Sejarah 7 Desember: Sondang Hutagalung Membakar Diri Depan Istana

Aksi Sondang Hutagalung membakar diri mengundang kontroversi (Antara)

Bosscha.id – Sondang Hutagalung, adalah lelaki yang nekat membakar dirinya tepat di depan Istana Merdeka Jakarta, pada 7 Desember 2011 silam. Pria kelahiran 12 November 1989 ini adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta angkatan 2007. Di bangku kuliah, Sondang sering terlibat dalam berbagai aksi unjuk rasa.

Sondang yang mengalami luka bakar parah saat itu sempat dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, namun akhirnya tak tertolong, dan meninggal Sabtu 10 Desember 2011 petang. Pada Jumat malam, pihak UBK baru mendapat kepastian bahwa korban tanpa identitas tersebut adalah mahasiswanya yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa perkuliahan.

Sondang adalah Ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia (Hammurabi). Organisasi yang dipimpin Sondang selalu aktif dalam kegiatan ‘Sahabat Munir’. Di mata teman-temannya, Sondang dikenal sebagai sosok aktivis yang kerap terlibat dalam berbagai upaya advokasi pelanggaran HAM. Dia merupakan pribadi yang unik, selalu membuat suasana demonstrasi lebih hidup dan cukup kreatif.

Tinggal di Perumahan Pondok Ungu, Bojong Pengairan, Medan Satria, Bekasi, menurut tantenya, Nyonya Sipahutar, Sondang dikenal sebagai anak yang baik dan penurut. Bungsu dari empat bersaudara anak pasangan Dame dan Victor. Victor, sang ayah, bekerja sebagai sopir taksi dan ibunya tidak bekerja.

Sebelum nekat membakar dirinya sendiri, Sondang diketahui menitipkan barang bawaannya ke seorang sahabatnya. Diserahkannya handphone, dompet, dan seluruh identitasnya, membuat polisi kesulitan mengungkap identitasnya. Meski akhirnya identitas Sondang terungkap, namun masih ada pertanyaan seputar motif pembakaran dirinya.

Baca Juga:   Sejarah 8 Juli: Bandara Udara Internasional Pertama di Indonesia Resmi Dibuka

Meski korban dikenal sebagai pegiat HAM dan demokrasi dan kerap terlibat aksi demonstrasi lapangan, masih banyak yang mempertanyakan kenapa cara bakar diri yang dipilih sebagai bentuk protes atas kinerja pemerintah. Juga apakah cara ini akan berhasil membetot perhatian presiden, bila benar presidenlah yang dituju sebagai sumber protes.

Sementara dari istana, juru bicara presiden bidang politik Daniel Sparingga mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu menyampaikan ungkapan duka cita atas meninggalnya almarhum. Saat ditanya apakah ada komentar khusus presiden terkait aksi bakar diri sebagai bentuk protes yang untuk pertama kalinya muncul di Indonesia ini, Daniel mengatakan: “Tidak ada cara yang mudah untuk mengatakan perasaan terdalam kita tentang peristiwa itu.”

Semoga saja penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM seperti kasus Munir di Indonesia dapat segera terselesaikan. Agar kelak tak akan terjadi lagi kasus-kasus protes serupa, terhadap gagalnya Pemerintah dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password