Memoar Tatang S. Sang Komikus Rakyat Jelata Yang Melegenda

Image perempuan dan gambaran hantu lokal kerap muncul di karya komik Tatang Suhenra (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Pada medio tahun 80-an saat dunia komik Indonesia mulai surut, nama Tatang Suhenra atau lebih populer degan nama Tatang S. justru terkenal sebagai pembuat komik yang menampilkan karakter Punakawan seperti Gareng, Petruk, Bagong, dan Semar.

Punakawan adalah sosok karikatural dalam pewayangan Jawa yang merepresentasikan rakyat kelas bawah yang memiliki peran sebagai penghibur, mengasuh, membimbing, dan menjaga para ksatria yang berkuasa.

Berbeda dengan konsep punakawan dalam dunia pewayangan, dalam komik Tatang S. para punakawan ini tidak hadir sebagai pengasuh dari para ksatria. Mereka hadir untuk dirinya sendiri dan tidak melayani siapa pun.

Komik-komik hasil karya pria berdarah Sunda ini banyak disukai oleh khalayak luas terutama rakyat kelas bawah yang merasa terwakili oleh karakter para tokoh yang dihadirkan oleh Tatang S. Petruk dan Gareng yang paling sering muncul kerap digambarkan sebagai anak muda pengangguran, kerja serabutan, banyak utang, dan sesekali mancing ikan untuk menghabiskan waktu.

Dipilhnya tokoh punakawan, khususnya Petruk dan Gareng, sebagai pembawa cerita dengan karakter seperti itu adalah sikap Tatang S. untuk menyampaikan pesan bahwa kisah-kisahnya adalah cerita rakyat jelata, orang kebanyakan, dan masyarakat marginal yang ada di sekeliling pembaca dengan kehidupannya selalu penuh oleh lika-liku masalah.

Tema atau cerita yang diangkat oleh Tatang S. dalam setiap komiknya ini ada tiga, yaitu: Romansa, Horor, dan Super Hero. Tentunya semua tema yang Ia angkat ini amat kental dengan kehidupan rakyat jelata pada umumnya.

Namun, sebelum Tatang S. Terkenal dengan sosok Petruk-Gareng dalam setiap lembaran komik hasil aryanya, pada dekade 1970-an, ia gandrung sebagai pembuat komik silat. Telah banyak judul komik silat yang sudah dia buat, dan yang paling terkenal adalah “Si Gagu dari Goa hantu” yangterbit dalam tiga edisi. Komik itu sendiri dibuat untuk menyaingi “Si Buta dari Gua Hantu” yang saat itu juga sedang banyak digandrungi.

Oleh karena tergiur membuat epigon komik “Si Buta dari Gua Hantu”. Hal ini kemudian malah membawa masalah baginya. Tatang S. kemudian dicekal oleh kalangan komikus dan usailah kiprahnya menggarap cerita komik silat, oleh sebab tidak ada penerbit yang mau menerima orang yang telah cemar sebagai penjiplak karya orang lain.

Namun hal ini bukan murni kesalahan Tatang, tapi ini ada campur tangan sang penerbit yang merilis komik tersebut. Atas tawaran dari penerbit yang sebelumnya pernah menerbitkan komik ‘Si Buta Dari Gua Hantu” karya Ganes TH yang amat laku itu.

Oleh karena Ganes TH memutuskan untuk meninggalkan penerbit yang telah membesarkan namanya itu. Kemudian sang penerbit pun merasa kesal terhadap Ganes TH dan hendak membalas kekesalannya lewat Tatang S. dengan menawarkan untuk membuat komik “SI Gagu Dari Gua Hantu”. Dan Tatang pun termakan oleh muslihat dagang dari penerbit tersebut.

Namun berkat peristiwa itu, pada dekade 1980-an, ketika komik asing mulai berdatangan, Tatang S. menelurkan gagasan komik Petruk-Gareng dan berhenti untuk membuat komik silat. Dan diluar dugaan karya-karyanya sukses di pasaran, terutama di pasar arus-bawah. Ditambah Tatang S. juga sesekali menggarap komik kisah-kisah Nabi, di antaranya kisah Nabi Adam Khalifah Allah.

Dan yang paling laris di pasaran kala itu adalah komik Tatang dengan tema horror. Sejumlah komik Tatang S. yang mengangkat tema ini, antara lain adalah: Pocong Slebor, Hantu Tukang Ojek, Ririwa, Hantu Darah Kotor, Setan Emosi, Setan Perawan, Hantu Pohon Sawo, Dendam Mayat Busuk, dan masih banyak lagi.

Baca Juga:   Sejarah 14 Januari: Hari Lahirnya Sang Perdana Menteri Dari Tanah Sunda, Ir.Djuanda Kartawidjaja

Masyarakat Indonesia, khususnya kelas bawah yang akses pendidikannya terbatas, biasanya masih kental mempercayai hal-hal mistis. Inilah yang manjadi triger Tatang S. untuk mengangkat tema-tema horror dalam karya-karyanya. Perkampungan dengan permukiman yang jarang biasanya dijadikan sebagai latar dalam cerita hantu dalam komiknya ini.

Nuansa angker yang dipenuhi pepohonan sengaja diangkat untuk mendukung alur kisah. Suasana sunyi dan mencekam mengawali jalannya cerita. Tak jarang juga perkuburan pun dihadirkan untuk mendukung nuansa kengerian dalam setiap ceritanya.

Seiring perkembangan budaya populer yang mulai masuk kala itu, seperti film tentang para super hero yang datang dari luar negeri pun tak luput jadi bahan garapan dalam karya-karya Tatang S. Tokoh-tokoh seperti Batman, Robin, Superman, Megaloman, Spiderman, Robocop, dan The Flash ia hadirkan dalam karya-karyanya, tapi tetap dengan pendekatan lokal, sehingga yang muncul adalah judul-judul seperti Batman Tumaritis, Bisnis Cewek, Dua Jagoan, Ajal Cewek Mercurius, dan lain-lain yang tokoh utamanya tetap Petruk atau Gareng yang mengenakan kostum dan berkemampuan seperti para super hero tersebut.

Tak heran jika kemudian komik punakawan karya Tatang S. ini laris manis dan banyak diterbitkan oleh sejumlah penerbit seperti Gultom Agency, Jaya Agency, Sandro Jaya, Cahaya Agency, dan Nur Agency. Jangkauan distribusinya pun sampai ke pelosok desa di penjuru negeri.

Bagi pecinta komik karya Tatang S. pastinya sempat menerka-nerka identitas dari Tatang S ini. Itu bukan hal yang aneh pasalnya dirinya dulu memang diketahui sering berkali-kali ganti nama pena. Hingga akhirnya pada akhir 90-an dan awal 2000-an, penerbit sengaja memajang foto asli Tatang S di komik buatannya. Bukan tanpa tujuan, hal itu dilakukan agar pembaca paham mana komik ori atau KW milik Tatang S.

Dan pada bulan Maret tahun 2003, Tatang S. dikabarkan wafat karena penyakit diabetes. Satu hal yang selalu dikenang oleh pecinta komik lawas garapan Tatang S adalah kutipan yang selalu ada di komiknya, “Salam manis tidak akan habis. Salam sayang tidak akan hilang, buat semua pencinta karya saya, Tatang S”.

Tatang Suhenra ini adalah salah satu legenda komikus indonesia. Di mana pada zaman itu banyak pembuat komik yang mengadopsi cerita superhero barat, dirinya malah menunjukkan nuansa dan kearifan lokal negeri ini dalam setiap karyanya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password