Sejarah 15 November: Lahirnya Try Sutrisno, Wakil Presiden Ke-6 Republik Indonesia

Sejarah 15 November: Lahirnya Try Sutrisno, Wakil Presiden Ke-6 Republik Indonesia 18
Foto Try Sutrisno saat masih menjadi wakil Presiden RI ke-6 (Dok.Istimewa)

Bosscha.id-Try sutrisno satu ini adalah salah satu mantan wakil presiden pada era Soeharto yang berasal dari kalangan militer. Try Sutrisno merupakan wakil presiden ke-6, yang menjabat dari tahun 1993-1998. Pria yang lahir di Surabaya pada 15 November 1935 ini tumbuh dan besar di keluarga yang sederhana.

Ayahnya, Subandi adalah seorang petugas medis di Batalyon angkatan darat, yang bertugas sebagai supir ambulans dan ibunya Mardiyah adalah ibu rumah tangga. Keadaan ekonomi keluarganya pun memburuk setelah ayahnya dipindah tugaskan ke Mojokerto.

Try Sutrisno pun akhirnya harus putus sekolah dan bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Dia lalu berdagang rokok dan juga menjajakan koran. Ia pernah ingin melamar menjadi prajurit ABRI, namun hal ini tak pernah bisa dilakukan. Meskipun ayahnya bekerja sebagai petugas medis untuk Batalyon Angkatan Darat, tidak serta merta membuat karier Try Sutrisno di militer berjalan mulus

Ketika sudah membulatkan tekad dan mendaftar, Try Sutrisno justru gagal dalam pemeriksaan fisik, bukannya diterima jadi prajurit ia malah dijadikan kurir yang bertugas mengantarkan obat-obatan kepada para prajurit. Lalu Mayjend GPH Djatikusumo tertarik dengannya. Akhirnya Try disuruh mengikuti tes kembali dan akhirnya diterima di ATEKAD (Akademi Teknik Angkatan Darat).

Pengalaman perang Try Sutrisno salah satunya adalah ikut memberantas Pemberontakan PRRI pada tahun 1957. Dengan berbagai prestasi yang diraih oleh Try Sutrisno, kemudian beliau dipilih untuk menjadi ajudan Presiden Indonesia, Soeharto. Dan sejak saat itu, karir Try Sutrisno semakin meningkat dengan signifikan.

Kesuksesan kariernya di militer, membuat Try Sutrisno diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya dan ditempatkan di Jakarta, pada tahun 1982. Dengan posisinya sebagai panglima, ia mengalami keterpurukan. Saat itu ia harus mengalami pergolakan berdarah di Tanjung Priok pada tahun 1984. Dengan keadaan yang genting,

Try Sutrisno malah mengambil cara yang berisiko dengan meredam kemarahan warga. Namun tindakannya itu malah membuat warga semakin beringas hingga akhirnya harus menggunakan senjata untuk meredam. Korban sebanyak 28 orang meninggal dan ini menjadi masa terburuk bagi Try Sutrisno.

Baca Juga:   Sejarah 6 Desember: Lahirnya Daniel Sahuleka, Penyanyi Jazz Kelas Dunia Asal Indonesia

Semenjak karir Try Sutrisno semakin cemerlang, berbagai jabatan penting di Militer pun pernah disandangnya. Kemudian pada tahun 1993 Try Sutrisno ditunjuk oleh Presiden Soeharto sebagai Wakilnya. Meski Soeharto menunjuk Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden, namun Soeharto pada selanjutnya nampak tidak sepaham dengan Try Sutrisno.

Hal ini mungkin saja dipicu oleh statemen Try Sutrisno terkait anak Presiden. Karena pada saat itu Try Sutrisno menyebut bahwa jika dalam bisnis, anak pejabat jangan memakai nama bapaknya. Dari sana lah sang penguasa orde baru pun nampaknya marah, dan sejak saat itu, Try Sutrisno sama sekali tidak masuk dalam pemberitaan harian manapun.

Bahkan, dalam proses pembentukan kabinet, Soeharto tidak pernah berkonsultasi dengan Try Sutrisno, yang notabene adalah wakil presiden. Tidak hanya itu, Soeharto lebih memilih Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono, untuk mengemban tugas kepresidenan ketika ia pergi ke Jerman untuk perawatan kesehatan.

Ketika sudah tidak lagi dalam lingkaran kekuasaan, Try Sutrisno tetap memantau kinerja pemerintahan, kemudian Ia pun membentuk Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu bersama dengan Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Wiranto dan Akbar Tanjung. Gerakan forum ini lebih pada mengkritik pemerintahan. Kritik pedas salah satunya adalah pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas nota kesepahaman dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan wacana kenaikan harga BBM.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password