Sejarah 28 Desember: Diselenggarakannya Konferensi Bogor (Konferensi Pancanegara II)

Konferensi Bogor merupakan kelanjutan dari Konferensi Colombo untuk mempersiapkan KAA (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Konferensi Asia Afrika (KAA) merupakan sebuah konferensi tingkat tinggi yang diadakan oleh negara-negara dari Asia dan Afrika. Konferensi ini diadakan pada tanggal 18-24 April 1955 dan sering disebut Konferensi Bandung karena memang diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung. Tujuan Konferensi Asia Afrika antara lain untuk mempererat solidaritas negara-negara di Asia dan Afrika serta melawan kolonialisme barat.

Penyelenggaraan KAA ini dipelopori oleh 5 negara yakni Indonesia, India, Burma (sekarang Myanmar), Pakistan dan Caylan (sekarang Sri Lanka). Latar belakang diselenggarakannya KAA, dikarenakan kondisi keamanan dunia yang belum stabil saat itu dan masih banyak negara yang dijajah, terutama negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Hasil Konferensi Asia Afrika ini berupa 10 poin kesepakatan dan pernyataan dalam Dasasila Bandung. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada tahun 1961.

Namun, terselenggaranya KAA itu terlebih dulu melalui proses yang cukup panjang, diawali dengan terselenggaranya Konferensi Colombo dan Konferensi Bogor. Konferensi Colombo (Konferensi Pancanegara I) terselenggara pada tanggal 28 April-2 Mei 1954 diadak di ibu kota Srilangka. Adapun wakil dari 5 negara yang hadir dan kemudian menjadi penggagas dan sponsor KAA sebagai berikut adalah Indonesia, yang pada waktu itu diwakili oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjoyo, India diwakili oleh Perdana Menteri Shri Pandit Jawarhalal Nehru, Pakistan diwakili oleh Perdana Menteri Mohammad Ali Jinnah, Burma (sekarang Myanmar), diwakili oleh Perdana Menteri Unu, dan Srilanka yang diwakili oleh Perdana Menteri Sir John Kotelawala.

Dalam konferensi ini Indonesia mengusulkan agar diadakan konferensi yang lebih luas jangkauannya, tidak hanya negara-negara Asia, tetapi juga beberapa negara di Afrika. Gagasan ini disambut positif, dan Perdana Menteri Ali Sastroamidjoyo mendapat mandat untuk menjajaki kemungkinan dilaksanakan konferensi Asia-Afrika.

Lalu pada penghujung tahun 1954 terselenggaralah Konferensi Bogor (Konferensi Pancanegara II) yang dimulai pada tanggal 28-31 Desember 1954. Konferensi ini merupakan kelanjutan dari Konferensi Colombo, di mana negara-negara sponsor akan mengevaluasi hasil penjajakan Indonesia dalam mempersiapkan KAA.

Hal-hal yang menjadi pokok pembicaraan dalam Konferensi Bogor ini adalah tujuan konferensi, tempat konferensi, agenda pembicaraan negara-negara yang akan diundang dan kesekretariatan. Rekomendasi yang diajukan dalam sidang ini diantaranya adalah; Mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung dalam bulan April 1955, menetapkan kelima negara peserta konferensi Colombo sebagai negara-negara sponsor, menetapkan 25 negara-negara Asia-Afrika yang akan diundang, dan menentukan tujuan dari konferensi Asia-Afrika itu sendiri.

Baca Juga:   Sejarah 15 September: Ketika GAM Berhasil Dilucuti Senjatanya

Dan akhirnya disepakati kalau Indonesia menjadi tuan rumah pada konferensi bersejarah tersebut, dan ditetapkan akan berlangsung pada akhir bulan April tahun 1955. Presiden Indonesia, Soekarno, kemudian menunjuk Kota Bandung sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika ini.

Pemerintah Indonesia kemudian membentuk Panitia Interdepartemental pada 11 Januari 1955 yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal Sekretariat Bersama dengan anggota-anggota dan penasehatnya berasal dari berbagai departemen, guna membantu persiapan-persiapan konferensi tersebut.

Dan di Bandung, yang menjadi tempat diadakannya konferensi, dibentuklah Panitia pada 3 Januari 1955, dengan ketuanya Sanusi Hardjadinata, Gubernur Jawa Barat kala itu. Panitia Setempat bertugas mempersiapkan dan melayani hal-hal yang berkaitan dengan akomodasi, logistik, transportasi, kesehatan, komunikasi, keamanan, hiburan, protokol, penerangan, dan lain-lain.

Gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun dipersiapkan sebagai tempat sidang-sidang konferensi. Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger, dan 12 hotel lainnya serta 31 bungalow di sepanjang Jalan Cipaganti, Lembang, dan Ciumbuleuit dipersiapkan sebagai tempat menginap para peserta yang berjumlah kurang lebih 1.500 orang.

Selain itu, disediakan juga fasilitas akomodasi untuk sekitar 500 wartawan dari dalam dan luar negeri. Keperluan transportasi dilayani oleh 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dengan jumlah 230 orang sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton bensin.

Dalam kesempatan memeriksa persiapan-persiapan terakhir di Bandung pada 7 April 1955, Presiden Indonesia Soekarno pun meresmikan penggantian nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwiwarna, dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika. Penggantian nama tersebut dimaksudkan untuk lebih menyemarakkan konferensi dan menciptakan suasana konferensi yang sesuai dengan tujuannya.

Pada 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada kepala pemerintah dari 25 Negara Asia dan Afrika. Dari seluruh negara yang diundang hanya satu negara yang menolak undangan itu, yaitu Federasi Afrika Tengah, karena memang negara itu masih dikuasai oleh orang-orang bekas penjajahnya, sedangkan 24 negara lainnya menerima baik undangan itu, meskipun pada mulanya ada negara yang masih ragu-ragu.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password