Sejarah 26 Desember: Gempa dan Tsunami Aceh

Seketika kondisi beberapa kota di Aceh lumpuh akibat gempa besar dan tsunami (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 15 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan besar dan gelombang tsunami menerjang wilayah Aceh. Bermula dari gempa beberapa kali, dan ombak setinggi kurang lebih 20 meter membuat beberapa kota di provinsi itu lumpuh. Kekuatan gempa yang terjadi berada di Samudra Hindia pada kedalaman sekitar 10 kilometer di dasar laut.

Wilayah sumber gempa berjarak sekitar 149 kilometer sebelah barat Meulaboh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa yang berlangsung selama kurang lebih 10 menit ini tercatat mempunyai magnitudo sekitar 9,0. Setelah itu gelombang tsunami mulai memberikan dampaknya pada wilayah Aceh dan sebagian di Sumatera Utara.

Tsunami ini kemudian bergerak menyebar ke arah pantai-pantai. Jarak pantai Sumatera terdekat dengan episenter gempa bumi utama diperkirakan 125 km. Kecepatan rambat gelombang tsunami dapat mencapai 800 km per jam di samudra dalam dan bebas. Mendekati pantai yang dangkal dan dengan kecepatannya yang besar, gelombang tsunami menjadi tinggi dan kemudian terhempas ke arah daratan.

Gempa ini menjadi gempa terkuat kedua yang pernah terekam dan menjadikannya sebagai salah satu dari sepuluh bencana terburuk sepanjang masa. Tercatat, sekitar 170.000 orang meninggal dunia dan puluhan ribu bangunan hancur setelah terhempas gelombang tsunami. Satu hari berselang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu menetapkan hari berkabung nasional dan darurat kemanusiaan serta bakti sosial selama tiga hari, terhitung mulai dari tanggal 27 Desember 2004 hingga 29 Desember 2004.

Bukan hanya di Indonesia, sejumlah negara sekitar Samudra Hindia pun terkena dampak gempa dan tsunami itu. Dahsyatnya getaran gempa tersebut bahkan dirasakan sampai Somalia, Afrika Timur yang berjarak 6.000 kilometer dari Samudra Hindia. Akan tetapi, kawasan yang paling parah terkena imbasnya adalah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Thailand, gelombang setinggi 10 meter menerjang lima provinsi yang terletak di sepanjang pesisir selatan, yaitu Songkhla, Phuket, Krabi, Phang Nga, dan Surat Thani.

Baca Juga:   Sejarah 15 Januari: Peristiwa Malari, Perlawanan Besar Pertama Terhadap Rezim Orde Baru

Yang lebih memperihatinkan lagi adalah kondisi di daerah pesisir India dan Sri Lanka. Sejumlah bangunan hancur dan terendam, sedangkan korban tewas yang belum sempat terangkut tampak berserakan di mana-mana. Korban meninggal di India sedikitnya 6.280 orang, Thailand 2.000 orang, Somalia 100 orang, Malaysia 51 orang, Myanmar 56 orang, dan Maladewa 100 orang. Diperkerikan jumlah keseluruhan korban dari berbagai negara termasuk Indonesia yang terkena dampak gempa dan tsunami tersebut mencapai 230.000 jiwa.

Gempa yang terjadi di perairan barat Aceh, Nicobar, dan Andaman, merupakan akibat dari interaksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Rentetan gempa besar yang mempunyai magnitudo 9,0 ini berpusat di dasar laut pada kedalaman 10 kilometer, yang tergolong gempa dangkal itu telah menimbulkan gelombang tsunami yang menerjang wilayah pantai di Asia Tenggara dan Asia Selatan, yang berada di sekeliling tiga pusat gempa tersebut.

Pergeseran batuan secara tiba-tiba yang menimbulkan gempa itu disertai pelentingan batuan, yang terjadi di bawah pulau dan dasar laut. Dasar samudra yang naik di atas palung Sunda ini mengubah dan menaikkan permukaan air laut di atasnya, sehingga permukaan datar air laut ke arah pantai barat Sumatera ikut terpengaruh. Proses ini juga akan menggoyang air laut hingga menimbulkan gelombang laut yang disebut tsunami.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password