Sejarah 15 Oktober: Eksekusi Mati Mata Hari, Si Ratu Mata-mata Dunia

Sejarah 15 Oktober: Eksekusi Mati Mata Hari, Si Ratu Mata-mata Dunia 18
Memanfaatkan Keahliannya, Mata Hari Memikat Banyak Pejabat Militer, Politisi Jerman (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Mata Hari, sang ratu mata-mata dunia ini lahir di Belanda dengan nama asli Margaretha Geertruida Zelle. Ia sempat dianggap sebagai perempuan paling berbahaya di awal abad ke-20 di Eropa. Mata Hari adalah legenda mata-mata perempuan dalam sejarah intelijen. Dia bahkan mendapat julukan sebagai ‘The Greatest Woman Spy’.

Perempuan yang lahir pada 7 Agustus 1876, kemudian tumbuh sebagai remaja berperawakan tinggi, tubuh eksotisnya membuat dia punya daya tarik tersendiri. Rambutnya hitam dan kulitnya coklat,  Penampilannya itu karena pengaruh darah Jawa yang mengalir dari nenek moyang ibunya.

Kebangkrutan usaha ayahnya pada 1889, membuat hidupnya berubah drastis. Ayah dan ibunya, kemudian bercerai. Kemudian sang ibu meninggal, dan dua tahun setelah ibunya meninggal dunia, ayahnya menikah lagi di Amsterdam pada 9 Februari 1893.

Pada saat Margaretha berusia 18 tahun atau pada 1895, ia mencoba peruntungan dengan pergi ke Hindia Belanda. Pemicunya adalah iklan di koran yang menyebutkan bahwa seorang tentara KNIL Belanda, Kapten Rudolf MacLeod, yang hendak bertugas di Hindia Belanda sedang mencari seorang istri. Ia kemudian menikah dengan kapten tersebut pada 11 Juli 1895. Pernikahan itu dengan cepat membawanya ke kelas sosial yang lebih tinggi.

Mereka pergi ke Hindia dengan menggunakan kapal SS Prinses Amalia pada 1897. Mereka kemudian tinggal di Ambarawa, SemarangaJawa Timur. Mereka dikaruniai dua anak, Norman-John MacLeod dan Louise Jeanne MacLeod.

Di Jawa, dia menemukan dunianya, belajar tarian Jawa dan tak seperti nyonya-nyonya Belanda lainnya, dia gemar memakai sarung dan kebaya. Ketika berkorespondensi dengan kawan dan kerabat, dia memakai nama alias, yaitu Mata Hari. Kelak nama itulah yang membuatnya populer dan dikenal dunia.

Margarethe senang dengan rumahnya di Semarang yang nyaman. Tak berapa lama lagi, suaminya harus berpindah tugas ke Malang, di daerah Tumpang. Di situ Margarethe suka bermain ke candi Jago, candi Kidal, candi Singosari. Dia mengagumi tarian Serimpi yang ditarikan di candi-candi tersebut. Kemudian suaminya dipindahtugaskan ke Sumatra.

Margaretha tidak kerasan tinggal di Sumatra. Dia rindu dengan suasana di Jawa. Apalagi anak laki-lakinya Norman meninggal di Sumatra karena diracun dengan alasan yang tidak jelas. Tahun 1902 pasangan ini kembali ke Belanda, dan berakhir dengan perpisahan. Rudolf akhirnya tinggal dengan anak perempuannya.

Masih di tahun yang sama, Margaretha pergi ke Paris. Ia memulai karier sebagai pemain sirkus saat memutuskan pindah ke Paris. Saat itu, ia menggunakan nama Lady MacLeod. Sembari menyambung penghasilan untuk penghidupan, ia juga berpose sebagai model artis.

Kemudian timbul niat Margaretha untuk menjadi penari orientalis di sebuah klub malam. Dia mencoba menari sebisanya bergaya tarian Jawa, karena dia dulu sering melihat tari Serimpi di candi Jago, Malang. Pakaian pun dia variasi sendiri. Bahkan Margaretha sebenarnya tidak tahu banyak kesenian Jawa, apalagi agama nenek moyang orang Jawa. Dia nekat saja menari dan berpakaian khas ketimuran.

