Sejarah 26 November: Wafatnya ‘Pak Bos’, Karel Albert Rudolf Bosscha

Sejarah 26 November: Wafatnya ‘Pak Bos’, Karel Albert Rudolf Bosscha 18
osscha juga berperan penting dalam pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng - (sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung), Dok.Istimewa

Bosscha.id – Kita pasti sudah familiar dengan kawasan observatorium Bosscha atau tempat meneropong bintang di kawasan lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tapi tahukah kita, siapa sebenarnya orang yang sudah membanggun tempat tersebut.

Jawabannya adalah Karel Albert Rudolf Bosscha, atau lebih dikenal dengan sebutan Tuan Bosscha. Pria yang lahir di Den Haag, Belanda pada 15 Mei 1865 ini dikenal sebagai orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi Hindia Belanda pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi.

Selain dikenal sebagai pemerhati pendidikan, Bosscha juga terkenal sebagai “Raja Teh Priangan”. Pada bulan Agustus 1896, Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar. Dan pada tahun-tahun berikutnya, ia menjadi juragan seluruh perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan.

Selama kurang lebih 32 tahun menduduki tahta di kerajaan perkebunan teh ini, setidaknya Ia telah mendirikan dua pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar yang saat ini dikenal dengan nama Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan juga Pabrik Teh Tanara yang saat ini dikenal dengan nama Pabrik Teh Malabar.

Tuan Bosscha merupakan salah satu orang Belanda terkaya pada saat itu, namun dengan kekayaan yang dimilikinya tidak serta merta membuatnya besar diri dan sombong, malah sebaliknya. Ia dikenal sebagai sosok yang dermawan oleh para pekerjanya. Terbukti Ia pun mendirikan sekolah diperkebunan, yang diperuntukan bagi anak-anak pekerja perkebunan.

Pada tahun 1901 Tuan Bosscha mendirikan sekolah dasar bernama Vervoloog Malabar. Sekolah ini didirikan untuk memberi kesempatan belajar secara gratis bagi kaum pribumi Indonesia, khususnya anak-anak karyawan dan buruh di perkebunan teh Malabar agar mampu belajar setingkat sekolah dasar selama empat tahun.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, nama sekolah ini berubah menjadi Sekolah Rendah, kemudian berubah lagi menjadi Sekolah Rakyat. Dan diganti lagi menjadi Sekolah Dasar Negeri Malabar II hingga saat ini.

Tidak hanya berjasa bagi para pekerja di perkebunannya, Tuan Bosscha pun ternyata sangat berjasa bagi kemajuan bangsa Indonesia dengan sumbangsih yang Ia berikan pada dunia pendidikan bagi Indonesia khususnya di Kota dan Kabupaten Bandung.

Bosscha juga berperan penting dalam pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng  – sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda (sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung) yaitu sebagai Ketua College van Directeureun (Majelis Direktur); yang mengurus kebutuhan material bagi TH Bandung mulai dari pembangunannya sampai kegiatan akademik berjalan (hingga diambil alih oleh Pemerintah). Untuk mengenang jasanya, pada tahun 1924 komplek laboratorium fisika TH Bandung dinamakan Bosscha-Laboratorium Natuurkunde.

Selain itu Tuan Bosscha pun mendirikan gedung megah pertama di Nusantara, yaitu gedung Concordia atau sekarang dikenal sebagai Gedung Merdeka Asia-Afrika. Sejarah mencatat gedung tersebut dibangun pada tahun 1895 dan sempat di renovasi pada tahun 1920-1928 oleh dua arsitek Belanda yaitu Van Galenlast dan Wolf Schoemaker.

Baca Juga:   Sejarah 11 Desember: Wafatnya Seniman Jenius, Harry Roesli

Gedung yang awalnya hanya digunakan sebagai tempat berkumpulnya para orang-orang Belanda ini akhirnya digunakan oleh pemerintah Indonesia menjadi tempat monumental, yang dimana peristiwa bersejarah konfrensi negara-negara Asia dan Afrika pada tahun 1955, dilaksanakan di gedung itu.

Sehingga gedung ini tidak hanya bersejarah karena pernah menjadi gedung termewah se-Indonesia tapi juga menjadi saksi sebuah pertemuan antar negara Asia dan Afrika, pasca kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tidak berhenti di situ, Tuan Bosscha pun menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan kawasan observatorium Bosscha. Yang dimana di dalamnya terdapat teropong bintang tertua yang ada di Indonesia. Observatorium ini dibangun dari tahun 1923 sampai tahun 1928 dan penyandang  dana utamanya adalah Tuan Bosscha. 

Ia memiliki obsesi untuk memiliki teropong bintang, yang akhirnya mampu ia wujudkan selagi ia masih berada di Bandung. Kemudian ia bersama dengan Dr. J. Voute pergi ke Jerman untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Teleskop Refraktor Bamberg

Namun sayang sebelum observatorium ini sepenuhnya rampung dibangun, ia tidak bisa merasakan teropong Zeiss canggih yang sudah ia beli jauh di Jerman ini, itu dikarenakan sebelum observatorium ini selesai dibangun ia sudah menghebuskan nafas terakhirnya terlebih dahulu.

Tuan Bosscha menghembuskan nafas terakhirnya pada 26 November 1928, di pangkuan Sumitra yang merupakan salah satu pekerja perkebunannya, Ia meninggal dikarenakan penyakit tetanus yang dideritanya. Ia meninggal beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung.

Pasca meninggalnya Tuan Bosscha, awalnya Observatorium ini dikelola oleh perhimpunan bintang Hindia-Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) dan perhimpunan ini berhasilkan menerbitkan publikasi internasionalnya pada tahun 1933. Singkat cerita pada tahun 1951 NISV memberikan observatorium ini kepada pemerintah Indonesia yang hingga kini dikelola oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selama hidupnya, Bosscha memilih untuk tidak menikah. Pada akhir hayatnya, karena kecintaannya pada Malabar, dia meminta agar jasadnya disemayamkan di antara pepohonan teh di Perkebunan Teh Malabar miliknya.

Jasa seorang Karel Albert Rudolf Bosscha selama hidup sanagat besar pada Negeri ini, karena Ia telah memberikan bangsa Indonesia peninggalan penting yang menjadi artefak sejarah penting hingga saat ini. Segala bentuk pemberian dan sumbangsihnya pada rakyat dan bangsa ini merupakan bukti kuat bahwa Ia benar-benar orang yang dermawan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password