Ratusan Sekolah di Bandung Barat Rusak

Ratusan sekolah di Bandung Barat rusak.Foto (Istimewa)

Bosscha.id– Ratusan sekolah dasar di Kabupaten Bandung Barat saat ini dalam kondisi rusak dengan tingkatan mulai ringan, sedang, hingga berat. Kerusakan ini disebabkan berbagai hal di antaranya akibat usia bangunan yang sudah tua, sehingga kondisinya rapuh.

Kepala Bidang SD pada Dinas Pendidikan KBB Asep Nirwan mengatakan, sejumlah SD yang rusak tersebut tersebar di 16 kecamatan di Bandung Barat.

“Dari 709 SD negeri dan swasta, sekitar 50 persen memang kondisinya rusak. Perbaikan kami upayakan dengan anggaran dari berbagai sumber,” katanya Jumat (4/10/2019).

Anggaran untuk perbaikan sekolah segera dialokasikan pemerintah/Bosscha.id

Kerusakan sekolah tersebut, kata Asep, mulai dari kerusakan pada ruang kelas hingga konstruksi bangunan.

Ia mengatakan, perbaikan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan berbagai sumber anggaran, mulai dari APBD hingga APBN melalui Dana Alokasi Khusus.

“Untuk DAK, tahun ini kami menerima Rp 35 miliar untuk rehabilitasi ruang kelas dan konstruksi bangunan. Itu terbilang kecil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai Rp 60 miliar. Namun, kami upayakan mencari sumber anggaran lainnya terutama untuk perbaikan sekolah yang sudah masuk daftar prioritas,” tuturnya.

Dia juga mengungkapkan, anggaran perbaikan sekolah dari bantuan pusat bisa dialokasikan ketika pihak sekolah secara berkala melaporkan kondisi bangunan sekolahnya. Hal itu nantinya akan disinkronisasikan dengan data pokok pendidikan di pusat.

“Jika pihak sekolah tidak rutin melaporkan kondisi bangunan sekolahnya, itu akan sulit mendapatkan bantuan dari pusat karena nantinya disinkronkan dengan data di dapodik,” tuturnya.

Asep menambahkan, sejumlah SD saat ini tengah diproyeksikan untuk merger (penggabungan) dengan alasan minimnya jumlah siswa.

Baca Juga:   Krisis Regenerasi, Pemkab Bandung Barat Ajak Kaum Muda Jadi Petani Milenial

“Tahun lalu, ada 6 SD yang dimerger, yakni sekolah di Padalarang, Cipeundeuy, dan Lembang,” sebutnya.

Selain itu, lanjut Asep, sekolah lainnya yang diproyeksikan untuk dimerger di antaranya SDN 3 dan SDN 2 Gudangkahuripan. Kedua sekolah yang satu komplek ini rata-rata hanya memiliki 20 siswa per rombongan belajar.

“Idealnya, jumlah siswa per kelas itu minimal 30 siswa, sehingga jika jumlah siswa kurang dari itu akan diproyeksikan untuk merger,” tuturnya.

Seperti diketahui, SDN 3 Gudangkahuripan di selain minim siswa juga kondisi bangunannya rusak berat. Atap dua ruang kelas di SD tersebut ambruk, sehingga sebagian siswa terpaksa belajar di ruang guru.

Komite SDN 3 Gudangkahuripan  M Afippudin meminta agar pemerintah daerah segera melakukan perbaikan terhadap sekolah tersebut untuk memberikan kenyamanan kepada para guru dan siswa.

“Kami pihak sekolah dan komite selaku perwakilan dari orang tua siswa sangat berharap perhatian dan tindakan riil dari pihak pemerintah dan dinas terkait untuk bisa membantu pembangunan kembali sekolah demi lancarnya kegiatan belajar mengajar,” ujarnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password