Sejarah 7 September : Dibunuhnya Munir, Sang Pejuang HAM

Sejarah 7 September : Dibunuhnya Munir, Sang Pejuang HAM 18
Keras Terhadap Ketidakadilan, Munir Dibungkam Selamanya, Bosscha.id

Bosscha.id-Hari ini 15 tahun yang lalu, seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir dibunuh di atas pesawat. Munir Said Thalib, adalah seorang aktivis pejuang HAM. Sebagai seorang aktivis HAM, Munir banyak menangani berbagai kasus, terutama kemanusiaan dan pelanggaran HAM.

Beberapa kasus yang pernah Munir tangani yaitu pada kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak melawan pemerintahan Indonesia untuk memerdekakan Timor timur dari Indonesia pada 1992, kasus Marsinah (seorang aktivis buruh) yang dibunuh oleh militer pada tahun 1994, menjadi penasehat hukum warga Nipah, Madura, dalam kasus pembunuhan petani-petani oleh militer pada tahun 1993.

Munir juga pernah mejadi penasehat hukum para korban dan keluarga Korban Penghilangan Orang secara paksa, terhadap 24 aktivis politik dan mahasiswa di Jakarta pada tahun 1997 hingga 1998, penasehat hukum korban dan keluarga korban penembakan mahasiswa di Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999), penasehat hukum dan koordinator advokasi kasus- kasus pelanggaran berat HAM di Aceh, Papua, melalui Kontras. Termasuk beberapa kasus di wilayah Aceh dan Papua yang terjadi akibat kebijakan operasi Militer.

Oleh karena Sikap berani dan sigapnya dalam menentang ketidakadilan oleh beberapa pihak pada masa pemerintahan Orde Baru, membuat Munir tak disukai oleh pemerintah. Dirinya menjadi sasaran dan lingkaran merah dari pihak intelijen karena dianggap berbahaya. Munir juga sering mendapat banyak ancaman dari beberapa orang, namun itu sama sekali tak membuatnya gentar.

Kecintaan Munir terhadap dunia hukum, membuat dirinya ingin belajar lagi lebih dalam tentang hukum di Universitas Utrecht. Lalu Munir pun berencana melanjutkan pendidikannya ke Amsterdam, Belanda. Lalu pada Senin, 6 September 2004 malam pukul 21.55 WIB, Munir berangkat menuju Belanda menggunakan pesawat Garuda, dengan Penerbangan GA-974, lepas landas dari Jakarta.

Baca Juga:   Inilah 6 Tips Memperbanyak Produksi ASI Secara Alami
Sejarah 7 September : Dibunuhnya Munir, Sang Pejuang HAM 19
Dedikasi Munir Akan Keadilan Menuntunnya Menuju Maut, Bosscha.id

Pesawat kemudian transit di Bandara Changi, Singapura, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Negeri Kincir Angin. Lalu 3 jam kemudian awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Sebelumnya Munir sempat bolak balik ke toilet. Pilot pun meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir sempat mendapat pertolongan dari seorang dokter yang duduk di kursi nomor 1J. Munir pun kemudian dipindahkan ke sebelah bangku dokter itu.

Lalu dua jam menjelang pesawat mendarat di Bandara Schiphol, Munir meninggal dunia. Pesawat kemudian tiba di Bandara Schiphol pada 7 September 2004, sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Karena ada peristiwa kematian penumpang di pesawat, 10 petugas polisi militer kemudian masuk ke pesawat. Untuk sementara, penumpang tidak diperbolehkan turun. Petugas keamanan pun sempat menanyai pilot Pantun Matondang, pramugari dan sejumlah penumpang yang duduk di dekat kursi Munir. Setelah 20 menit berlangsung pemriksaan, penumpang pun dipersilakan turun.

Jenazah Munir pun kemudian juga dibawa turun, namun tetap dalam penanganan otoritas bandara. Petugas berwenang lalu melakukan autopsi. Dan hasil autopsi kelak mengungkap bahwa Munir yang diduga meninggal karena sakit, ternyata salah, karena fakta sesuai hasil autopsi menyatakan bahwa Munir tewas dengan cara diracun.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password