BUMD KBB Merugi Gara-gara Pipa Ilegal Bermunculan di Sungai Cijanggel

Bosscha.id

Bosscha.id– Bermuculannya pipa-pipa baru yang diduga ilegal berada di sumber mata air Sungai Cijanggel di Kecamatan Cisarua, berdampak pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bandung Barat (KBB), PT Perdana Multiguna Sarana (PMgS) yang mengalami kerugian cukup signifikan. Pelayanan air kepada sejumlah pelanggan BUMD terpaksa harus terhambat dan digilir empat hingga tujuh hari sekali.

“Temuan pipa baru tersebut sangat merugikan lantaran debit air semakin berkurang. Bahkan setelah kami kami cek ke lapangan (sungai cijanggel), ternyata ada 4 pipa baru dengan ukuran 6 inci, itu sangat besar dan berdampak padat debit air. Biasanya kalau turun hujan seperti saat ini debit air bisa mencapai 40 sampai 50 liter per detik, tapi sekarang hanya 18 liter per detik saja,” kata Direktur BUMD PT PMgS KBB, Denny Ismawan didampingi Manager Perencanaan PT PMgS, Yovita Yulia Dewi saat ditemui dikantornya, Selasa (10/12/2019).

Menurut Denny, dengan kondisi tersebut sehingga pihaknya melaporkan tem kepada pihak Perhutani selaku pemilik kawasan tersebut. Dengan laporan tersebut, BUMD berharap ada tindakan tegas jika itu terbukti melanggar dan tak memiliki izin.

“Makanya kami laporkan langsung ke Perhutani agar ditertibkan, kalau bisa ada tim dari Perhutani yang mengawal dan mengawasi secara khusus,” tegasnya.

Denny mengaku tak mengetahui secara pasti munculnya pipa tersebut milik perorangan atau pelaku usaha. Namun, bagi dirinya pipa tersebut sangat mengganggu lantaran berada di kawasan milik BUMD.

Baca Juga:   Angka Pernikahan Dini Tinggi, KPAI Bandung Barat: Segera Terbitkan Perda KLA

“Dalam kontrak juga kawasan BUMD sekian, terus milik yang lain sekian. Tapi, tiba-tiba ada muncul pipa baru di area BUMD, ini sangat merugikan buat kami. Akibatnya banyak pelanggan yang komplain karena harus digilir empat sampai tujuh hari sekali. Kami masih menunggu jawaban dan solusi dari Perhutani,” katanya.

Denny menambahkan, minimnya debit air saat ini membuat pihaknya harus menahan calon pelanggan baru. Dengan alasan lantaran pasokan air saat ini belum stabil.

“Kalau daftar tunggu untuk menjadi pelanggan baru sudah banyak, ada ratusan orang termasuk dari perumahan. Tapi, kalau kondisinya seperti ini, kami tahan dulu. Sekarang fokus melayani 4.800 pelanggan walaupun masih dengan cara digilir,” tegasnya.

Lebih lanjut Denny menambahkan, kini BUMD terus berusaha memperbaiki layanan kepada pelanggan agar berjalan optimal. Terlebih, kebutuhan air menjadi nomor satu bagi masyarakat dalam memenuhi kehidupan sehari-hari.

“Petugas kami selalu bersiaga dan memantau di lapangan. Mulai dari memeriksa kebocoran pipa, laporan pelanggan, hingga memantau debit air disumbernya,” katanya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password