Di Tengah Guyuran Hujan, Demonstran Banjiri Jalan Hong Kong

Di Tengah Guyuran Hujan, Demonstran Banjiri Jalan Hong Kong 18
Foto: Gregor Fischer/DPA via ZUMA Press

Bosscha.id– Di tengah guyuran hujan, ratusan ribu demonstran tetap membanjiri ruas-ruas jalan Hong Kong pada Minggu (18/8/2019).

Mengutip CNN Indonesia, para pengunjuk rasa terlihat tetap bersemangat menggelar aksi damai di bawah lindungan payung walau polisi menghalangi mereka beraksi.

Setelah beberapa pekan berakhir ricuh, demonstrasi pada Minggu ini kembali berjalan damai. Jumlah pengunjuk rasa pun dilaporkan meningkat drastis hingga 1,7 juta orang pada malam hari.

Kepolisian menyatakan bahwa izin sebenarnya hanya dikeluarkan untuk unjuk rasa di taman. Di lokasi tersebut, demonstran mencapai 128 ribu, tak termasuk yang berhamburan ke jalan.

Hingga aksi berakhir pada Senin (19/8) pagi, tak terlalu banyak konfrontasi langsung antara kepolisian dan massa.

“Hari sudah sangat panjang dan melelahkan, tapi melihat banyak orang datang di tengah hujan, berarak demi Hong Kong, memberi kekuatan buat semuanya,” ujar seorang demonstran, Danny Tam, kepada AFP.

Danny sendiri mengaku terharu ketika melihat para pengunjuk rasa tetap beraksi dengan damai dan tak ada pihak yang memprovokasi hingga kepolisian harus bertindak seperti pada demonstrasi sebelumnya.

Kepolisian memang dilaporkan kerap menembakkan gas air mata, melemparkan granat, hingga melakukan pemukulan terhadap demonstran untuk membubarkan massa.

Baca Juga:   Serukan Perdamaian di Yaman, Putin Kutip Ayat Alquran

Tak ayal, rangkaian demonstrasi di Hong Kong ini kerap berakhir ricuh karena para pengunjuk rasa juga terus melawan.

Rangkaian demonstrasi ini sudah bermula sejak dua bulan lalu. Awalnya, para demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China.

Para demonstran tak terima karena menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong sebagai wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan rancangan undang-undang ekstradisi, demonstrasi itu pun berkembang dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari China.

Source: CNN Indonesia


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password