Asal Usul Kerupuk, Penganan Yang Selalu Setia Jadi Teman Makan

Kerupuk yang menjadi kesukaan banyak orang ini memiliki tekstur yang kering dan renyah (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Kerupuk adalah penganan ringan yang pada umumnya dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sampai matang, kemudian dipotong tipis-tipis, dikeringkan di bawah sinar matahari sampai kering dan digoreng.

Hampir di setiap rumah atau warung makan menyediakan kerupuk sebagai pendamping makanan lainnya. Banyak makanan yang jika ditambahkan kerupuk maka akan terasa lebih sedap, contohnya seperti nasi goreng, bubur ayam, gado-gado, atau soto. Kerupuk yang menjadi kesukaan banyak orang ini memiliki tekstur yang kering dan renyah.

Konon, cerita legenda yang beredar di masyarakat tentang kerupuk adalah diambil dari kisah nyata sebuah keluarga miskin yang mempunyai banyak anak. Mereka sulit untuk bertahan hidup karena tidak mempunyai uang yang banyak untuk mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya.

Oleh sebab itu, mereka memanfaatkan sawut atau ketela pohon yang sudah diparut untuk menjadi lauk yang dimakan bersama nasi. Cara mereka membuat sawut adalah dengan mengambil ketela pohon lalu diparut dan diberi air.

Namun, menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, kerupuk sudah ada di Pulau Jawa sejak abad ke-9 atau 10 yang tertulis di prasasti Batu Pura. Di situ tertulis kerupuk rambak (kerupuk dari kulit sapi atau kerbau) yang sampai sekarang masih ada dan biasanya jadi salah satu bahan kuliner krecek.

“Kerupuk dengan bahan kulit ternak dibuat dengan cara sesudah lapisan selaput dibuang dan bulunya dihilangkan biasanya dengan cara dibakar, kulit digodok hingga empuk kemudian diiris-iris dan dijemur hingga kering,” tulis AG Pringgodigdo dalam Ensiklopedi Umum.

Pada perkembangannya, kerupuk juga menyebar ke berbagai wilayah pesisir Kalimantan, Sumatera, hingga Semenanjung Melayu. Berbeda dengan pulau Jawa, masyarakat Melayu di sana menjadikan kekayaan laut seperti ikan hingga udang, dioalah menjadi kerupuk.

Hal ini tercatat dalam naskah Melayu karya Abdul Kadir Munsyi saat menyebut Kuantan (Malaysia), sekitar abad 19, dia juga membahas keropok (kerupuk). Kerupuk mulai disukai di mancanegara sedari masa kolonialisme Hindia Belanda dan dianggap jadi pelengkap yang harus ada dalam berbagai kuliner Nusantara yang mereka santap.

Meski awalnya dianggap pelengkap, namun perlahan kerupuk mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat bangsa Eropa. Sampai-sampai ada ungkapan “kurang nikmat menyantap makanan Nusantara tanpa kerupuk”.

Di Suriname yang jadi tempat migrasi orang Jawa di masa kolonial, kerupuk jadi makanan yang populer. Bagi orang-orang mancanegara, kerupuk jadi sesuatu yang melekat dan menarik minat karena menganggap kerupuk adalah identitas kuliner Indies (Hindia Belanda).

Selain kerupuk kulit, menurut Pringgodigdo, kerupuk juga terbuat dari tepung singkong (tepung kanji), tepung terigu sedikit dan garam secukupnya ditambah daging udang atau ikan. Jenisnya bermacam-macam tergantung bahan lain yang ditambahkan, misalnya kerupuk udang atau kerupuk ikan.

Nama dagang kerupuk juga biasanya diambil dari nama bahan tambahannya: kerupuk udang, kerupuk (ikan) tenggiri, atau jenis kerupuk lainnya. Selain dari bahan baku, penamaan kerupuk juga biasanya mengacu pada tempat dimana kerupuk itu dibuat, seperti kerupuk Sidoarjo, kerupuk Palembang, atau daerah lainnya.

Ada juga nama dagang yang menggunakan nama pemilik perusahaannya. Misalnya, kerupuk “Sudiana” di Jalan Kopo Bandung. Sebelumnya, Sudiana bekerja di pabrik kerupuk milik Sahidin. Keuletannya membuat dia diangkat menantu oleh Sahidin dan membangun perusahaannya sendiri.

Sahidin dan Sukarma, pengusaha kerupuk asal Tasikmalaya, memulai usahanya sejak tahun 1930 di daerah Jalan Kopo depan Rumah Sakit Emanuel Bandung. Mereka begitu tersohor sehingga namanya diabadikan menjadi nama gang.

Buruh-buruh pabrik yang pernah bekerja di pabrik mereka tidak sedikit yang bisa berdiri sendiri. Bahkan, ratusan pengusaha kerupuk di Bandung, sebelumnya pernah bekerja pada Sukarma dan Sahidin. Sebagian lainnya, malah sudah tersebar hampir di seluruh penjuru Indonesia, dengan beragam jenis kerupuk hasil produksinya masing-masing.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password