Dengan tariannya yang khas, dia membuat gebrakan baru. Bukan saja dia pandai menari orientalis di mata orang Paris, namun dia juga menari dengan eksotik dan kadang telanjang. Dalam waktu singkat namanya sudah cepat melambung. Banyak kaum elit Paris dan Eropa lainnya terkesima saat melihat penampilannya.

Baca Juga:   Ini Dia 5 Manfaat yang Bisa Didapat Dari Tertawa

Pada 1905, saat sudah mantap tinggal Eropa, Margaretha diundang menari oleh Emile Guimet, pemilik sebuah museum seni oriental. Guimet mendorong Ia untuk mengadopsi nama panggung yang lebih menggugah dan menarik dibanding nama Lady Gresha McLeod. Sejak itulah nama Mata Hari yang pernah ia dapatkan saat di Hindia secara permanen melekat pada sosoknya.

Dengan daya tarik sensualnya, Mata Hari menjelma jadi sosok yang dikenal banyak orang. Dia punya hubungan intim dengan pejabat militer, politisi, dan orang-orang berpengaruh, bahkan jadi ‘simpanan’ putra mahkota Jerman saat itu.

Saat jadi penari telanjang di Berlin, Mata Hari dikabarkan direkrut agen rahasia Jerman.  Beberapa penulis biografi, misalnya, Erika Ostrovsky yakin bahwa Mata Hari pernah menjalani pelatihan di sekolah mata-mata Jerman di Antwerp, Belgia. Oleh Jerman, dia disebut dengan kode ‘H21’.

Seiring waktu berjalan, Mata Hari tidak hanya menjadi seorang penari. Ia menjadi perempuan yang sangat diinginkan oleh banyak orang. Situasi inilah yang membawanya kepada dunia prostitusi kelas atas. Pecahnya Perang Dunia I justru menambah jam terbangnya sebagai bagian kelas elit Eropa. Ia makin akrab dengan berbagai perwira militer berpangkat tinggi, pejabat pemerintahan dan diplomat dari berbagai negara.

Dengan menggunakan identitas warga Belanda, Mata Hari mampu melintasi batas-batas negara dengan bebas karena Belanda pada saat Perang Dunia I bersikap netral. Untuk menghindari medan perang langsung, dia melakukan perjalanan antara Perancis dan Belanda melalui Spanyol dan Inggris.

Kedekatan Mata Hari dengan para petinggi setempat juga membawanya kepada tawaran menjadi agen rahasia untuk Perancis. Pada 1915, dia meminta izin mengunjungi kekasihnya, Kapten Vladimir Maslow, seorang pilot asal Rusia yang bekerja untuk Perancis di sebuah rumah sakit di Den Haag. Pejabat Perancis memfasilitasi keberangkatannya dengan imbalan perjanjian untuk memata-matai Jerman.

Masalah datang pada bulan Januari 1917, saat militer Jerman di Madrid mengirim pesan radio ke Berlin menggambarkan kegiatan mata-mata Jerman dengan kode nama H21. Pesan itu disadap agen mata-mata Prancis. Dari informasi-informasi itu, diduga kuat H21 adalah Mata Hari.

Pada 13 Februari 1917, Mata Hari dicokok aparat Perancis. Tuduhannya adalah agen ganda, Mata Hari dijebloskan di penjara St. Lazare di Paris. Ia dituduh bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara karena mengungkap rincian senjata dari pihak sekutu Perancis.

Versi lain menyebutkan, Jerman berhasil menjebak Mata Hari. Jerman juga diduga mengetahui kalau Mata Hari adalah mata-mata Perancis. Jerman lantas menjebaknya dan dengan sengaja membuat pesan palsu yang melabelinya sebagai mata-mata Jerman. Perancis termakan jebakan itu dan pecaya Mata Hari sebagai agen ganda Jerman.

Ratu erotis itu lalu diadili dengan dakwaan menjadi mata-mata Jerman dan bertanggung jawab atas kematian 50 ribu tentara. Dia diputus bersalah. Akhirnya, pada 15 Oktober 1917, dalam usia 41 tahun, tepatnya 102 tahun yang lalu Ia bersiap menghadapi maut. Mata Hari datang ke tempat eksekusi bersama menteri dan dua biarawati. Ia mendatangi tempat duduk eksekusi yang telah disediakan, membuang penutup mata dan memberikan tanda cium jarak jauh kepada tentara eksekutor. Mata Hari meninggal di depan regu tembak.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password