menengah khusus orang eropa bernama Hoogere Burgerschool te Bandoeng (sekarang ditempati SMA N 3 dan SMA N 5 Bandung) dan Ia lulus pada tahun 1929. Setelah lulus ia melanjutkan studinya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) jurusan Teknik Sipil dan lulus pada tahun 1933.

Baca Juga:   Sejarah 9 April: Gus Dur Meresmikan Imlek Sebagai Hari Libur Fakultatif

Djuanda muda, sudah aktif dalam organisasi non politik seperti Paguyuban Pasundan dan anggota Muhammadiyah, beliau pernah menjadi pemimpin sekolah Muhammadiyah dan beliau juga pernah bekerja sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum povinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.

Sejak lulus dari Technische Hoogeschool (TH) Bandung, beliau  pernah ditawari menjadi asisten dosen di TH Bandung namun beliau lebih memilih mengajar di SMA Muhammadiyah Jakarta dengan gaji seadanya. Setelah mengajar selama 4 tahun, pada tahun 1937  beliau mengabdi di dinas pemerintah Jawaatan Irigasi Jawa Barat, selain itu juga beliau  aktif sebagai anggota Dewan Daerah Jakarta.

Pada 28 September 1945, Djuanda memimpin pemuda untuk mengambil alih Jawatan Kereta api dari Jepang, disusul dengan pengambil alihan jawatan Pertambangan, Keresidenan, Kotapraja, serta obyek militer yang ada di gudang utara Bandung.

Pemerintah Indonesia kemudian mengangkat Djuanda sebagai kepala jawatan kereta api wilayah Jawa dan Madura. Setelah itu, beliau diangkat menjadi Menteri Perhubungan. Beliaupun pernah menjabat sebagai Menteri pengairan, Kemakmuran, Keuangan dan juga Pertahanan.

Karena hal tersebut oleh kalangan pers Ia dijuluki dengan nama Menteri Marathon karena sejak awal kemerdekaan (1946) beliau telah menjabat sebagai menteri muda perhubungan hingga menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959), hingga menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin(1959-1963).

Melihat sepak terjangnya di dunia perpolitikan Indonesia, Ir. Djuanda tergolong seorang pemimpin yang luwes. Ia bisa bergabung dengan semua golongan baik itu presiden, menteri ataupun masyarakat biasa. Dan pada 7 November 1963, Ir. Djuanda wafat di Jakarta karena terkena serangan jantung. Dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.224/1963, Ir. Djuanda dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password