Sejarah 11 Januari: Pecahnya Pertempuran di Pulau Tarakan, Antara Belanda Melawan Jepang

Pada 10 Januari 1942, pesawat amphibi Dornier Do 24 milik KNIL-ML mendeteksi keberadaan konvoi kapal-kapal tempur Jepang, inilah awal dari pecahnya pertempuran antara pasukan Jepang melawan Belanda (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Pada tanggal 8 Desember 1941 pukul 04.00 pagi waktu Batavia. Pemerintah kolonial Hindia Belanda menerima sebuah berita tentang penyerangan Jepang atas Pearl Harbor. Kemudian mereka pun segera berkonsultasi dengan Pemerintah Belanda dalam pengasingan di London untuk menentukan sikap.

Lalu pada pukul 06.00 pagi dikeluarkan perintah agar semua kapal dagang di seantero Hindia Belanda mencari perlindungan ke tempat yang aman. Kemudian pada pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belandakala itu, Jhr. A.W.L Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer mengumumkan pernyataan perang kepada Jepang melalui siaran radio.

Kemudian Jepang mulai melakukan misi pengintaian udara dengan mengirimkan empat pesawat terbang ke Borneo pada 25 Desember 1941. Lalu pada 28 Desember 1941, 5 pesawat Brewster Bufallo KNIL-ML (Dinas Penerbangan Militer KNIL) menyergap 8 pesawat Mitsubishi A6M milik Jepang. Dua atau tiga Buffalo dan dua A6M tertembak jatuh. Seorang pilot Belanda dilaporkan hilang dan seorang lagi tewas. Sebuah pesawat terbang Belanda yang berada di lapangan terbang, rusak akibat serangan ini.

Lalu tepat pada tanggal 1 Januari 1942 Jepang pun menawarkan suatu persetujuan damai kepada Hindia Belanda, sambil mengabaikan pernyataan-pernyataan sebelumnya dan permusuhan-permusuhan yang sudah timbul. Hindia Belanda menjawab bahwa sikapnya tidak berubah dan menganggap dirinya dalam keadaan siap untuk berperang dengan Jepang. Akhirnya Tokyo pun memutuskan untuk mulai menyerang.

Dibawah pimpinan Hirose Sueto pasukan Jepang berangkat dari Davao pada 7 Januari 1941 dan dari Jolo pada 8 Januari 1942 ke arah selatan menuju Borneo, Hindia Belanda. Di dalamnya terdapat kapal penyebar ranjau, pemburu kapal selam, kapal pendarat cepat, dan 16 kapal angkut serta Resimen Tempur ke-56 dan Pasukan Pendaratan Gabungan Khusus Kure ke-2.

Untuk pengamanan serangan, ikut disiagakan Eskader Perusak ke-4, Eskader Perusak ke-2 dan ke-9. Dua kapal pengangkut pesawat terbang amphibi dan 23 pesawat tempur yang berpangkalan di Jolo dipersiapkan untuk memberikan bantuan udara.

Pada 10 Januari 1942, pesawat amphibi Dornier Do 24 milik KNIL-ML mendeteksi keberadaan konvoi kapal-kapal tempur Jepang tersebut di sebelah utara pulau Tarakan, komandan garnisun KNIL di Tarakan, Overstee Simon de Waal, segera memerintahkan evakuasi warga sipil dan penghancuran ladang-ladang minyak yang ada.

Dan inilah awal dari pecahnya pertempuran antara pasukan Jepang melawan Belanda. Pada tanggal 11 Januari 1942 tengah malam, sekitar 20.000 tentara Right Wing Unit di bawah Mayor Jenderal Sakaguchi Shizuo mendarat di pantai timur Tarakan disusul Satuan Khusus Pendarat Angkatan Laut Kure ke-2 (pasukan marinir).

Baca Juga:   Sejarah 15 Januari: Peristiwa Malari, Perlawanan Besar Pertama Terhadap Rezim Orde Baru

Sebaliknya pasukan Belanda tidak banyak terkonsentrasi di pantai timur karena pantai barat dinilai lebih sesuai untuk pendaratan pasukan. Pesawat-pesawat pembom KNIL-ML beterbangan dari lapangan udara di Samarinda dan Balikpapan, mencoba menghadang gerakan pasukan Jepang tersebut.

1 kapal selam Belanda tipe K-X, kapal patroli Belanda tipe P-1 dan kapal cepat Aida diam-diam berlayar menyelinap pergi. Kapal penyebar ranjau HNLMS Prins van Oranje yang mencoba melarikan diri juga, terpergok kapal perusak IJN Yamakaze pimpinan Letnan Komodor Shuichi Hamanaka, dan berhasil ditenggelamkan dengan torpedo.

Setelah pertempuran selama 1 hari 1 malam, akhirnya pasukan KNIL menyerah kepada Jepang pada 12 Januari 1942 pagi hari. Lebih dari setengah pasukan Belanda gugur. Seluruh tawanan perang dieksekusi mati dengan dipenggal kepalanya dengan samurai atau ditenggelamkan hidup-hidup ke kolam-kolam minyak yang tumpah dari kilang yang baru saja dibakar oleh pasukan KNIL tersebut, sebagai balasan atas tindakan pengrusakan fasilitas vital tersebut. Sementara dari pihak Jepang hanya kehilangan 225 prajuritnya. Dan di hari itu pula Tarakan resmi ada dalam cengkraman Jepang.

Jauh sebelum perang terjadi, beberapa orang Jepang masuk dengan beberapa macam profesi. Entah sebagai juru foto, pedagang, wartawan, bahkan pekerja seks. Tarakan adalah sebuah pulau di timur laut Kalimantan. Pada masa kolonial Tarakan menjadi ladang minyak bagi Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Minyak di sana sudah dicari sejak 1897. Minyak membuat pulau ini jadi penting untuk dipertahankan Hindia Belanda.

Demi menjaga Tarakan, seorang perwira menengah KNIL ditugaskan di sana. Letnan Kolonel Infanteri Simon de Waal sudah lebih dari 24 tahun berdinas di tentara kerajaan di Hindia Belanda (KNIL) pada awal 1942. Alumnus Akademi Militer Kerajaan di Breda tahun 1917 ini adalah orang nomor satu untuk urusan mempertahankan kota minyak Tarakan.

Bukan saja minyak yang hilang jika balatentara Jepang menguasai kota yang beda daratan dengan pulau Kalimantan itu, mengambilalih Tarakan pada akhirnya memudahkan jalan masuk Jepang dalam mencaplok Hindia Belanda bagian tengah.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password