Polisi Hong Kong Mulai Geledah Kampus Diduduki Demonstran

Polisi bentrok dengan pengunjuk rasa di Hong Kong, belum lama ini. Foto: DALE DE LA REY/AFP/Getty Images

Bosscha.id– Kepolisian Hong Kong mulai menggeledah gedung Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU) pada Kamis (28/11) pagi, selepas diduduki demonstran selama hampir dua pekan. AFP melaporkan, penggeledahan itu dilakukan untuk mengamankan beberapa barang berbahaya yang tersisa di dalam kampus.

Mengutip CNN Indonesia, Polisi anti huru hara mulai mengumpulkan puluhan bom molotov dan beberapa botol bahan-bahan kimia dari dalam beberapa laboratorium universitas. Kemudian polisi serta petugas pemadam kebakaran mengambil beberapa bukti tersebut.

Selain beberapa petugas, ada pula ahli bahan peledak yang juga ikut melakukan pencarian dari satu ruang ke ruangan lain.

Penggeledahan yang sama juga dilakukan untuk mencari beberapa demonstran yang masih tersisa di dalam setelah kericuhan yang menyebabkan ratusan demonstran kabur dari wilayah kampus, di mana sebagian di antaranya ditangkap dan dipukul oleh polisi.

Seorang pria sempat menyebutkan setidaknya ada 20 demonstran yang tersisa di dalam kampus pada Rabu malam. Akan tetapi, seorang pegawai kampus mengungkapkan pihaknya hanya menemukan satu orang demonstran di dalam dan para wartawan tidak melihat tanda-tanda keberadaan para demonstran selama 48 jam terakhir.

Pasca kericuhan antara polisi dan demonstran selama 11 hari, gedung kampus berada dalam kondisi yang sangat berantakan hingga pihak PolyU harus melakukan operasi pembersihan besar-besaran.

Pada beberapa tembok gedung ditemukan beberapa coretan yang mengejek pasukan kepolisian dan menyerukan kebebasan yang lebih baik di bawah pemerintahan China.

Sebagian besar ruangan juga dilaporkan berantakan dengan banyak barang yang ditinggalkan, serta adanya bau tidak sedap dari kantin kampus akibat makanan yang telah membusuk dan sampah yang telah menumpuk di dalam beberapa lokasi.

Baca Juga:   Serangan Roket Kembali Terjadi Dekat Kedubes AS di Irak

PolyU telah menjadi lokasi kericuhan antara demonstran yang bersenjatakan bom molotov serta busur dan panah sejak 17 November lalu.

Kericuhan itu akhirnya menemui jalan buntu ketika polisi mengepung lokasi, mengakibatkan para demonstran membuat barikade di dalam kampus. Namun, jumlah pengunjuk rasa yang menduduki berangsur-angsur berkurang karena sebagian ditangkap atau berhasil kabur.

Pihak pemimpin universitas sempat mendesak polisi untuk menghentikan upaya pengepungan dan meminta pemerintah untuk membantu melakukan pembuangan bahan-bahan berbahaya pada Rabu kemarin.

Selama enam bulan terakhir, sebagian besar masyarakat Hong Kong melakukan aksi unjuk rasa dipicu rencana pembahasan RUU Hong Kong yang saat ini sudah dibatalkan, serta kekhawatiran terhadap tindakan pemerintah China yang akan membatasi kebebasan di kota tersebut selama beberapa tahun terakhir.

Kekerasan dalam aksi itu semakin hari semakin meningkat.

Pemerintah China dan pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, berulang kali berpendapat warga mendukung mereka. Namun, berbagai klaim itu mulai terpecah ketika kandidat pro demokrasi menang mutlak dalam pemilihan dewan tingkat regional pada akhir pekan lalu.

Source: CNN Indonesia

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password