Sejarah 24 September: Terjadinya Tragedi Semanggi II

24 September merupakan terjadinya tragedi Semanggi II.(dok.Istimewa)

Bosshca.id– Hari ini 20 tahun yang lalu, telah terjadi targedi Semanggi II. Peristiwa kelam menghantui mahasiswa Indonesia di era rezim orde baru, bahkan pasca lengsernya Soeharto pun, sikap kritis mahasiswa kala itu kerap mendapat intimidasi oleh aparat dan pemerintah. Mulai dari tragedi Semanggi I pada November 1998 hingga Semanggi II, mahasiswa menjadi sasaran tindak kekerasan barisan aparat ketika melakukan aksi demontrasi.

Sama halnya dengan Tragedi berdarah Semanggi I. Fase ini juga mempertontonkan arogansi penguasa yang menekan pimpinan universitas untuk melarang mahasiswanya melakukan protes bagi pemerintah. Pada era pemerintahan BJ. Habibie ini, masyarakat sipil dan mahasiswa bersatu padu menolak keras Sidang Istimewa MPR 1998 dan menentang dwifungsi ABRI/ TNI. Pemerintah tak tinggal diam. Barisan aparat TNI dikerahkan untuk mengepung para demonstran dengan segala cara.

Tragedi Semanggi II, yang terjadi pada 24 September 1999, mahasiswa dan sipil menjadi objek sasaran aparat. Mereka ditangkap dan ditembaki oleh aparat agar menghentikan aksi protes pada pemerintah. Lokasi penembakan mahasiswa pun cukup strategis, insiden ini dapat dipantau oleh banyak orang awam diantaranya di bawah jembatan Semanggi, depan kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, dekat pusat sentra bisnis nasional maupun internasional.

Pada masa inilah, pemerintah memberikan keleluasaan wewenang kepada militer untuk melakukan pengamanan negara. Kebijakan itu dituangkan dalam Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB), sementara banyak kalangan dan mahasiswa justru kecewa dengan kebijakan tersebut.

Mahasiswa dalam jumlah besar pun memutuskan untuk turun ke jalan. Mereka menuntut agar pemerintah mencabut kembali UU PKB untuk menghilangkan dwifungsi ABRI/TNI. Melalui aksi demonstrasi, mahasiswa berpikir pemerintah akan memikirkan kembali tuntutan mahasiswa supaya mencabut kebijakan tersebut.

Baca Juga:   Survei: Elektabilitas Prabowo Teratas, Emil Salip Ganjar

Tapi nyatanya semua itu berbanding terbalik, nasib malang justru menimpa para mahasiswa yang melakukan protes. Pada tragedi Semanggi II ini, mahasiswa Universitas Indonesia harus kehilangan seorang pejuang demokrasi mereka, yaitu Yun Hap. Saat iring-iringan mobil tentara makin dekat, tembakan semakin gencar. Para demonstran berhamburan. Mereka mencoba mencari perlindungan diantaranya masuk Kampus Atma Jaya dan Rumah Sakit Jakarta (RSJ), ada beberapa orang lainnya melakukan perlawanan.

Aksi mengenang tewasnya Yun Hap, yang tertembak pada tragedi Semanggi II. (dok.Istimewa)

Saat pasukan tentara mulai menembak ke arah demonstran, Yun Hap menghindar bersama dua kawannya, Kokom dan Arif. Namun, karena keadaan kacau mereka terpisah satu sama lain. Kokom dan Arif akhirnya bertemu kembali di RSJ sekitar pukul 22.30, tetapi Yun Hap hilang tak ada kabar, tidak jelas ada di mana.

Kawan-kawan Yun Hap baru mendapat kabar keberadaannya pada 00.30 dini hari. Bukan di Rumah Sakit Jakarta atau Kampus Atma Jaya, melainkan di RS Cipto Mangunkusumo, Salemba. Nahas, mahasiswa Fakultas Teknik UI itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Sebuah lubang akibat tembakan menganga di punggung kiri atasnya.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password