Muhammad Saleh Kurnia, Sang Pionir Supermarket Modern di Indonesia

Sosok penting dibalik suksesnya Hero Supermarket. MS Kurnia berhasil mendirikan supermarket modern pertama di Indonesia (Dok. Istimewa)

Bosscha.id – Nama Muhammad Saleh Kurnia pasti asing bagi sebagian orang. Tapi, bagi kalian terutama anak 90-an pasti tidak asing lagi dengan Hero Supermarket. Tahukah Anda, bagaimana kisah perjalanan panjang Muhammad Saleh Kurnia sang pendiri Hero Supermarket, sekaligus pelopor konsep Supermarket modern di Indonesia?.

Muhammad Saleh Kurniawan, adalah sosok penting dibalik suksesnya Hero Supermarket. Pria kelahiran Sukabumi ini berhasil mendirikan supermarket modern pertama di Indonesia yang diberi nama Hero Mini Supermarket pada 23 Agustus 1971, yang berlokasi di Jalan Falatehan No 23 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kurnia melihat peluang bisnis ini pada awal 1970-an. Ia meLihat orang-orang asing yang bekerja di Indoneisa, mereka harus pergi ke Singapura 3-4 kali hanya untuk berbelanja makanan dan minuman barat. Hal itu memberinya ide untuk mengimpor makanan dan minuman yang dibutuhkan para ekspatriat dan menjualnya di Jakarta.

Berdasarkan nasihat Charles Turton, temannya yang berasal dari Kanada, Kurnia dan istrinya Nurhajati pergi ke Singapura untuk melakukan survei tentang supermarket. Setelah mengunjungi beberapa supermarket modern di sana, Kurnia pun siap dan yakin atas prospek bisnis baru ini jika diterapkan di Indonesia.

Namun pada awal perjalanannya Hero Mini Supermarket tidaklah mulus. Banyak makanan yang terbuang karena tidak terjual. Selain itu, waktu kerjanya dinilai kurang menguntungkan. Kurnia berpikir untuk membangun gudang spesial untuk makanan segar dan mengatur waktu kerja para pegawai demi mengatasi masalah tersebut.

Pada era 1970-an, kebanyakan supermarket tutup di hari Minggu dan hari libur. Hal ini membuka peluang bagi Kurnia untuk membuka Hero Supermarket di hari-hari tersebut. Para pelanggan menyambut gembira. Kesuksesan Hero ini akhirnya ditiru oleh supermarket lainnya yang mulai buka di hari Minggu dan hari libur.

Hero menjadi pelopor supermarket yang menerapkan jam belanja alternatif di Indonesia. Kegigihan dan keuletan Kurnia dan Nurhajati membuat bisnis Hero terus berkembang meski kadang menghadapi pasang surut. Hingga 1980, Hero Supermarket berhasil membuka sembilan cabang di Jakarta.

Tahun 1980-an ini pula adalah masa keemasan Hero. Perusahaan berkembang pesat sedangkan supermarket lainnya yang muncul belakangan belum mampu menyaingi Hero. Pada 1989, Hero Supermarket menawarkan 15% sahamnya ke publik melalui Bursa Efek Jakarta (saat ini Bursa Efek Indonesia). Ketika itu, Hero sudah memiliki 26 gerai dan 3.000 pemasok (300 diantaranya adalah produsen besar. Pada 21 Agustus 1989, saham Hero Supermarket dengan kode HERO mulai ditransaksikan di bursa.

Pada saat Hero Group sedang berada di puncak kejayaannya. Muhammada Saleh Kurnia meninggal pada 10 Mei 1992. Istri Kurnia, Nurhajati sempat bingung, tidak percaya diri untuk melanjutkan bisnis Hero setelah ditinggal sang suami. Akan tetapi, Nurjahati mengingat pesan suaminya, “Sampai tahun 2000, apabila Tuhan memberkati, mungkin kita bisa mencapai 100 cabang.” Karena pesan itu, kemudian Ia memperoleh keprcayaan diri untuk mengelola Hero Group.

Baca Juga:   Tirto Utomo, Pelopor Air Minum Kemasan yang Sempat Dianggap 'Gila' karena Menjual Air Minum

Hero Group kemudian menjadi member dari ARAN (Asian Retail Affiliation Network). Maka dari itu, Hero Group bisa melakukan aktivitas bisnis dan bekerja sama dengan ritel besar di Asia.
Hampir setiap tahun, empat supermarket dibuka di seluruh Indonesia. Tahun 1996 adalah tahun puncak dimana Sembilan supermarket dibuka. Ini adalah pencapaian yang luar biasa pada saat itu.

Memasuki tahun 1998, Hero Group tidak bisa melarikan diri dari krisis keuangan. Selama kerusuhan Mei 1998, beberapa Hero Supermarket dibakar oleh penduduk. Untungnya, beberapa orang masih percaya dan mempunyai “rasa memiliki” kepada Hero.

Saat kerusuhan dan krisis selesai, ada 68 Hero Supermarket yang bertahan dan berjalan seperti biasa. Hero Group pun memiliki produk merek sendiri (Private Label). Dengan strategi ini, Hero mampu mendorong harga semenjak promosi dan harga kemasan telah dipotong tanpa menurunkan kualitas. Hal ini mendapatkan respon baik dri pelanggan.

Hero Group lagi-lagi menunjukkan kembali kekuatannya. Melengkapi kesuksesan Hero Supermarket, bisnis Hero Group berkembang menjadi beberapa grup. Sampai tahun 2000, unit bisnis Hero Group seperti Apotek Guardian mempunyai 38 cabang, Starmart minimarket mempunyai 26 cabang, Mitra Toko Diskon mempunyai 8 cabang dan banyak unit bisnis lainnya.

Kemudian Hero juga melebarkan sayapnya dan berubah menjadi Giant untuk segmen Hypermarket. Giant Hypermarket pertama dibuka di Indonesia pada 2002, berlokasi di Villa Melati Tangerang. Namun pada tahun 2013, bisnis Giant menjalani perubahan identitas dari Giant Hypermarket dan Giant Supermarket menjadi Giant Ekstra dan Giant Ekspres.

Perubahan ini juga diikuti dengan perubahan konsep dan pembedaan yang jelas antara kedua format tersebut, dimana Giant Ekstra akan menjadi pemimpin pasar dalam harga murah dengan produk yang lengkap untuk kebutuhan bulanan konsumen dan Giant Ekpres akan menjadi pemimpin pasar dalam harga murah dengan pelayanan cepat untuk melayani kebutuhan mingguan konsumen.

Meyakini pertumbuhan demografi di perkotaan yang semakin berkembang ke arah hunian vertikal dibarengi terjadinya peningkatan penghasilan per kapita yang konsisten, HERO Group merealisasikan rencana kehadiran gerai furnitur berkelas global, IKEA.

Kehadiran IKEA dengan jenis produk yang berbeda dengan gerai HERO Group selama ini menegaskan semangat kepeloporan dan menjadi pelengkap atas keberadaan dari gerai yang ada sebelumnya, tanpa ditandai adanya potensi pengalihan segmentasi pelanggan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password