Kisah Pria Jatuh ke ‘Jurang Maut’ Gegara Pinjam di 20 Fintech

Foto: Istimewa

Bosscha.id– Mudahnya meminjam di peer-to-peer(P2P) lending plus pengawasan regulator rendah menjadi celah yang manfaatkan untuk terus menarik utang. Alhasil utang menggunung dan penghasilan habis buat bayar utang fintech.

Hal inilah yang dirasakan  Engineer Telekomunikasi Peng Jieze. Ia memiliki hobi gonta-ganti smartphone baru dan sepatu kets mahal. Menurutnya hobi yang dijalankannya tidaklah berbahaya.

Awalnya, untuk ia mengajukan pinjaman  300 yuan atau setara US$58 (Rp 812 ribu) ke salah satu pinjaman ke fintech lending di China. Tidak pakai ribet, cukup dengan ponsel menjadi alasan ia meminjam ke fintech.

Kemudahan mengajukan dan persetujuan pinjaman yang cepat membuatnya ketagihan untuk meminjam lagi. Akhirnya dia meminjam di 20 fintech sekaligus dan utangnya membengkak hingga 100 ribu yuan (Rp 201 juta).

“Tidak peduli berapa banyak uang yang saya hasilkan, saya tidak memiliki apa pun yang tersisa untuk diri sendiri dan harus menggunakan hampir semua penghasilan melunasi utang,” kata Peng Jiezo seperti dikutip dari The Strait Times, Rabu (18/12/2019). Ia menyebut perangkap utang ini sebagai “jurang maut”.

Tahun ini, masalah baru muncul. Pemerintah China menutup ribuan fintech lending, sebagian besar yang ditutup merupakan tempat ia meminjam uang. Alhasil, ia harus meminta orang tuanya melunasi pinjaman.

Seorang wanita berusia 22 tahun asal Shangdong Timur juga bermasalah dengan fintech lending. Kemudahan yang ditawarkan pinjaman online ini membuatnya berutang hingga 200.00 yuan (Rp 402 juta).

Baca Juga:   Catat, Ini Daftar 99 Investasi Bodong & Modus Busuknya Jebak Warga

Tumpukan utang ini dipakai membayar uang sewa dan berbelanja. Tumpukan utang ini membuatnya malu sehingga berencana bunuh diri.

“Rasa malu dan turunnya motivasi membuat saya ingin mengakhiri hidup,” jelasnya.

Chen Baihua, pria berusia 25 tahun dari timur Provinsi Zhejiang telah berutang 130.000 yuan (Rp 262 juta). Ia melunasi utang ini dengan meminta bantuan pada orang tua. Pengalaman ini menyebabkan ia ‘trauma’ meminjam dan harus menelan pil pahit karena kredit ratingnya buruk, yang membuatnya kian sulit meminjam ke lembaga keuangan.

“Orang tua saya mengatakan mereka hanya akan membantu saya kali ini saja. Jika itu terjadi lagi, mereka takkan perduli lagi apakah saya hidup atau mati,” katanya. “Uang mudah bisa dengan mudah membuatmu kesal.”

Source: CNBC Indonesia

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password