Sejarah 1 November: Uang Pecahan Rp. 100.000 Pertama Diterbitkan

1 November menjadi tanggal yang bersejarah karena untuk pertama kalinya BI mengedarkan denominasi uang Rp. 100.000 (Dok.Istimewa)

Bosscha.id-Sistem pembayaran atau alat tukar di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang. Berawal dari barter hingga terciptanya alat tukar berupa uang. Ketika zaman penjajahan, sistem alat tukar menggunakan uang ala kolonial. Pihak kolonial memiliki kewenangan untuk mengatur dan menggunakan sistem pembayaran kepada wilayah jajahannya.

Hingga pada akhirnya pasca kemerdekaan Indonesia, pemerintah mulai menata sistem alat tukar, dan pada tahun 1946 mata uang asli Indonesia dengan nama ORI (Oeang Republik Indonesia) resmi beredar sebagai alat tukar, menggantikan mata uang penjajah.

Seiring berjalannya waktu nama mata Indonesia berubah menjadi Rupiah. Dalam sejarah pencetakan uang Rupiah, Bank Indonesia (BI) selaku Bank Sentral menerbitkan alat tukar paling fenomenal. Hal ini dikarenakan pada tanggal 1 November 1999 untuk pertama kalinya BI mengedarkan denominasi uang Rp 100.000.

Ini menjadi sangat fenomenal karena baru kali ini pemerintah melalui Bank Indonesia mengeluarkan uang pecahan kertas dengan nominal besar. Uang Rp 100.000 yang dirilis BI berbahan polymer atau plastik ini memiliki gambar dwi tunggal proklamator Indonesia yaitu Soekarno-Hatta, dan sisi lain dari uang pecahan ini adalah gambar gedung MPR/DPR, selain gambar Soekarno-Hatta, dalam uang itu juga terdapat tulisan naskah proklamasi. Teks proklamasi yang diketik Sayuti Melik dan ditandatangani oleh Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta.

Pemilihan gambar dua tokoh proklamator, secara tidak langsung merupakan cara yang baik pasca-krisis yang terjadi di Indonesia pada 1998. Runtuhnya rezim Orde Baru dinilai menjadi sebuah kebebasan berekspresi bagi berbagai Instansi yang ada. Selain itu, pemilihan gambar tokoh pemersatu bangsa dalam pecetakan uang, diharapkan bisa mengingatkan masyarakat akan setiap tonggak perjuangan bangsa.

Uang berbahan polymer itu telah dicetak hingga mencapai Rp 50 trilyun. Hal ini dilakukan demi memenuhi syarat internasional yang mengharuskan setiap bank sentral memiliki persediaan uang tunai lima kali lipat dari keadaan normal, demi menghadapi millenium bug.

BI menyatakan pencetakan uang baru itu tak akan menyebabkan inflasi, karena sedikit demi sedikit Bank Indonesia telah menarik uang kertas pecahan Rp 50.000. Peredaran uang plastik Rp 100.000 pun dilakukan bertahap. Bahan polymer, mempunyai umur edar delapan tahun dan sangat sulit dipalsukan. Sedangkan uang kertas biasa berumur edar hanya tiga tahun dan relatif mudah untuk dipalsukan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password