Sejarah 23 Agustus: Lahirnya Sang “Ibu Utama Indonesia”, Ibu Tien Soeharto

Sejarah 23 Agustus: Lahirnya Sang “Ibu Utama Indonesia”, Ibu Tien Soeharto 18
Pada Tanggal 28 April 1996, 2 Tahun Sebelum Lengsernya Soeharto, Ibu Tien Wafat. (Dok.Istimewa)

Bosscha.id-Orang Indonesia mana yang tak kenal dengan sosok Ibu Negara satu ini, Raden Ayu Siti Hartinah atau akrab disapa Ibu Tien ini lahir di Jaten, Karanganyar Jawa Tengah, pada tanggal 23 Agustus 1923.

Beliau adalah istri Presiden Indonesia kedua Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto. Ibu Tien Soeharto merupakan anak kedua dari 10 bersaudara, yang lahir dari pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu.

Masa Kecil Ibu Tien

Masa kecil hidupnya selalu berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti penempatan tugas sang bapak, yang saat itu bertugas sebagai pamong praja. Untuk pertama kalinya di tahun 1925, Ibu Tien ikut ayahnya, yang menempati jabatan baru sebagai Panewu Pangreh Praja (setingkat Camat) ditugaskan ke Jumapolo, sebuah kota Kecamatan di Karanganyar, Solo. Di kota ini, Ibu Tien hampir saja meninggal dunia karena terserang disentri yang memang sedang mewabah saat itu.

Dua tahun kemudian, Ibu Tien kembali pindah. Kali ini bersama keluarganya dia pindah ke Matesih, Kabupaten Karanganyar di kaki Gunung Lawu. Di desa tersebut, Ibu Tien sempat mengenyam pendidikan dasarnya. Tidak berselang lama, Ibu Tien beserta keluarganya kembali pindah ke Solo. Di Solo, Ibu Tien kemudian masuk salah satu sekolah elit, HIS (Holland Indlanche School). Baru setahun berada di Solo, Ia terpaksa harus kembali ke desanya dan meninggalkan HIS. Hal ini terjadi karena ia terserang penyakit cacar yang sangat mengkhawatirkan.

Kemudian Ibu Tien pun menyusul kedua orangtuanya ke Kerjo. Setelah sembuh dari sakit, Ia kembali masuk sekolah. Tentu saja tidak di HIS, melainkan di sekolah Ongko Loro yang ada di desa itu. Sebenarnya setelah tamat dari sekolah Ongko Loro, Ia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena ingin menjadi seorang dokter. Namun sayangnya keinginannya ini tidak bisa terwujud. Ibu Tien akhirnya mengisi hari-harinya dengan kegiatan seperti membatik, belajar menari, menyanyi tembang Jawa serta menulis syair.

Perjuangan Dibalik Layar Ibu Tien Di Masa Penjajahan

Setelah Jepang memasuki kota Solo, kegiatan yang dilakukan Ibu Tien semakin bertambah. Dari mulai mengikuti kursus bahasa Jepang dan ikut bergabung dengan Laskar Putri Indonesia (LPI), organisasi wanita yang bertujuan untuk membentuk pasukan bantuan untuk melayani kepentingan pasukan garis depan dan garis belakang demi suksesnya perjuangan. Di LPI, Ibu Tien ditugaskan untuk menjadi staf yang mengendalikan urusan perlengkapan atau logistik. Selama menjadi anggota LPI, Ia pernah ditempatkan di dapur umum Salatiga untuk membantu kekurangan tenaga di sana. Secara umum, LPI benar-benar menjadi penunjang kesuksesan perjuangan melawan penjajah.

Baca Juga:   Sejarah 14 September: Presiden Amerika ke-3 Tewas Ditembak

Kisah Asmara Ibu Tien

Hingga mencapai usia 24 tahun, Ibu Tien sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya terhadap lawan jenis. Hingga pada suatu saat, utusan keluarga Prawirowihardjo yang merupakan orang tua angkat mantan presiden Soeharto datang ke rumah Ibu Tien dengan maksud untuk melamarnya. Kendati belum pernah bertemu sebelumnya, ternyata gayung bersambut, Ibu Tien langsung menerima lamaran tersebut padahal sebelumnya, Ia selalu menolak lamaran yang kerap datang padanya.

Pernikahan Ibu Tien dan Pak Harto

Akhirnya Ibu Tien dan Pak Harto menikah pada tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Pernikahan disaksikan keluarga dan teman-teman Ibu Tien. Cukup banyak jumlah tamu dari keluarga Soemoharjono yang datang. Sementara Soeharto hanya datang bersama sepupunya, Sulardi dan kakaknya.

Kemudian resepsi dilakuan pada malam harinya, hanya diterangi lampu dan beberapa lilin yang redup. Itu semua dikarenakan pada saat itu Belanda masih sibuk dengan agresi-agresinya, agar tidak mengundang perhatian mereka, resepsi pun digelar dengan pencahayaan yang minim. Meski begitu, suasana pun khidmat luar biasa. Akhirnya resmi lah pernikahan keduanya, meskipun tanpa foto ataupun cerita-cerita soal mas kawin apa yang diberikan Pak Harto kepada istri tercintanya itu.

Tak ada bulan madu bagi mereka, karena tiga hari setelah pernikahan, Soeharto harus kembali ke Yogyakarta untuk berdinas. Mereka pun tinggal di Jalan Merbabu Nomor 2. Seminggu setelah itu, Soeharto harus meninggalkan sang istri karena ditugaskan ke Ambarawa untuk menghadapi serangan Belanda dari Semarang.

Pada 12 Maret 1967, melalui Sidang Istimewa MPRS, Soeharto secara aklamasi diangkat menjadi Presiden menggantikan presiden Soekarno. Ini berarti, status Ibu Tien yang tadinya adalah istri prajurit kini menjadi istri presiden. Dan menyandang predikat sebagai Ibu Negara selama kurang lebih 30 Tahun.

Karena pada tanggal 28 April 1996, atau 2 tahun sebelum Soeharto lengser, Ibu Tien Wafat. Beliau dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah, pada 29 April 1996 sekitar pukul 14.30 WIB. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf G. Manurung, Komandan Brigif 6 Kostrad saat itu. Tak lama setelah wafatnya, Ibu Tien dianugerahi gelar Pahlawan Indonesia.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password