Sejarah 6 November: Wafatnya Cut Nyak Dhien, Sang ‘Ibu Perbu’ dari Tanah Rencong

Sejarah 6 November: Wafatnya Cut Nyak Dhien, Sang ‘Ibu Perbu’ dari Tanah Rencong 18
Sempat fenomenal terkuatnya foto Cut Nyak Dhien berhijab. (Dok.Istimewa)

Peran wanita dalam sejarah perjuangan kemerdekaan melawan penjajah tak bisa dipandang sebelah mata. Kemerdekaan yang diraih Republik Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosok para pahlawan wanita di dalamnya.

Cut Nyak Dhien salah satunya, Ia merupakan wanita yang diberi gelar Pahlawan Nasional asal Aceh. Namanya dikenang abadi dalam catatan sejarah perjuangan Indonesia berkat keberanian dan kegigihannya melawan pasukan kolonial Belanda.

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, pada tahun 1848. Ia merupakan keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang (golongan bangsawan Aceh yang memimpin sebuah kenegerian/nanggroe setingkat kabupaten), Sedangkan ibunya merupakan putri uleebalang Lampageu. Sedari kecil Cut Nyak Dhien dibekali ilmu agama yang baik oleh kedua orang tuanya.

Hingga akhirnya Cut Nyak Dhien tumbuh menjadi remaja cerdas, berilmu tinggi, berakhlak baik dan berparas cantik. Sehingga tak heran banyak laki-laki yang menyukai dan berusaha melamarnya. Hingga pada tahun 1862, kurang lebih saat usianya baru 14 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga , putra dari uleebalang Lamnga XIII. Mereka kemudian memiliki satu anak laki-laki.

Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Pada perang tahap pertama yang terjadi 1873 hingga 1874, Aceh yang dipimpin oleh Sultan Machmud Syah dan Panglima Polim bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler.

Di bawah pimpinan Johan Harmen, Belanda berangkat dengan kekuatan 3.198 prajurit dan mendarat pada 8 April 1873. Mereka langsung menyerang serta berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Beruntung, Kesultanan Aceh berhasil memenangkan perang pertama. Ibrahim Lamnga yang berlaga di garis depan kembali dengan membawa kemenangan, sementara Köhler sendiri tewas pada bulan April 1873.

Perang tahap kedua dimulai pada tahun 1874-1880. Belanda melakukan serangan lagi di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten. Kemudian daerah VI Mukim berhasil ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1873 dan Keraton Sultan juga berhasil ditaklukkan pada tahun 1874.

Cut Nyak Dhien yang tinggal di Daerah VI Mukim dan bayinya akhirnya mengungsi bersama para ibu rumah tangga dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875. Kemduian suami Cut Nyak Dhien berangkat bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim dari tangan Belanda.

Tapi sayangnya, Ibrahim Lamnga yang bertempur di Gle Tarum kala itu, gugur pada tanggal 29 Juni 1878. Kematian suaminya ini tentu membuat Cut Nyak Dhien diselimuti kemarahan dan bersumpah akan menghancurkan dan mengusir para penjajah dari bumi serambi mekkah.

Tahun 1880, Cut Nyak Dhien kemudian menikah dengan Teuku Umar (salah satu tokoh penting pejuang Aceh). Ia menerima lamaran itu lantaran telah berjanji akan menikahi laki-laki yang akan membantunya mengusir Belanda. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak lamaran itu tapi akhirnya menerima setelah Teuku Umar mengizinkannya untuk ikut bertempur melawan Belanda.

Bergabungnya Cut Nyak Dhien berhasil menyulut api semangat perjuangan Aceh melawan Belanda. Perang berlanjut secara gerilya dan berkobarlah perang fi’sabilillah. Pada tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan melakukan pendekatan dengan para Belanda dan hubungannya dengan para penjajah itu semakin kuat.

Lalu ada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar bersama 250 orang pasukannya pergi ke Kutaraja untuk menyerahkan diri dan bergabung kepada Belanda. Tentu Belanda sangat senang karena musuh yang sangat berbahaya mau menyerah dan bergabung. Kemudian Belanda memberikan julukan kepada Teukeu Umar yaitu Teuku Umar Johan Pahlawan.

Bukan hanya itu, Teuku Umar kemudian menjadi komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan yang cukup besar. Bergabungnya Teuku Umar dengan Belanda, bukan tanpa alasan, Ia sebenarnya mempunyai siasat untuk menipu Belanda. Meskipun konsekuensinya ia dituduh sebagai pengkhianat oleh rakyat Aceh.

Teuku Umar tak peduli dengan tuduhan penghianat yang disematkan padanya, Ia masih terus saja menjalin hubungan baik dengan Belanda demi mencoba siasatnya. Teukur Umar lalu mempelajari taktik dan strategi tentara Belanda, perlahan tapi pasti, dia mulai mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang berada di bawah tanggung jawabnya, oleh orang Aceh.

