Tensi Soal Hong Kong Meningkat, Bursa Global Variatif

Tensi Soal Hong Kong Meningkat, Bursa Global Variatif 18
Demonstrasi Hong Kong/Foto: Gregor Fischer/DPA via ZUMA Press

Bosscha.id– Bursa Eropa kompak tergelincir ke zona merah bersama indeks futures Amerika Serikat (AS) pada perdagangan siang ini, Rabu (16/10/2019), di tengah meningkatnya tensi seputar Hong Kong dan ketidakpastian mengenai kesepakatan Brexit.

Mengutip Bisnis. com, berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600, indeks futures S&P 500, dan indeks FTSE 100 Inggris sama-sama turun 0,2 persen pada pukul 08.09 pagi waktu London (pukul 14.09 WIB).

Meski demikian, indeks MSCI All-Country World dan indeks MSCI Emerging Market masing-masing mampu naik 0,1 persen.

Dilansir dari Bloomberg, pasar saham global bergerak variatif setelah China dikabarkan akan melancarkan pembalasan jika Kongres Amerika Serikat (AS) mengesahkan undang-undang yang memberikan dukungan kepada pengunjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong.

Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (16/10/2019), Kementerian Luar Negeri China menegaskan akan mengambil langkah-langkah keras jika Kongres AS mengesahkan legislasi yang mendukung aksi unjuk rasa di Hong Kong.

Sebelumnya, pada Selasa (15/10) waktu setempat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS meloloskan RUU bernama Undang-Undang Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong (Hong Kong Human Rights and Democracy Act).

RUU ini merupakan satu dari empat legislasi yang diloloskan oleh DPR pada Selasa dengan suara bulat dan selanjutnya akan diajukan untuk pengambilan suara di Senat AS. RUU tersebut harus melalui persetujuan DPR dan Senat AS sebelum dapat ditandatangani oleh Presiden Donald Trump untuk menjadi undang-undang.

Ancaman pembalasan yang disampaikan pemerintah China pun memengaruhi minat investor untuk mengambil risiko. Bursa saham di Shanghai dan nilai tukar yuan China melemah.

Krisis mengenai Hong Kong tersebut kembali menyoroti risiko geopolitik bagi sentimen investor setelah sempat terangkat oleh laporan kinerja keuangan yang positif dari sejumlah perusahaan besar termasuk JPMorgan dan Johnson & Johnson pada Selasa (15/10).

Bank of America, Netflix dan IBM adalah beberapa perusahaan yang dijadwalkan untuk merilis laporannya pada Rabu (16/10), sementara rilis data penjualan ritel selanjutnya dapat memberikan lebih banyak petunjuk tentang prospek ekonomi AS menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve akhir bulan ini.

Di samping persoalan terkait Hong Kong, investor tetap tidak yakin apakah perundingan di Brussels antara tim negosiasi Inggris dan Uni Eropa akan mengarah pada kesepakatan untuk menghindari perpisahan Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dengan ricuh.

Uni Eropa akan menentukan apakah suatu kesepakatan layak diajukan ke konferensi para pemimpin pada Kamis (17/10) untuk dipertimbangkan. Meski demikian, ada pula keraguan apakah pemerintah minoritas Inggris dapat meraih persetujuan untuk kesepakatan di parlemen.

“Mendengar pemberitaan tentang Inggris tadi malam (Selasa, 15/10), aritmatika untuk mencapai persetujuan tersebut menantang,” ujar analis di National Australia Bank menulis dalam sebuah catatan, seperti dikutip dari Reuters.

Source: Bisnis.com

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password