Sejarah 20 Desember: Wafatnya ‘Si Jalak Harupat’ Otto Iskandar Dinata

Otto Iskandar Di Nata, dimuat sebagai ilustrasi pada mata uang pecahan Rp. 20.000,- (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Raden Otto Iskandardinata dilahirkan di Bojongsoang, Bandung pada 31 Maret 1897. Otto lahir dari keluarga bangsawan ternama. Ayahnya, Raden Haji Rachmat Adam, adalah seorang kepala desa. Tempat tinggalnya pun merupakan rumah paling besar dan megah se-Bojongsoang kala itu.

Anak ke 3 dari 9 bersaudara yang gemar bermain Bola serta menari Sunda dan juga pandai menabuh gamelan ini pernah menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung dan melanjutkan pendidikan di Kweek-school Onder-bouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) yang merupakan sekolah berasrama di Bandung.

Kemudian Otto melanjutkan pendidikannya di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Otto adalah orang yang memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi, dahulu Ia sering membaca koran De Expres, yang isinya kebanyakan berisi kecaman terhadap Belanda.

Dari sanalah kemudian muncul sikap perlawanan Otto terhadap Belanda, demi memperjuangkan hak dan harga diri Bangsanya sendiri. Setelah lulus dari sekolah guru, Otto mendedikasikan dirinya sebagai seorang Guru, yang mana sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Dengan menjadi guru, Otto beranggapan bahwa ia bisa menjadikan Bangsanya menjadi Bangsa yang berilmu, agar tak mudah lagi dijajah oleh bangsa lain.

Selain berotak cemerlang, Otto juga dikenal bernyali tinggi, tidak suka berbasa-basi, terutama dalam mengungkapkan pikiran dan isi hatinya. Karakter itulah yang kemudian memunculkan istilah ‘Si Jalak Harupat’ sebagai julukan bagi Otto Iskandardinata. Si Jalak Harupat adalah sebutan untuk ayam jantan yang kuat, pemberani, bersuara nyaring saat berkokok, dan sebagai ayam aduan ia adalah ayam jago yang sangat sulit dikalahkan.

Selain menjadi guru, Otto juga menaruh perhatian terhadap budaya Sunda. Pada tahun 1928, ia masuk ke Paguyuban Pasundan, kemudian terpilih menjadi ketua umum organisasi kebudayaan yang juga mencakup urusan pendidikan, sosial, politik, ekonomi, kepemudaan, serta pemberdayaan perempuan ini.

Sebelum itu, Otto pun sebenarnya sudah berkecimpung di kancah perhimpunan nasional sejak lama. Wadah pergerakan yang dimasukinya adalah antara lain Muhammadiyah, ia pernah menjadi guru di sekolah milik organisasi kemasyarakatan berbasis agama yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Selain Muhamadiyah Otto pun sempat aktif di organisasi Boedi Oetomo.

Otto Iskandardinata adalah Wakil Ketua Boedi Oetomo cabang Bandung sejak tahun 1921 hingga 1924. Kemudian dialihkan menjadi Wakil Ketua Boedi Oetomo cabang Pekalongan. Ia juga mewakili organisasinya itu sebagai anggota Gemeenteraad alias Dewan Kota Pekalongan.

Lalu, selama aktif di Paguyuban Pasundan, Otto juga tercatat sebagai anggota Volksraad, semacam Dewan Perwakilan Rakyat pada masa kolonial Hindia Belanda. Ia menjadi anggota parlemen selama tiga periode, yakni 1931-1934, 1935-1938, dan 1939-1942.

Selama berperan sebagai wakil rakyat, suaranya yang lantangnya kerap melontarkan kritik keras terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hal ini semakin menegaskan bahwa julukan Si Jalak Harupat memang pantas disematkan kepada Otto Iskandardinata.

