Sejarah 11 Desember: Wafatnya Seniman Jenius, Harry Roesli

Bahaya Malaria Ala Harry Roesli
Harry Roesli bukan hanya seorang komposer yang “biasa-biasa saja”, namun dia lebih lantang menyuarakan apa yang ingin dia lakukan (Dok Istimewa)

Bosscha.id – Harry Roesli memiliki nama lengkap Djauhar Zahrsyah Fachrudin Roesli, lahir pada 10 September 1951 di Bandung, Jawa Barat. Ayahnya, Roeshan Roesli adalah seorang Jenderal TNI dan  ibunya, Edyana bekerja sebagai seorang dokter. Harry Roesli adalah cucu dari seorang pujangga besar, Marah Roesli yang terkenal lewat karyanya Sitti Noerbajja (1922).

Perkenalan Harry dengan dunia musik terjadi kala ia mulai rutin mendengarkan The Rolling Stones, Gentle Giant, hingga John Milton Cage Jr. Di antara banyak musisi yang ia dengarkan, Harry terpikat pada sosok Frank Zappa.

Seiring bertambahnya usia, Harry kian mencintai musik. Kecintaan ini pula yang membuatnya menentang terhadap orangtua. Di saat ketiga kakaknya mengambil jalan seperti sang ibu untuk menjadi dokter, Harry mantap memilih musik sebagai jalan hidupnya.

Tentu, keputusan Harry ini mengejutkan ayah dan ibunya. Padahal Harry dikenal sebagai anak yang penurut, orang tuanya mempunyai pandangan bahwa jadi musisi tak menjamin masa depan. Bermain musik cukup sebatas pada hobi, tak perlu diseriusi. Kira-kira begitulah pandangan orang tua Harry.

Di tengah penolakan itu, dukungan untuk Harry datang dari ketiga kakaknya. Mereka membela pilihan Harry dan mencoba meyakinkan keluarga dengan argumen bahwa kalau memang musik bisa membuat Harry bahagia, biarkan saja. Kedua orangtua Harry pun luluh. Harry diizinkan untuk serius di dunia musik, dengan pendidikan harus tetap jalan terus.

Restu dari kedua orangtua membuat Harry termotivasi. Ia lalu meninggalkan kuliahnya di Fakultas Teknik Mesin ITB dan pindah ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada tahun 1978, Harry bahkan bertolak ke Belanda untuk menjalani studi musik di Rotterdam Conservatorium. Ia mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM). Butuh tiga tahun bagi Harry untuk menyelesaikan proses belajar dan meraih gelar doktoralnya.

Lalu pada tahun 1981, ia kembali ke Indonesia. Di Tanah Air, semangat Harry tak dapat dibendung lagi. Ia terus melahirkan berbagai karya, baik musik maupun teater. Seolah ingin membuktikan kepada orang tuanya bahwa pilihannya tak salah: musik bisa menghidupi dan membuat dirinya bahagia.

Pada tahun ini pula, Harry Roesli resmi menikah dengan sang istri Kania Perdani Handiman dan kelak dikaruniai dua anak laki-laki kembar, Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana. Kedua putranya tidak secara formal memperlajari seni, tetapi sampai saat ini kedua anaknya menjadi penerus salah satu cita-cita Harry, yang memiliki empati terhadap anak-anak jalanan untuk dibina.

Sebagai seorang seniman Harry Roesli bukan hanya seorang komposer yang “biasa-biasa saja”, namun dia lebih lantang menyuarakan apa yang ingin dia lakukan. Harry Roesli menuangkan berbagai kreativitas seninya terhadap idealisme seorang “seniman sosial” yang bergerak untuk memperhatikan kehidupan anak-anak jalanan. Ia berdiri dalam tiga paradigma yang kritis terhadap rezim pemerintahan orde baru yang tentunya selalu bertindak otoriter, mendidik dan berkarya sebagai seorang seniman yang utuh.

