Sejarah 12 Agustus : Lahirnya Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta

Sejarah 12 Agustus : Lahirnya Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta 19
Sosok Bung Hatta Sang Bapak Koperasi Indonesia, sumber foto : IDNtimes

Bosscha.id-Tanggal 12 Agustus Mohammad Hatta lahir dengan nama Mohammad Athar, atau lebih dikenal dengan sebutan Bung Hatta dan julukannya bapak koperasi Indonesia. Bung Hatta seorang tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden pertama Indonesia.

Bung Hatta lahir di Fort De Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatra Barat), Hindia Belanda, pada tanggal 12 Agustus 1902. Bung Hatta memiliki enam saudara perempuan. Dan juga merupakan anak laki-laki satu-satunya.

Pendidikan Bung Hatta

Bung Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formalnya di sekolah swasta. Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga. Kemudian Ia melanjutkan pendidikannya di ELS (Europeesche Lagere School; kini SMA Negeri 1 Padang) sampai dengan tahun 1913. Kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sampai tahun 1917.Selain pengetahuan umum, Bung Hatta telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya, bahkan sempat belajar ke Al Azhar, Mesir.

Pada tahun 1921, dengan penuh perjuangan, akhirnya Bung Hatta mendapatkan beasiswa dari Yayasan van Deventer. Ia resmi menjadi mahasiswa Handels hoge school atau Sekolah Tinggi Bisnis di Rotterdam pada 19 September 1921. Ia lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula ia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Ia pun masuk jurusan itu, karena terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Di awal kedatangannya di Belanda, di sana Ia langsung aktif dalam perkumpulan Indische Vereeniging, sebuah organisasi mahasiswa Hindia Belanda yang sedang bersekolah di sana.

Pada 19 Februari 1922, Indische Vereeniging berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging. Seiring dengan itu, juga direncanakan penerbitan majalah organisasi bernama Hindia Poetra. Hatta ditunjuk menjadi bendahara dengan salah satu tugas menghimpun dana untuk Hindia Poetra. Kendati sibuk sebagai bendahara, Hatta juga menyiapkan tulisan untuk edisi perdana, Januari 1923. Lantaran terlalu panjang, bagian kedua dimuat dalam Hindia Poetra edisi kedua, Maret 1923. Topik tulisan itu adalah ketidakadilan dalam penetapan nilai sewa tanah rakyat ke perkebunan milik orang-orang Belanda. 

Baca Juga:   Anda Insomnia? Inilah 5 Tips Mencegahnya

Bung Hatta Di Dalam Penjara

Bung Hatta juga pernah di penjara, dengan tuduhan menghasut publik untuk melawan pemerintah. Pada 23 September 1927, bersama Nazir Sutan Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, rekannya di Indonesische Vereeniging, Hatta ditangkap polisi Belanda. Jaksa juga menuduh Perhimpunan Indonesia bekerja sama dengan kaum komunis dalam menggalang pemberontakan di Hindia Belanda pada 1926. Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Lalu pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan.

Sejarah 12 Agustus : Lahirnya Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta 20
Bung Hatta Bapak Koperasi Indonesia, Bosscha.id

Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa.

Bung Hatta Dan Keterlibatannya Dalam Panitia Kemerdekaan

Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya.

Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.

Soekarno mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.

Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password