Sejarah 19 Desember: Soekarno Komandokan Operasi Militer Trikora

Tahun 1962, pemerintah Republik Indonesia melancarkan operasi militer bersandikan Operasi Trikora (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Tiga tahun pasca kemerdekaan, tepatnya pada Desember 1948, Republik Indonesia diserang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Simon Hendrik Spoor. Serangan itu diberi nama Operasi Gagak, yang mengincar Yogyakarta, yang pada waktu itu adalah ibu kota Republik. Dalam sejarah Indonesia, peristiwa itu tercatat sebagai agresi militer yang tak terlupakan.

Namun setahun kemudian keadaan menjadi berbalik. Berkat diplomasi dan tekanan internasional, Belanda terpaksa harus angkat kaki sesuai kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada akhir tahun 1949. Belanda pun harus mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Mengacu pada keputusan KMB, wilayah Indonesia meliputi bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Papua—yang dalam perjanjiannya akan diserahkan kepada Indonesia setahun setelahnya. Namun, perjanjian itu tak kunjung ditepati. Setelah lebih dari setahun, Papua yang kaya hasil tambang itu tak kunjung diserahkan kepada Indonesia. Sudah barang tentu hal ini membuat Indonesia berang. Apalagi KMB sangat merugikan Indonesia karena keharusan membayar utang Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden.

Akhirnya KMB kemudian dibatalkan. Bukan cuma itu, bahkan perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, akhirnya dinasionalisasi. Dengan begitu kekayaan negara tentu bertambah dari sini. Selain itu, pengusiran atas orang-orang Belanda pun dilakukan.

Melihat kejadian ini, Belanda pun mencium gelagat buruk dan akhirnya memperkuat Papua. Belanda lalu bersikap manis kepada orang-orang asli Papua. Lalu pada Februari 1961 diadakan pemilihan anggota parlemen baru dan Komite Nasional Papua pun mereka bentuk pada 19 Oktober 1961.

Lalu pada tanggal 4 April 1960 Belanda mengirimkan kapal-induk Karel Doorman ke Irian Barat, dengan alasan ingin mengadakan ”Pameran Bendera” (Vlagvertoon) yang diikuti beberapa kapal perang lainnya. Masih di bulan yang sama, kesatuan-kesatuan pertama dari Papua Vrijwilligers Corps atau Korps Relawan Papua mulai dididik. Korps tersebut sudah direncanakan sejak 1950 dan dilaksanakan dengan sangat lamban sekali oleh Belanda. Tapi pada 1960 mau tidak mau mereka mempercepat pembentukan korps ini.

Mengetahui akan hal ini, Soekarno pun tak tinggal diam, beserta para pembantunya yang tahu bahwa Belanda tidak akan mempermudah lawannya untuk menyerang Papua. Lalu, pada 6 Maret 1961, sebuah pasukan pemukul berjumlah besar dengan nama Korps Tentara ke-1 (Korra-1) pun dibentuk. Brigadir Jenderal Soeharto kala itu menjadi Panglimanya. Korra lalu berubah jadi Tjadangan Umum Angkatan Darat (Tjaduad) dan belakangan lagi jadi Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Tak hanya itu, pada 11 Desember 1961 di level elite pemerintah pun dibentuk Dewan Pertahanan Nasional (Depertan). Tiga hari kemudian, dalam sidang Depertan tanggal 14 Desember 1961 terbentuklah Komando Operasi Tertinggi (Koti). Di organisasi itu Soekarno bertindak sebagai orang nomor satu, disusul A.H. Nasution dan panglima-panglima angkatan lainnya.

Baca Juga:   Sejarah 14 September: HR Rasuna Said, Singa Podium dari Tanah Minang

Rakyat Indonesia, yang kala itu sebagian besar tidak banyak tahu isi dari KMB dan pentingnya Papua, dijadikan target kampanye oleh Soekarno. Kemudian Soekarno memilih tanggal 19 Desember 1961, atau tepat 58 tahun yang lalu, sebagai titik awal kampanye sekaligus mengkomandokan pelaksanaan Operasi Trikora. Tempatnya adalah Alun-alun Utara, Yogyakarta.

Tanggal itu dipilih bukan tanpa alasan, karena tiga belas tahun sebelumnya, pada 19 Desember 1948, Yogyakarta diinjak-injak tentara Belanda di bawah komando Jenderal Simon Hendrik Spoor. Di dekat alun-alun itu, di dalam Istana Negara Gedung Agung, yang terletak di ujung selatan Jalan Malioboro, Soekarno dan pejabat lainnya ditawan. Pihak Indonesia mengenang peristiwa ini sebagai Agresi Militer Belanda II. Masa lalu suram itu pun seolah-olah hendak ditimbun dengan memori baru soal perang terhadap Belanda untuk merebut Irian barat.

Kemudian Soekarno dan para pembantunya terus memperkuat pasukan. Soekarnopun  membentuk komando mandala. Mayor jendral Soeharto yang ditunjuk dan diangkat sebagai panglima perang untuk melawan belanda merebut irian barat. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.

Pada intinya tujuan trikora adalah merebut kembali irian barat dari belanda. Lebih jelasnya lagi ada di dalam isi trikora yaitu menggagalkan pembentukan negara boneka papua buatan Belanda. Yang kedua adalah mengibarkan bendera merah putih di wilayah irian barat yang termasuk tanah air Indonesia. Yang ketiga adalah siap mempertahankan kemerdekaan, kesatuan tanah air Indonesia dan bangsa.

Lalu pada tahun 1962, pemerintah Republik Indonesia melancarkan operasi militer bersandikan Operasi Trikora. Semua angkatan perang Republik Indonesia dikerahkan untuk merebut irian barat. Beberapa pasukan khusus seperti, Komando Pasukan Gerak Tjepat AURI, RPKAD (TNI AD), dan Kopaska (TNI AL) juga perintahkan untuk ikut andil dalam operasi ini dan ikut serta dalam misi penyusupan, sabotase, intelijen, dan melancarkan perang secara gerilya.

Pasukan Kopaska menjadi ujung tombak dalam pertempuran di laut. Pasukan ini dikirim menjadi pasukan yang paling akhir dikirimkan ketika APRI akan melancarkan serangan besar-besaran melalui operasi militer bersandi Jayawijaya. Pasukan ini berangkat dari Jakarta ke Surabaya dengan misi rahasia. Menuju Gudang senjata PAL yaitu penataran angkatan laut, tetapi saat itu persediaan senjata tidak terlalu banyak karena sebagian sudah terpakai.

APRI juga mengerahkan pesawat pembom nuklir TU-16 buatan Rusia. Melihat ini semua, membuat Belanda kerepotan dan akhirnya lebih memilih langkah diplomasi dan menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia melalui PBB pada 15 Agustus 1962.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password