Sejarah 9 Desember: Terjadinya Tragedi Pembantaian Rawagede

Lebih dari 431 penduduk Rawagede menjadi korban pembantaian tentara Belanda (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Banyak di antara kita yang masih belum mengetahui tentang tragedi kemanusiaan dan kejahatan perang Rawagede yang dilakukan oleh Tentara Belanda pada masa pendudukan mereka di Indonesia. Karena sejarah tragedi ini tidak pernah menjadi sejarah nasional, baik dalam dunia pendidikan maupun dokumenter perjalanan sejarah bangsa.

Sejarah Tragedi Rawagede yang memilukan ini terjadi pada 9 Desember 1947, dimana Tentara Belanda melancarkan agresi militer pertama dan melakukan pembantaian terhadap lebih dari 431 penduduk Rawagede.

Ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang. Pertempuran kemudian berkobar di daerah antara Karawang dan Bekasi, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dari kalangan sipil. Pada tanggal 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan pembersihan. Dalam peristiwa ini 35 orang penduduk Rawagede dibunuh tanpa alasan jelas.

Desa Rawagede sekarang memang sudah tidak ada lagi dan berganti dengan nama Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang. Meski sekarang Desa Rawagede sudah tidak ada dan berganti nama menjadi  Balongsari, namun kenangan pahit tentang tragedi Rawagede ini menyisakan trauma tersendiri bagi warga desanya, khususnya pada beberapa saksi mata yang terlibat langsung atas tragedi tersebut.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat setempat, dan sesuai dengan ingatan para pelaku sejarah yang masih hidup, tragedi Rawagede ini berawal dari gigihnya masyarakat Rawagede dalam menyembunyikan informasi keberadaan pejuang kemerdekaan pada waktu itu yang membuat Tentara Belanda menjadi marah sehingga terjadilah tragedi pembantaian tersebut.

Sebenarnya isu Tragedi ini sempat mencuat pada tahun 1991, dimana kala itu Sukarman anak dari salah satu korban pembantian yang bernama Sukardi, seorang pejuang yang lolos dari tragedi pembantaian Rawagede, menulis buku yang berjudul ‘Riwayat Singkat Makam Pahlawan Rawagede’.

Baca Juga:   Mengenal Ringo Starr, Sosok Penting yang Menyatukan The Beatles

Tapi sayangnya buku ini kurang mendapatkan apresiasi serius dikalangan masyarakat maupun pemerintah Indonesia, dan hanya menarik perhatian para veteran termasuk Pangdam Siliwangi saat itu, Mayjen TNI Tayo Tarmadi. Mayjen TNI Tayo Tarmadi kemudian memprakarsai pendirian Yayasan Rawagede dan mengumpulkan kuburan para korban dalam satu lokasi dan mendirikan monumen Rawagede.

Ironisnya, di Belanda buku itu cukup menyedot perhatian akademisi, politisi dan wartawan hingga kemudian dicetak ulang. Masyarakat Belanda begitu terhenyak membaca kisah pembantaian yang ditulis di buku itu, karena yang mereka tahu Indonesia pada waktu itu adalah bagian dari Kerajaan Hindia Belanda sehingga tidak ada penjajahan apalagi pembantaian.

Hingga pada akhirnya, isu Tragedi Rawagede ini kembali mencuat dan menarik perhatian, hingga kemudian keluarga korban pembantaian Rawagede mengajukan gugatan kepada pengadilan Belanda.

Akhirnya perjuangan keluarga korban Tragedi Rawagede membuahkan hasil, pada 14 September 2011, Pengadilan Den Haag memenangkan gugatan para keluaraga korban tragedi rawagede, dan menyatakan pemerintah Belanda harus bertanggung jawab dan membayar kompensasi bagi para korban dan keluarga tragedi Rawagede.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password