Sejarah 26 September: Tragedi Jatuhnya Pesawat Garuda di Buah Nabar

Tragedi jatuhnya pesawat Garuda di Buah Nabar. (Dok.Istimewa)

Bosscha.id-Hari ini 22 tahun yang lalu, tepatnya 26 September 1997, pesawat Airbus A300-B4 milik maskapai Garuda Indonesia dengan penerbangan GA 152 menabrak tebing  jatuh di desa Buah Nabar, Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, saat hendak mendarat di bandara Polonia Medan.

Kecelakaan ini menewaskan seluruh orang di dalamnya yang berjumlah 234 orang yang terdiri dari 222 penumpang dan 12 awak. Hingga saat ini, tragedi jatuhnya pesawat tersebut merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah penerbangan Indonesia.

Pada waktu itu, wilayah Jawa dan Sumatra sedang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan. Negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei pun terkena dampaknya. Kabut asap ini mengakibatkan puluhan ribu orang masuk rumah sakit akibat infeksi pernapasan.

Namun, ancaman asap ini baru benar-benar menyedot perhatian ketika musibah jatuhnya pesawat Garuda ini terjadi. Pesawat Garuda ini awalnya berangkat dari bandara Sukarno-Hatta dengan membawa 222 penumpang dan 12 awak. Pilot Hance Rahmowiyogo yang sudah memiliki 20 tahun pengalaman terbang meminta panduan dari menara ATC (Air Traffic Control) karena jarak pandang tertutup kabut, sebelum akhirnya kontak terputus.

Dari hasil transkrip komunikasi terakhir yang dipublikasikan ke publik, ditengarai bahwa telah terjadi  mised comunication dengan menara ATC sebelum akhirnya GA 152 hilang kontak. Dan berikut ini adalah transkrip komunikasi terakhir anatara ATC dan GA 152:

ATC: GIA 152, turn right heading 046, report established on localizer.

GIA 152: Turn right heading 040, GIA 152, check established.

ATC: Turning right sir.

GIA 152: Roger, 152.

ATC: 152, confirm you′re making turning left now?

GIA 152: We are turning right now.

ATC: 152 OK, you continue turning left now.

GIA 152: A …. confirm turning left? We are starting turning right now.

ATC: OK …. OK.

ATC: GIA 152 continue turn right heading 015.

GIA 152: Scream.. Allahu Akbar!

Namun, belum ada laporan final di situs Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) soal tragedi ini. Yang pasti, berdasarkan hasil penyelidikan yang diumumkan secara resmi, kecelakaan Garuda ini disebut sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT).

Baca Juga:   Sejarah 4 Juli: Partai Nasional Indonesia, Partai Politik Tertua di Indonesia

Namun tim investigasi menyimpulkan bahwa menara ATC keliru memberikan panduan. GA 152 yang seharusnya berbelok ke arah kiri malah diarahkan ke kanan sehingga menabrak tebing. Pesawat kemudian meledak berkali-kali. Mayoritas penumpang warga negara Indonesia, 17 penumpang asing berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Malaysia, Perancis, dan Jerman.

Kontak terputus pada pukul 13.00. Laporan bahwa pesawat telah jatuh baru muncul pada pukul 14.20. Evakuasi dilakukan namun terhambat sulitnya medan dan kondisi jenazah yang tercerai-berai. Jenazah yang tidak dikenali dimakamkan secara massal di dekat lokasi jatuhnya pesawat, kini bernama Monumen Membrano, untuk mengenang musibah tersebut.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password