Sejarah 26 Oktober: Presiden Korea Selatan Park Chung-hee Tewas Ditembak

Kunjungan Presiden Lyndon B. Johnson ke Korea Selatan pada tahun 1966 (KoreaTimes)

Bosscha.id-Park Chung-hee naik tahta menjadi Presiden Korea Selatan (Korsel) setelah melakukan kudeta militer pada 16 Mei 1961. Dia salah satu Presiden Korsel berjasa dalam memodernisasi negaranya melalui industrialisasi yang berorientasi pada ekspor. Pada masa pemerintahannya juga, hubungan Korsel dengan Amerika Serikat (AS) semakin erat setelah Park setuju mengirim tentara Korsel membantu AS dalam perang Vietnam.

Ketika Park berkuasa, saat itu Korsel tengah dalam kesulitan ekonomi paska Perang Korea tahun 1953. Korsel saat itu belumlah menjadi negara ideal yang bisa menyelenggarakan pertemuan G-20 atau negara dengan total ekspor satu tahun sebesar U$D 600 miliar sekaligus negara dengan produksi barang dalam negeri 11 teratas.

Pemikiran Park untuk memperbaiki negaranya seringkali terlampau orisinil dan tak dipahami orang lain di masa itu. Misalnya saja ketika ia memutuskan untuk membuka keran perdagangan Korsel dengan Jepang saat baru dua tahun menjabat. Keputusan itu terhitung kontroversial karena “memaksa” Korsel bekerja sama dengan mantan penjajahnya sendiri.

Namun faktanya Park tetap menandatangani perjanjian normalisasasi hubungan negara dengan Jepang. Dengan perjanjian tersebut, Jepang kemudian wajib memberikan dana U$D 300 juta dan pinjaman sebesar U$D 200 juta untuk modal ekonomi Korsel. Selain itu, Korsel juga berhak meminta bantuan teknisi atau teknologi langsung dari Jepang.

Yang menjadi fokus Park kala itu hanya tertuju pada perbaikan industri besar yang dikuasai konglomerat Korea (chaebol). Sebab itu, dana yang diberikan Jepang kemudian segera dipinjamkan kepada pengusaha dan korporasi, antara lain: Ssangyong Cement, Shinjin Motors, Hyundai, dan Samyang.

Tak berhenti hanya pada perbaikan di sektor industri, selanjutnya Park fokus membangun jalan tol. Tapi itu semua tak berjalan mukus, Park mengalami banyak penolakan dimana-mana. Tapi hal itu tidak menjadi halangan, Park untuk terus menjalankan proyeknya itu. Kemudian diketahui kalau hujan penolakan akan program-program Park adalah ciptaan pihak oposisi, yang sengaja membangun narasi negatif tentang niatan Park.

Seakan tak bergeming, pada akhirnya Park sendiri yang memimpin pembangunan itu dengan memanfaatkan tenaga dan mesin-mesin yang dimiliki militer. Hasilnya, terciptalah jalan sepanjang 428 kilometer dengan 353 jembatan dan 12 terowongan. Bahkan salah satu ekonom Korea, Byung-Doo Choi, mengungkapkan keuntungan yang didapat dari jalan tol Gyeongbu atau biasa disebut Gyeongbu Expressway tersebut mencapai 287,4 miliar won per tahun.

Dan akhirnya sebagian besar warga Korsel, juga pengamat politik dan ekonomi global, tentu sepakat bahwa apa yang dicapai Negeri Gingseng itu tidak lepas dari peran Park. Dan hal ini menjadi pemicu kebangkitan ekonomi Korsel.

Namun dibalik kesuksesannya sebagai “motor” kebangkitan ekonomi Korsel, Park juga dikenal sebagai pemimpin yang otoriter. Tak sedikit pula orang menganggapnya sebagai seorang diktator.
Saat masih berkuasa di tahun 1971, Park mempengaruhi Majelis Nasional agar mengubah aturan konstitusi Korea dengan meniadakan batasan seseorang menjabat sebagai presiden. Dia juga mengarahkan perubahan masa jabatan presiden menjadi enam tahun untuk satu periode.

Baca Juga:   Dampak Covid-19, RPJMD KBB 2018-2023 Direvisi

Masih di tahun yang sama pula, Park mengeluarkan aturan yang semakin menunjukan ke-otoriterannya dengan menerapkan junta militer dan membiarkan tentara berjaga di dalam kampus untuk menekan demonstrasi. Di pengujung tahun 1971, ia lantas membubarkan Majelis Nasional dan melarang seluruh aktivitas politik.

Setahun berikutnya sikap otoriter Park makin tak terkendali. Dia membuat aturan baru yang bernama Yushin Constitution. Meski arti Yushin adalah revitalisasi reformasi, tapi konstitusi baru ini hanya menjadi alat politik Park memperluas dan mempertahankan kekuasaannya.

Bahkan yang lebih ironis lagi adalah, media saat itu pun juga diarahkan untuk membuat berita sesuai arahan Park. Mereka yang tak menurut akan ditangkap atau medianya dibredel. Selain itu, para akademisi dan politikus lain yang bersikap oposisi juga tak segan-segan untuk dijebloskan ke penjara.

Oleh karena kepemimpinan Park yang otoriter sekaligus progresif itu, kemudian menghadirkan banyak musuh dari dalam dan luar negeri. Pihak Korea Utara (Korut) misalnya, sempat dua kali melakukan percobaan pembunuhan kepada Park ketika ia masih menjadi presiden. Percobaan pembunuhan terhadap dirinya pada 15 Agustus 1974. Percobaan itu dilakukan oleh seorang agen (Korut) Mun Se-gwang. Namun perobaan itu gagal, tapi sayangnya Istri Park, Yuk Yeong-su, tewas tertembak saat itu. Saat percobaan pembunuhan itu terjadi, Park sedang berpidato.

Setelah lolos dari percobaan pembunuhan oleh pihak Korut, Park justru tewas di tangan warga, bawahan, sekaligus teman baiknya sendiri. Dia adalah Kepala Badan Intelijen Korea Selatan kala itu, Kim Jae-Gyu. Konon, kedekatan di antara mereka pula yang membuat Park mengangkat Kim sebagai Ketua Badan Intelijen Korea, institusi yang sangat kuat dan ditakuti masyarakat kala itu.

Pembunuhan terhadap kala itu Park terjadi pada 26 Oktober 1979, tepat dalam sebuah acara makan malam pribadi di Blue House. Kim mengawali aksinya dengan lebih dulu menembak Kepala Pengawal Presiden, Cha Ji-chul. Ia menembak Cha dan mengenai siku kanannya Setelah itu, ia menuju Park dan segera menembak dada penguasa Korsel itu dengan pistol jenis Walther PPK dengan peluru 0.32 inch buatan Jerman.

Dan Kim Jea-kyu pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung bersama lima anak buahnya. Jea-kyu didakwa dengan tuduhan melakukan pembunuhan dan percobaan kudeta. Jea-kyu beserta anak buahnya dieksekusi 7 bulan kemudian, tepatnya pada 24 Mei 1980.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password