Sejarah 13 November: Terjadinya Peristiwa Berdarah ‘Tragedi Semanggi’

Sejarah 13 November: Terjadinya Peristiwa Berdarah ‘Tragedi Semanggi’ 18
Dikawal dengan sangat ketat oleh TNI, Brimob, dan juga Pamswakarsa, ratusan ribu mahasiswa dan masyarakat bergerak menuju gedung DPR/MPR dari segala arah (Dok.Istimewa)

Pada November 1998 pemerintahan transisi orde baru mengadakan Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan apa yang akan dilakukan. Hal ini mengakibatkan mahasiswa bergolak kembali karena mereka tidak mengakui pemerintahan pasca reformasi ini dan mereka mendesak pula untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari sisa-sisa Orde Baru.

Masyarakat dan mahasiswa menolak Sidang Istimewa 1998 dan juga menentang dwifungsi ABRI/TNI. Sepanjang berlangsungnya Sidang Istimewa, gelombang penolakan terus membesar. Masyarakat bergabung dengan mahasiswa setiap harinya untuk melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. 

Pada tanggal 11 November 1998, mahasiswa dan masyarakat yang bergerak dari Jalan Salemba bentrok dengan Pamswakarsa di kompleks Tugu Proklamasi. Lalu pada 12 November 1998, ratusan ribu mahasiswa dan masyarakat bergerak menuju gedung DPR/MPR dari segala arah, Semanggi-Slipi-Kuningan. Tetapi, tidak ada yang berhasil menembus ke sana karena dikawal dengan sangat ketat oleh TNI, Brimob, dan juga Pamswakarsa.

Pada malam hingga dini hari, terjadi bentrok pertama kali di daerah Slipi dan puluhan mahasiswa masuk rumah sakit. Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka berat dan masuk rumah sakit. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.

Dan puncak dari peristiwa ini terjadi esok harinya, yaitu pada 13 November 1998, banyak mahasiswa dan masyarakat yang bergabung dan mencapai daerah Semanggi dan sekitarnya, bergabung dengan kelompok mahasiswa lain yang sudah ada di depan kampus Atma Jaya Jakarta.

Jalan Sudirman sudah dihadang oleh aparat sejak malam hari. Hingga siang harinya, jumlah aparat semakin banyak guna menghadang laju mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa dan masyarakat dikepung dari dua arah sepanjang Jalan Sudirman dengan menggunakan kendaraan lapis baja.Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu orang.

Baca Juga:   Sejarah 9 Desember: Terjadinya Tragedi Pembantaian Rawagede

Sekitar jam 15.00 WIB, kendaraan lapis baja mulai bergerak untuk membubarkan massa, hal ini membuat kerumunan kemudian melarikan diri, lalu tembakan kemudian membabi buta dilakukan  oleh aparat. Beberapa mahasiswa terpaksa lari ke kampus Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan dan masyarakat yang terluka.

Ada beberapa orang korban yang terkena sasaran peluru panas aparat. Salah satunya adalah Bernauds R Norma Irawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta. Ia tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Atma Jaya.

Sejak pukul 15.00 WIB sampai dini hari, aksi brutal penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi saat itu seakan tak terhenti. Semakin banyak korban berjatuhan, baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru dan gas air mata.

Tragedi Semanggi ini menyebabkan 18 orang meninggal karena tertembak aparat. Lima orang di antaranya adalah mahasiswa, yakni Teddy Mardani, Sigit Prasetya, Engkus Kusnadi, Herus Sudibyo, dan BR Norma Irmawan. Sedangkan korban luka-luka sebanyak 109 orang, baik masyarakat maupun mahasiswa.

Dan hingga ini, kasus pelanggaran HAM ini belum juga menemukan titik terang mengenai kejelasan proses hukumnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password