Baca Juga:   Sejarah 13 November: Terjadinya Peristiwa Berdarah ‘Tragedi Semanggi’

Ketika jumlah tentara Aceh yang berada di pasukan tersebut cukup, Teuku Umar memulai siasatnya dan berencana ingin menyerang basis Aceh. Sebenarnya Teuku Umar hanya mencuri semua perbekalan dan logistik yang diberikan oleh Belanda. Akhirnya Ia dan pasukannya berangkat kembali ke Aceh dan tidak pernah kembali.

Hal ini tentu membuat Belanda sangat marah dan kemudian melakukan operasi besar untuk menangkap Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Karena sudah memiliki senjata milik Belanda, tentara Aceh berhasil mengimbangi kekuatan Belanda. Bahkan Jenderal Jakobus Ludovicus pun terbunuh.

Melihat fenomena ini, Belanda pun menurunkan Pasukan elit bernama De Marsose yang dikenal tanpa ampun. Turunnya pasukan ini kemudian berhasil membuat rakyat Aceh ketakutan. Ketakutan ini kemudian dimanfaatkan oleh Jenderal Benedcitus. Dia menyewa beberapa orang Aceh untuk menjadi mata-mata dan berhasil mengetahui rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh. Karena informasinya bocor, Teuku Umar pun gugur kala itu.

Keadaan ini memaksa Cut Nyak Dhien memimpin sendiri perlawanan bersama pasukan kecilnya. Cut Nyak Dhien menggelorakan semangat rakyat Aceh untuk terus mengangkat rencong melawan Belanda meskipun Teuku Umar telah tiada. Sepeninggal Umar, Cut Nyak Dhien jadi pemimpin dan dikelilingi oleh orang-orang tangguh yang sangat setia terhadapnya. Salah satu orang yang paling dipercaya Cut Nyak Dhien adalah Pang La’ot.

Namun, perjuangan melawan penjajah yang lebih unggul dari segi kekuatan ternyata dirasa cukup berat. Satu per satu panglima Aceh tewas dalam peperangan. Cut Nyak Dhien terpaksa menerapkan strategi gerilya, keluar masuk hutan, untuk tetap berusaha melawan Belanda, itu pun tidak jarang memakan korban nyawa di pihaknya.

Pang La’ot dengan segenap totalitasnya senantiasa mendampingi perjuangan Cut Nyak Dhien dalam perjuangan yang disebutnya perang sabil itu. Namun, di sisi lain, ia mulai pesimis dengan kenyataan yang dilihatnya dari hari ke hari.

Kesehatan Cut Nyak Dhien pun makin memburuk, kondisinya makin melemah bahkan penglihatannya mulai rabun. Tidak banyak yang bisa dilakukan di pedalaman hutan Aceh untuk membantu Cut Nyak Dhien. Pang La’ot pun menawarkan supaya Cut Nyak Dhien mau menyerah kepada Belanda agar mendapatkan perawatan yang lebih baik, tapi dengan tegas beliau menolak keras saran dari Pang La’ot.

Seiring berjalannya waktu Pang La’ot pun merenung, Ia berpikir keras mencari jalan terbaik. Ia sangat hormat dan sayang kepada Cut Nyak Dhien, tidak tega melihat junjungannya itu semakin menderita karena sakit. Akhirnya, dengan berat hati, Pang La’ot secara diam-diam menemui komandan Belanda. Kepadanya, ia bersedia memberitahu di mana letak persembunyian pasukan Aceh yang tersisa. Namun, Pang La’ot memohon agar Cut Nyak Dhien diperlakukan dengan hormat, serta mendapatkan perawatan yang baik.

Oleh karena bocornya informasi keberadaan pasukan Aceh, akhirnya Belanda berhasil melumpuhkan pasukan Aceh, dan menagkap Cut Nyak Dhien. Pasca ditangkap Belanda, beliau dibawa ke Banda Aceh dan dilakukan perawatan di sana. Penyakitnya pun perlahan mulai sembuh. Karena khawatir Cut Nyak Dhien kembali melawan, pihak Belanda kemudian membawa Cut Nyak Dhien ke Sumedang, Jawa Barat untuk diasingkan.

Bersama dengan tahanan politik Aceh yang lainnya, Cut Nyak Dhien pun dibawa ke Sumedang. Tapi identitas asli Cut Nyak Dhien tetap dirahasiakan oleh Belanda. Ia ditahan bersama dengan seorang ulama bernama Ilyas. Ulama itu cepat menyadari bahwa Cut Nyak Dhien adalah seorang yang cukup ahli dalam agama Islam. Sehingga Cut Nyak Dhien mendapat nama julukan yaitu Ibu Perbu.

Ajal akhirnya menjemput Cut Nyak Dhien pada 6 November 1908, tepat dalam usia 60 tahun. Namun tempat peristirahatan terakhir Cut Nyak Dhien baru ditemukan setelah Indonesia merdeka, yakni pada tahun 1959. Pencarian makamnya di pedalaman Sumedang dilakukan atas permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan, berdasarkan data-data dari negeri Belanda. Tanggal 2 Mei 1964, Cut Nyak Dhien ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password