Bos Facebook Mark Zuckerberg Disebut Orang Paling Berbahaya di Dunia

Bos Facebook Mark Zuckerberg Disebut Orang Paling Berbahaya di Dunia 18
Facebook CEO Mark Zuckerberg. Foto: techcrunch.com

Bosscha.id– Mark Zuckerberg sempat dipuji karena inovasi Facebook untuk mengkoneksikan manusia melalui platform. Namun kini Mark Zuckerberg dilabeli sebagai orang yang paling berbahaya di dunia.

Seperti dilansir CNBC Indonesia, label ini diberikan oleh Profesor Sekolah Universitas New York Scott Galloway. Ia memberikan label tersebut atas rencana Facebook mengintegrasikan layanan berbagai pesannya: WhatsApp, Instagram dan Facebook Messenger.

Mark Zuckberg punya mimpi besar agar layanan ini bisa berjalan pada infrastruktur teknis back-end yang sama pada 2020. 

“Mark Zuckerberg sedang mencoba untuk mengenkripsi tulang punggung antara WhatsApp, Instagram dan platform inti, Facebook, sehingga ia memiliki satu jaringan komunikasi di 2,7 miliar orang,” kata Galloway dalam wawancara Bloomberg dan dilansir dari CNBC International, Senin (19/8/2019).

“Apa yang salah? Gagasan bahwa kita akan memiliki satu individu yang membuat algoritma untuk tulang punggung terenkripsi 2,7 miliar orang menakutnya, terlepas dari niat orang itu.”

Menurut Facebook ada 2,7 miliar lebih yang menggunakan platform Facebook, WhatsApp dan Instagram setiap bulan.

Scott Galloway menambahkan pengguna harus peduli tentang gagasan ini karena memiliki pengaruh signifikan terhadap platform di mana miliaran pengguna Facebook di seluruh dunia mengkonsumsi informasi setiap hari. 

Baca Juga:   Serukan Perdamaian di Yaman, Putin Kutip Ayat Alquran

“[Mark Zuckerberg] juga belum menunjukkan kemampuan atau kemauan untuk memastikan mesin tersebu tida dipersenjatai oleh aktor jahat,” ujar Galloway.

Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah kuasa Mark Zuckerberg di Facebook. Zuckerberg memegang 60% saham suara Facebook. Artinya, ketika dia melakukan sebuah kesalahan, tidak ada yang bisa memecatnya.

Pada akhir Juli, Departemen Kehakiman AS mengatakan pihaknya membuka tinjauan antimonopoli beberapa perusahaan teknologi terbesar di negara itu, menurut laporan oleh Wall Street Journal.

Source: CNBC Indonesia

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password