Karya-karyanya yang seolah jauh dari nilai komersil merupakan alat yang digunakan dalam mengekspresikan perasaan hatinya terhadap situasi sosial dan politik yang sedang terjadi. Beberapa dari ekspresi itu sering ditularkan kepada anak didiknya lewat berbagai cara, termasuk mewadahi para anak-anak jalanan lewat pelatihan musik.

Baca Juga:   Sejarah 15 Januari: Peristiwa Malari, Perlawanan Besar Pertama Terhadap Rezim Orde Baru

Segala bentuk kegiatan berkesenian yang terjadi di dalamnya dihimpun dalam Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Di dalam tubuh RMHR sendiri terdapat banyak produk, salah satunya adalah Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB). Terlepas dari berbagai persoalan di dalamnya, RMHR masih tetap eksis hingga saat ini, dan memiliki formula yang unik dalam merekrut anak-anak jalanan dan melatih musiknya.

Sikap kritis Harry bukannya tanpa hadangan. Berkali-kali ia harus kena sensor dan diciduk aparat Orde Baru akibat muatan karyanya yang terlampau vulgar dan kritis menyerang rezim. Pada Desember 1979, contohnya, pementasan Ken Arok di Semarang terpaksa diserbu tentara. Tak hanya itu, Harry pun juga kena sikat dan ditahan selama beberapa hari. Namun, tak lama kemudian, Harry bebas berkat lobi-lobi sang ayah yang punya jabatan mentereng di militer.

Pada 1990, Harry lagi-lagi mesti berhadapan dengan aparat Orde Baru. Waktu itu, bersama Teater Koma, Harry sedang menggarap pementasan bertajuk Opera Kecoa. Rencananya, Opera Kecoa bakal dimainkan di empat kota di Jepang (Tokyo, Osaka, Fukuoka, dan Hiroshima). Tapi, pentas tiba-tiba dilarang. Upaya audiensi dengan DPR dan Menkopolkam Sudomo juga tak membuahkan hasil.

Harry Roesli adalah seniman yang meramu banyak dimensi, baik itu musik maupun teater, menjadi sebuah medium untuk bercermin, mengkritisi, dan mengingatkan bahwa pernah ada satu masa di mana negeri ini diselimuti kegelapan, keculasan penguasa, dan ketimpangan. Harry tak pernah lelah bersikap, sebagaimana ia tak pernah berhenti untuk membikin karya. Suaranya lantang, musiknya bergemuruh, dan kata-katanya meluncur tanpa rasa takut.

Harry Roesli akhirnya meninggal dunia, pada Sabtu 11 Desember 2004 pukul 19.55 WIB. Harry, sebelumnya sempat menjalani perawatan sejak 30 November. Harry Roesli meninggal dunia pada usia 53 tahun. Harry meninggalkan seorang istri Kania Perdani Handiman serta dua anak kembar La Hami Krisna Parana Roesli dan La Yala Krisna Patria Roesli.

Profesor Psikologi Musik dari Rotterdam Conservatorium Belanda ini menderita serangan jantung dan langsung dilarikan ke RS Boromeus Bandung pada 30 November 2004 lalu, akibat tekanan darah rendah dan kadar gula tinggi. Harry memang telah mengidap penyakit diabetes dan hipertensi. Harry kemudian dirawat di RS Jantung Harapan Kita Jakarta sejak 3 Desember 2004 lalu. Di rumah sakit ini, ia menjalani pemasangan balon di jantung.

Seniman yang kerap memakai pakaian hitam-hitam ini kemudian menjalani pemasangan balon kedua, kateterisasi jantung, dan pemasangan stent pada 4 Desember 2004. Namun kondisinya tetap lemah. Makanan pun diberikan lewat infus.

Lalu kondisi cucu sastrawan Marah Rusli ini terus memburuk. Hingga akhirnya Harry meninggal dunia di ruang ICU. Sampai akhir hayatnya seniman jenius ini setidaknya sudah merilis 23 album. Selain itu, Harry juga tercatat sebagai pengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password