Sejarah 24 Oktober: Peringatan Hari Dokter Nasional, Momentum Perjuangan Dokter Indonesia

Kiprah dokter pada saat itu terlihat semakin pesat dari tahun ke tahun (Bosscha.id)

Di Indonesia pada tanggal 24 Oktober, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Dokter Nasional, dan tepat di tahun 2019 ini sudah menginjak peringatan yang ke 69. Sejarah dari penetapan hari Dokter Nasional yang jatuh pada tanggal 24 Oktober ini, ternyata memiliki korelasi dengan perjuangan para dokter pada masa penjajahan Belanda.

Pada masa penjajahan Belanda para dokter di Tanah Air rupanya telah memiliki organisasi sendiri, yang bernama Vereniging van lndische Artsen (Asosiasi Dokter Hindia Belanda). Organisasi ini didirikan pada tahun 1911, dan diketuai oleh dr. JA Kayadu. Hingga akhirnya pada tahun 1926 berubah nama menjadi Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VIG).

Perubahan nama ini rupanya memiliki makna mendalam terkait rasa nasionalisme para dokter Tanah Air. Mereka mengubah kata ‘Indische’ menjadi ‘Indonesische’ yang berarti Indonesia sebagai bentuk pengakuan para dokter Tanah Air terhadap persatuan Indonesia. Selama berdirinya, VIG kerap menyuarakan perjuangan untuk mendapat persamaan kedudukan antara dokter Tanah Air dengan dokter Belanda.

Kiprah dokter pada saat itu terlihat semakin pesat dari tahun ke tahun. Pada kongres VIG yang diadakan di Solo pada tahun 1940, Prof Bahder Djohan ditugaskan untuk membina dan memikirkan istilah baru dalam dunia kedokteran. Namun sayang, perjuangan para dokter di VIG harus terhenti ketika organisasi ini dibubarkan pada masa pendudukan Jepang tahun 1943. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi baru bernama Jawa izi Hooko-Kai.

Pasca kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, perjuangan para dokter Indonesia semakin menguat. Guna menyatukan dokter-dokter Indonesia yang tersebar di berbagai daerah, maka diadakanlah sebuah muktamar.

Atas usul dr. Seno Sastromidjojo pada 30 Juli 1950, PB Perthabin (Persatuan Thabib Indonesia) & DP-PDI (Perkumpulan Dokter Indonesia) mengadakan suatu pertemuan yang bertujuan untuk membentuk panitia penyelenggaraan ‘Muktamar Dokter Warganegara Indonesia (PMDWNI)’. yang kemudian diketuai oleh dr Bahder Djohan.

Baca Juga:   Dosen UI laporkan Politikus PKS ke Bareskrim Polri

Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (MIDI) yang pertama digelar tanggal 22-25 September 1950 di Deca Park (kini menjadi Gedung Pertemuan Kotapraja), Jakarta. Tak kurang dari 181 dokter, 62 di antaranya datang dari luar Jakarta, hadir dalam muktamar tersebut. Muktamar ini kelak menjadi cikal bakal terbentuknya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang kita kenal sekarang.

Dalam muktamar ini, dr Sarwono Prawirohardjo terpilih menjadi Ketua Umum IDI pertama. Namun, pembentukan IDI baru disahkan secara hukum pada tanggal 24 Oktober 1950. Kelak, setiap tahunnya, pada tanggal 24 Oktober diperingati sebagai Hari Dokter Nasional sekaligus ulang tahun IDI.

Sejak itu pula, IDI terus mengibarkan sayapnya dalam memajukan dunia kesehatan Indonesia. Selama 2 tahun sejak dibentuk, IDI masih beraktivitas dengan dengan fasilitas yang terbatas. Oleh karenanya pada tahun 1952, IDI menetapkan dalam anggaran tahunannya untuk mencari lokasi untuk dijadikan kantor IDI.

Atas jasa dr Tang Eng Tie, IDI kemudian dapat membeli sebuah gedung yang berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta. Gedung inilah yang kemudian digunakan menjadi gedung Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia hingga kini.

Jika melihat sejarah perjuangan para dokter pada masa kolonial hingga terbentukanya IDI, rasanya Hari Dokter Nasional menjadi sangat penting untuk diperingati, untuk mengenang jasa-jasa para dokter pada dunia kesehatan tanah air.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password