Pasca menyerahnya Belanda kepada Jepang pada tahun 1942, Otto Iskandardinata beralih ke bidang jurnalistik dengan menjadi pemimpin surat kabar Tjahaja. Jurnalistik sebenarnya bukan bidang yang benar-benar baru baginya. Karena ia sempat terlibat di Sipatahoenan, surat kabar yang diterbitkan Paguyuban Pasu  ndan. Surat kabar dan medan perjuangan politik, di zaman pergerakan, memang tidak terpisahkan.

Otto menjadi salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk tanggal 1 Maret 1945 bersama tokoh-tokoh bangsa lainnya. Ia juga terlibat dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai pengganti BPUPKI.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan menjadi negara yang memiliki pemerintahan sendiri, Otto pun menempati posisi sebagai salah satu Menteri Negara pertama, bersama Mohammad Amir, Wahid Hasyim, Mr. Sartono, dan A.A. Maramis. Jabatan ini masih diembannya hingga terjadinya sebuah peristiwa tragis di akhir tahun 1945 yang merenggut nyawanya.

Baca Juga:   Sejarah 6 Juli: Wafatnya AT Mahmud, Sang Maestro Lagu Anak Indonesia

Bertugas sebagai Menteri Negara, salah satu tugas yang menjadi urusan Otto adalah persoalan keamanan, termasuk mengkoordinir pembentukan tentara kebangsaan yang saat itu masih bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Terkait permasalahan BKR ini memang cukup riskan dan sensitif, sebab urusan ini melibatkan sejumlah pihak dari latar belakang militer yang berbeda, di antaranya adalah mantan anggota Pembela Tanah Air (PETA), dan Heiho bentukan Jepang, serta bekas prajurit KNIL bentukan Belanda.

Pasalnya tidak semua pihak setuju dengan upaya penyatuan para mantan tentara itu ke dalam BKR. Mereka yang tidak sepakat pun kemudian membentuk laskar-laskar sendiri. Mereka cenderung tidak menyukai gaya diplomasi untuk peralihan pemerintahan sepenuhnya dari Jepang, seperti yang diusahakan oleh Otto dan pemerintahan republik. Bahkan cenderung memilih bertindak lebih frontal.

Meskipun belum sepenuhnya terbukti, tapi sebab itu lah yang ditengarai menjadi asal-muasal kematian ‘Si Jalak Harupat’. Beberapa referensi menyebut bahwa Otto diculik oleh salah satu laskar yang bermarkas di Tangerang, pada 19 Desember 1945, dan dibawa ke suatu tempat di pesisir Pantai Mauk.

Namun ada versi lain yang menyebut bahwa pelaku penculikan Otto ialah Laskar Hitam. Entah beranggotakan siapa saja Laskar Hitam ini, yang jelas mereka termakan isu bahwa Otto ia memiliki uang senilai 1 juta gulden yang didapat dari perwira Jepang yang bernama Ichiki Tatsuo. Uang tersebut berasal dari rampasan perang saat Belanda berhasil diusir dari Indonesia.

Namun ada satu hal yang paling menarik dari kemungkinan tersebut, adalah informasi Otto menguasai duit satu juta gulden pasti sangat terbatas pada kalangan elit saja. Hampir tidak mungkin anggota-anggota laskar dari pinggiran Tangerang mengetahui informasi ini. Bisa jadi ada tokoh lain yang memerintahkan Laskar Hitam untuk menghabisi Otto.

Teka-teki kematian Otto tak pernah terjawab hingga saat ini. Bahkan jenazah Otto pun belum ditemukan hingga detik ini. Dan akhirnya dengan “terpaksa” pemerintah pun menetapkan tanggal 20 Desember 1945 sebagai tanggal kematian Otto Iskandardinata.

Kemudian Otto Iskandardinata pun diangkat sebagai Pahlawan Nasional, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Dan sebuah monumen perjuangan bernama “Monumen Pasir Pahlawan” didirikan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat untuk mengabadikan perjuangannya. Selain itu nama Otto Iskandardinata pun diabadikan sebagai nama jalan di beberapa wilayah di Indonesia.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password